Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


10 Komentar

Curhat Antar Sahabat

Persahabatan bagai Kepompong… (Sumber foto : Pixabay)

……

Persahabatan bagai kepompong

mengubah ulat menjadi kupu-kupu

persahabatan bagai kepompong

hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong

maklumi teman hadapi perbedaan

persahabatan bagai kepompong

na na na na na..

……

Baca lebih lanjut


19 Komentar

Titip Rindu Buat Ayah

Hai.. Apa kabar, Juni…
Juni telah datang lagi, demikian pula tema arisan Blog Gandjel Rel, kali ini dari 2 member keren Gandjel Rel yaitu mba Rizka AlynaAlley , yaitu dengan tema “Sesuatu yang paling kamu kangenin”

Hm… banyaaaak…. Yang pertama kangen bedug maghrib! Haha… Maafkaan…, itu sih guyonan orang puasa ya.. 🙂

Tapi memang banyak yang kurindukan di Bulan Romadhon begini. Terutama kebersamaan dengan Ibu, kakak, adik dan para krucils yang sudah semakin besar, dan mau tak mau kebersamaan semacam itu menjadi hal yang langka.

Selain itu tentunya suasana nikmat ibadah di tanah suci, yang entah mengapa selalu menyeruak rasa rindu untuk kembali menikmatinya di bulan suci begini… Hm.., tapi pertanyaannya kan yang paling ya… Jadi aku harus memilih salah satu dari banyak hal yang kurindukan itu..hehe…

OK lah… Ini bulan Juni. Dan setiap bulan Juni tiba, kerinduan yang sangat akan sosok tercinta itupun muncul di hati.  Bukan berarti di waktu-waktu lain tak lagi hadir bayangnya, namun di awal Juni selalu saja lebih tebal kerinduan itu kurasa.

(alm) Bp. Soeranto Prijowidjojo

Almarhum Bapak.  Ya, itulah sosok yang selalu kami rindukan di awal bulan Juni, yang menjadi bulan kelahiran sekaligus bulan kepergian beliau, 19 tahun yang lalu.  Ya, tanggal 3 Juni 1931 adalah hari kelahiran lelaki tercinta yang mengukir jiwa ragaku, dan kepergiannya adalah di 2 Juni 1998, sehari sebelum usia beliau genap 67 tahun.

Bapak, selalu menjadi sosok istimewa buat kami. Panutan yang menanamkan nilai-nilai penting bagi kami sejak kami semua kecil dulu.  Disiplin adalah salah satu yang selalu ditekankannya. Kami harus merencanakan dengan baik kegiatan yang akan kami lakukan, dan berusaha menepati rencana yang telah kami buat itu. Bahkan dalam kegiatan santai, misalnya piknik keluarga. Beliaulah yang pertama kali siap dan selalu berusaha agar kami menepati waktu-waktu yang telah direncanakan sebelumnya.  Bahkan saat mengantarku ke suatu kegiatan, kalau aku bilang acara mulai jam 7, maka paling lambat setengah jam sebelumnya sudah harus standby di lokasi. Walhasil, aku seringkali menjadi orang pertama yang datang di suatu acara.  Kebiasaan itu terbawa sampai kini, tak nyaman rasanya datang di suatu acara yang sudah banyak pesertanya alias terlambat dari jadwal, meskipun kenyataannya acara seringkali belum dimulai alias jam karet 🙂

Mempererat tali silaturahmi juga menjadi salah satu agenda beliau.  Sebelum bulan puasa, seperti biasa keluarga mengadakan acara nyadran bersama. Seringkali hanya keluarga kami saja, tapi kadangkala bersama-sama dengan keluarga besar Bapak.  Nah, tidak hanya berkunjung ke sarean-sarean para leluhur saja, acara itu sekaligus menjadi acara temu keluarga, saling mengenalkan dan mempererat silaturahmi dengan anggota-anggota keluarga yang jarang bertemu karena domisili yang berjauhan.

Demikian pula setelah lebaran.  Sedapat mungkin kita semua harus hadir pada acara Halal bi halal Keluarga Besar, namun bila berhalangan hadir maka Bapak akan memimpin keluarga kami melakukan ujung-ujung / silaturahmi dari rumah ke rumah, terutama kepada para sesepuh, eyang-eyang dan Pakde-Bude.  Semacam tour dari kota ke kota yang sebenarnya melelahkan, namun selalu meninggalkan rasa gembira di hati sehingga selalu kami tunggu-tunggu waktu pelaksanaannya.. 🙂

Aku memang dekat dengan alm Bapak, mungkin karena banyak kesamaannya. Yang jelas, dari kelima putra-putrinya, aku satu-satunya yang nurun berambut ikal seperti beliau. Sifat kami sama-sama keras dan lebih memilih diam saat marah. Tapi herannya, jarang banget aku bentrok dengan beliau… Bentroknya malah dengan yang lain, hahaha…

Banyak sekali kenanganku dengan Bapak, sejak kecil hingga masa-masa awal ku di dunia kerja yang ternyata juga masa akhir beliau bersama kami. Kumasih ingat, saat pertama kali belajar masak adalah saat tinggal berdua Bapak di Pekalongan karena ibu belum bisa pindah tugas dari Semarang, kakak-adikku juga masih di Semarang. Oseng-oseng kacang panjang adalah masakan pertamaku, yang dinikmati beliau dengan senyum dan manggut-manggut, meskipun sebenarnya agak keasinan! Haha…

Selain itu yang paling kuingat juga adalah nasehat beliau ketika aku galau memilih jalur karir di awal masa kerjaku, tetap di fungsional atau pindah struktural -dengan konsekwensi suatu saat jenjang kepangkatan mentok– dan beliaulah yang memberikan pertimbangan-pertimbangan yang akhirnya memantabkan hatiku untuk menerima tawaran struktural, yang alhamdulillah lancar hingga kini.

Sayangnya… setelah kucari-cari di antara seabreg foto-foto lama, tak banyak fotoku berdua saja dengan beliau… Hiks.. Tapi tak apalah, minimal masih bisa kunikmati senyum teduh beliau dari foto-foto yang ada… Atau kurangkaikan kata untuk mengenang beliau, sekedar menyalurkan kerinduan ini… *lalu mewek…

Itulah sekelumit kenanganku dengan alm Bapak -yang paling kurindukan saat ini- dan yang masih akan selalu kurindukan terutama di hari-hari istimewa dan di Bulan Juni, bulan kelahiran dan kepergiannya. Kutitipkan rinduku lewat doa-doa yang kulantunkan bagi beliau, aku serahkan penjagaannya pada Allah SWT, insya Allah  ditempatkannya beliau di tempat terindah di sisiNYA… Aamiin…


33 Komentar

Masakan favorit saat Ramadhan

Hai… Pa kabar, teman-teman..?

Alhamdulillah kita sudah berjumpa kembali dengan Bulan Ramadhan, bulan suci yang tentunya dinanti-nanti oleh kaum muslimin. Selamat menunaikan ibadah di Bulan Ramadhan bagi teman-teman yang menjalankannya yaa…

Ramadhan memang terasa istimewa, baik suasananya..maupun aneka makanan yang disajikan di rumah-rumah kaum muslim. Mungkin bahkan ada menu-menu khusus yang hanya hadir di kala Ramadhan saja.

Bagaimana di rumah kami?

Hm, mungkin agak berbeda dengan yang lainnya, di rumah kami memang tidak ada menu khusus selama Bulan Ramadhan ini.  Semua yang terhidang di bulan ini bisa juga terhidang di luar bulan Ramadhan, baik itu menu takjil, menu berbuka ataupun menu sahurnya.

Kenapa begitu? Entahlah, mungkin karena kebiasaan saja di rumah kami. Bukan berarti tak menghormati bulan suci lho yaa… Luar biasanya bulan Ramadhan adalah bahkan menu biasa terasa istimewa disantap di bulan ini. Mungkin lebih ke suasananya ya?

Nah, kalau ada yang bertanya apa menu favorit di bulan Ramadhan, jadi agak mikir juga ya..hehe.. Mungkin kata favorit di sini kuterjemahkan saja jadi yang sering muncul ya? 🙂 Baca lebih lanjut


61 Komentar

Kenangan Ulang Tahun di Masa Kecilku

Lalang Ungu. “Kenangan masa kecil yang paling membekas di ingatan” merupakan tema arisan link Blogger Gandjel Rel yang kami dapat minggu ini, dari mba Anjar Sundari & mba Nia Nurdiansyah.

Hm…apa ya, kenangan masa kecilku yang tak terlupakan??

Banyaaaak…hehe.. Alhamdulillah aku dibesarkan di tengah keluarga yang hangat dan penuh cerita sehingga rasanya begitu banyak pengalaman hidup berkesan sepanjang masa kecil, masa remaja bahkan di masa dewasa ini.

Salah satunya adalah saat kami merayakan hari ulang tahun dari anggota keluarga kami. Ya, meskipun sederhana -hanya dihadiri keluarga inti saja- selalu ada acara peringatan hari lahir masing-masing anggota keluarga yang saat itu berjumlah delapan orang : Mbah Putri-Bapak-Ibu-lima anak. Eh.. HUT Si Mbah tidak dirayakan ding..karena kami tidak tahu kapan tepatnya hari kelahiran beliau, hehe… Baca lebih lanjut


22 Komentar

Menelusuri Jejak Sejarah Arjati di Kota Pekalongan (2)

Apa kabar, teman..?

Meneruskan tulisan kemarin tentang pengalaman mengikuti kegiatan Arjati Heritage Walk 111 (AHW 111) yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi ke 111 Kota Pekalongan ya…

Setelah menyaksikan salah satu peninggalan VOC di Kota Pekalongan yaitu Benteng Pekalongan yang terletak di Kampung Bugisan, rombongan kelompok II peserta AHW111 dipandu untuk meneruskan langkah menuju destinasi berikutnya yaitu : Baca lebih lanjut


29 Komentar

Menelusuri jejak sejarah ARJATI di Kota Pekalongan

Setiap kali melewati kawasan Jetayu yang merupakan kawasan kota lama Kota Pekalongan, aku suka memandangi gedung-gedung kuno yang masih tampak megah yang ada di sana.

Sudah cukup lama tersirat keinginan untuk mengetahui sejarah panjang gedung-gedung tersebut, namun meluangkan waktu untuk itu merupakan suatu permasalahan tersendiri bagiku. Di samping itu, apa asyiknya menikmati gedung-gedung itu tanpa ada yang membantu menjelaskan sejarahnya? Maka keinginan itupun terpendam beberapa lama.

Lalu tangan Tuhan bekerja. Kesempatan untuk menyusuri jejak sejarah Kota Pekalongan bersama dengan narasumber yang kompeten pun tiba, melalui kerjasama Pemkot Pekalongan dan sejumlah komunitas, diantaranya adalah komunitas Blogger Pekalongan. Ah… ini salah satu berkah bergabung di Komunitas kesayangan ini… Alhamdulillah…

Ya, kesempatan itu adalah turut berpartisipasi dalam ARJATI Heritage Walk 111 yang menjadi salah satu kegiatan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke 111 Kota Pekalongan di Bulan April tahun 2017 ini.

Apa itu ARJATI Heritage Walk 111?

ARJATI itu sendiri adalah singkatan dari ARab-JAwa-TIonghoa, 3 suku / etnis yang dominan ada dan mempengaruhi budaya Kota Pekalongan.

Adapun ARJATI Heritage Walk 111 adalah kegiatan jelajah bagian kota lama yang bertujuan untuk memperkenalkan warisan sejarah dan budaya Kota Pekalongan yang banyak dipengaruhi oleh unsur 3 etnis kepada masyarakat pada umumnya dan generasi muda khususnya.

Acara yang berlangsung pada tanggal 2 April 2017 lalu itu diikuti oleh perwakilan pelajar SMA/SMK/MA se Kota Pekalongan, mahasiswa KKN Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta dan perwakilan komunitas, dengan route : Kantor Dinparbudpora – Gedung Pertani – GOR Jetayu – Gedung Batik TV – Pabrik Limun Oriental – Benteng Pekalongan – Kampung Arab – Kampung Pecinan – Jembatan Lodji lama – Tugu Mylpall – Kantor Pos – Museum Batik. Baca lebih lanjut


29 Komentar

Wedang Apel – Sereh

Sore wingi aku mbukak-bukak maneh tulisan-tulisan lawas nang blog  iki, jebule wis suwe nemen aku ora nulis nganggo basa Jawa.

Lhah, jare karep nguri-uri basa Jawa..lha kok durung bisa ajeg nulis nganggo basa ibuku iki, sanajan mung sewulan pisan..apa maneh kok seminggu pisan pas dina Kamis Jawi kaya sing dingendikaake Pak Gub.. 😦

Amarga saka iku, dina iki tulisanku nganggo basa Jawa maneh, ah… Nanging arep nulis bab apa ya?

Ah iya, wektu iki aku arep nulis bab Apel lan Sereh wae. Lha..ana sesambungan apa antarane Woh Apel karo tanduran Sereh sing biasa kanggo bumbon iku? Baca lebih lanjut