Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

S.a.b.a.r….

7 Komentar

” Assalamualaikum… Boy! Kok ngerem aja sih, di kamar! Ayo dong, ikut kita demo! “
Suara keras Dika mengusik ketenangan kamarku, disusul dengan hempasan tubuh gempalnya di kasur tipis tempat tidurku.  Hah… hawa panas seakan terkumpul di kamar kost sempit ku itu..
“Waalaikumsalam… Demo apaan?” jawabku sekenanya, sambil menutup buku tebal yang sedang kubaca.
“Hah? Demo apaan? Aduh Boy…ketinggalan berita amat sih, kau ini!  Tak terusikkah hatimu dengan film yg melecehkan junjungan kita itu? ” sambil geleng-geleng kepala, raut wajahnya jadi semakin tak enak dipandang mata.
“Ooh.. tentang film itu…”
“Ya ampun, Boy… Cuma begitu reaksimu?? Hah…muslim apaan!” semakin tak sabar dia tampaknya, sambil membelalakkan mata memandangku.
“Eh… jangan mudah menghakimi seseorang, sobat !  Demi Allah hatiku juga sakit merasakan penghinaan pada junjungan kita itu.. ” agak meningkat rupanya nada suaraku, membuat dia mengerutkan keningnya.
“Lalu, kenapa kau menolak ikut demo? Kenapa kau malah diam-diam saja di sini, tak menyatakan sikap apapun? “
Aku menghela nafas panjang,  ” Dik, kau yakin demo yang akan kau ikuti tak akan mengarah ke anarkisme? Kau yakin kalian tak akan terpancing untuk terlibat kerusuhan ? “
” Mungkin saja tidak, tapi.. itu satu-satunya cara kita menyatakan sikap bukan ? ” kata Dika masih tak mau kalah.
” Ada  banyak cara untuk menyatakan kecaman terhadap hal itu, sobat… Tidak harus melalui demo-demo yang bisa jadi malah akan memperkeruh suasana..”
Kuraih kembali buku tebal yang sedang kubaca tadi, menyusuri beberapa halamannya, dan membuka halaman 209 lalu menyodorkan ke hadapan Dika, ” Coba baca ini..”
Wawasan Al-Qur’an terhadap pelecehan terhadap nabi Muhammad SAW ? “
Aku mengangguk, lalu memberi waktu pada Dika untuk membaca Bab 16 dari buku ” Membumikan Al-Qur’an ” buah karya M. Quraish Shihab itu.  Aku yakin, penjelasan beliau dalam bab itu, akan membuka wawasan sahabatku itu, tentang tuntunan Kitab Suci kita dalam mensikapi upaya-upaya pelecehan terhadap junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Paling tidak, ada 2 hal pokok yang menyebabkan terjadinya pelecehan itu :
  1. Keangkuhan yang dilahirkan oleh keterpedayaan akan kemewahan duniawi, sebagaimana Firman-NYA dalam QS. Al-Jatsiyah [45]: 35 .
  2. Ketidaktahuan, baik karena informasi yang keliru maupun karena tidak diterimanya informasi sama sekali.  Surat-surat dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa sikap buruk kaum musyrik adalah akibat mereka tidak tahu, antara lain : QS. Al-Maidah [5]: 104, Al- An’am [6]: 37, Al-A’raf [7]: 131, Al-Anfal [8]: 34, At-Taubah [9]: 9 dan masih banyak yg lainnya.
Pada intinya, tuntunan umum dari Al-Qur’an menyangkut sikap menghadapi pelecehan tersebut adalah :
  1. Meningkatkan informasi yang benar
  2. Terus berdakwah menjelaskan ajaran Islam -dalam bentuk lisan, tulisan dan tingkah laku- yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah dan nilai-nilai Islam
  3. Berpaling / menampakkan tanda-tanda tak menyetujui sikap lawan-lawan Islam yang melecehkan itu.
  4. Menahan emosi agar tidak bertindak yang dapat merugikan citra umat Islam dan jalannya dakwah
  5. Memutuskan hubungan dengan mereka sambil melanjutkan dakwah
Yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa siapapun yang tidak terlibat dalam pelecehan itu harus tetap dihormati dan tidak boleh diganggu atau dilecehkan tanpa sebab, bahkan Al-Qur’an berpesan untuk berlaku adil terhadap siapapun, walau terhadap kelompok yang dibenci.
Keheningan kamarku kembali pecah dengan suara deheman Dika sambil menutup buku itu, namun tetap dipegangnya.
‘Boy, maafkan aku yang sudah melemparkan tuduhan padamu ya? ” katanya setelah sejurus terdiam menatapku.
Aku hanya mengangguk, sambil mengulas senyum.
“Aku masih ingin mempelajarinya lebih jauh, Boy… Boleh kubawa pulang?” pintanya.
Aku kembali mengangguk, ” Ya, bawalah..  Setidaknya, kau akan tahu ada banyak cara kita mensikapi segala sesuatu, tak hanya dengan mengumbar emosi semata..”
Dika membalas senyumku… dan hawa panas tak lagi begitu terasa di kamar kost ku yang sempit, berganti kesejukan di hati kami…
Perintah bersabar bukan berarti menerima penghinaan dan berlagak memaafkanSabar adalah menahan gejolak demi mencapai yang baik atau lebih baik.  Ia tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat mentalnya.  Sabar bukanlah kelemahan, sebab jika anda tidak mengambil tindakan yang tepat karena khawatir dari siapa yang lebih kuat daripada anda, maka itu bukanlah kesabaran.
***
Ini hanya sebuah fiksi tentang opiniku pribadi,  bersumber dari pemikiran M. Quraish Shihab. Mohon maaf bila ada yg tak berkenan di hati.  Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai  hal ini,   silahkan membaca “Membumikan Al-Quran – Jilid 2” , Penulis : M. Quraih Shihab, Penerbit Lentera Hati, Januari 2011.
Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

7 thoughts on “S.a.b.a.r….

  1. saya sepakat dengan sabar itu mbak

    terkadang kita menyuarakan juga tidak harus dengan demo, tapi dengan lebih memahami dan memilih cara yang lebih bijak ^^

    yaah..itu sih pendapat kita ya..mungkin banyak pula yg berpendapat lain 🙂

  2. makasih Mba Mechta buat sharingnya. Semoga kita bisa bersabar dan menahan diri dari kegiatan yang Semata didorong emosi. Filmnya memang menyakitKan hati banget.

    Terus terang aku blom nonton Dan, takut tak kuat menahan ‘kemropok ati’… Semoga Allah memberi kita lebih banyak kesabaran..

  3. saya sempat nonton mbak lalu saya tutup
    jelek filmnya …bukan cuma alur ceritanya, tapi teknisnya pun abal2 banget.
    saya senang membaca tulisan yang tidak provokatif berkaitan dengan hal ini,
    walaupun saya juga harus mengingatkan diri bahwa perbedaan pendapat tentang ini antar umat Islamsendiri sudah pasti.
    saya terusik, iya.
    tapi tidak ada n iatan untuk melakukan sesuatu yang gimana gitu, cukuplah mendoakan mereka
    Toh Gusti Allah ora sare, DIA pasti melihat semua ini,

    Emang gak mudah sih, lha wong untuk hal2 kecil saja saya masih tidak bisa sabar,
    tapi untuk urusan besar seperti ini, saya memilih mengembalikannya pada Sang Pemilik Urusan,
    biarlah Allah yang menguruskannya untuk kita 🙂

    Gusti Allah ora sare… setuju banget, Niq… dialah yg paling berhak memutuskan & mengadili… Dan semoga kita diberikan kekuatan untuk menahan emosi yg berlebih…

    • saya setuju sama Mbak nique’..

      pembuatan acak2an suara latar nya ancur ketahuan sekali cuma mau buat ricuh….

      syukurlah..menonton dengan tetap mengkritisi dan mampu menjaga emosi ya..

  4. Saleum,
    Sewaktu aku ngeliat videonya, awalnya sih agak tensi juga. Namun aku lalu berfikir secara cermat bahwa ada Allah yang akan membalasnya. Namun terhadap demo yang ada itu aku merasa bersyukur juga karena mereka telah berkata pada dunia bahwa islam dan junjungannya pantang dihina.

    betul..sepanjang tak berubah jadi brutal dan malah tak mencerminkan nilai2 yg kita anut..

  5. Terimakasih Jeng Mechta, opini yang sungguh membangun, belajar sabar secara elegan dari postingan Jeng mechta. Salam

    sekedar opini awam, bu.. 🙂

  6. kl tentang IOM ini, siapa yang gak geram…. jelas2 film pengacau, tapi benar kita harus sabar….

    terima Kasih ya Mbak,,, udah ngdem2in…..

    geram juga sebenarnya..kok gak ada habisnya niat buruk itu..benar2 sudah ditutup hatinya mungkin.. maaf, ini sih sekedar opini awam saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s