Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Berkaca pada kisah kemiskinan Dahlan kecil

8 Komentar

” Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya “
Itu adalah sebuah kalimat pernyataan yang tertulis di halaman awal Novel Sepatu Dahlan, salah satu Trilogi Novel Inspirasi karya Khrisna Pabichara, yang menjadi pilihan bacaanku di akhir pekan kemarin.ย  Sebelumnya, aku memang belum pernah membaca karya penulis ini, dan bila novel ini merupakan salah satu contoh sukses tulisannya, maka aku akan mencari buah karyanya yang lain ๐Ÿ™‚
Aku memang kesengsem dengan kepiawaian penulis menuturkan alur demi alur cerita masa kecil nan keras dalam rengkuhan lengan kemiskinan, yang harus dialami oleh Dahlan – tokoh utama yang terinspirasi dari tokohย  nyata Dahlan Iskan ini.ย  Kemahirannya menguntai kata membuatku enggan memutus bacaan itu sebelum tuntas semua kisahnya…dan sukses membuat banjir air mata dari bab awal hingga akhir! *eh, ini sih mungkin karena aku memang termasuk pembaca yang mata yuyunen, haha…*
Buku ini bukan sekedar cerita tentang kemiskinan biasa, namun kemiskinan yang di’nikmati’ secara istimewa oleh para pelakunya yg selalu berupaya untuk berpegang teguh pada keimanan. ย  Sebagaimana nasehat Mbak Sofwati pada Dahlan dan Zain, teguran bagi adik-adiknya yang terpaksa mencuri sebatang tebu sebagai pengganjal perut lapar : “Ojo wedi melarat.ย  Yang penting tetap jujur! Kita boleh miskin harta, tapi ndak boleh miskin iman “.
Kemiskinan, bukan alasan untuk tak sekolah dan mencapai prestasi yang membanggakan.ย  Perjuangan Dahlan kecil yang menempuh jarak dari rumah ke sekolahnya dengan berjalan kaki tanpa sepatu, membuahkan mimpi sederhana yg terus diperjuangkannya dengan sepenuh hati:ย  sepasang sepatu dan sebuah sepeda.ย  Mimpi sederhana yang pada akhirnya justru mengungkit potensi untuk menciptakan sederet prestasi : juara kelas, pengurus persatuan santri, kapten tim dan pelatih bola voli.
Kemiskinan, justru mempererat kebersamaan dalam sebuah keluarga.ย  Sosok ayah yang pendiam namun penuh tanggung-jawab, sosok ibu penuh kasih yang harus pergi meninggalkan kerinduan yang dalam, sosok kakak-kakak perempuan yang penuh teladan, juga sosok adik yang menemani dalam keseharian, kesemuanya mempunyai andil membentuk sosok Dahlan kecil yang tertempa kerasnya hidup.
Kemiskinan, tetap menyisakan ruang untuk persahabatan.ย  Persahabatan Dahlan dengan Kadir, Arif, Imran, Maryati dan Komariyah tergambarkan dengan apik.ย  Sahabat yang saling mendukung untuk sama-sama berprestasi, saling membantu, saling menguatkan.
Kemiskinan juga bukan alasan untuk menepis hadirnya cinta monyet.ย  Ketertarikan malu-malu antara Dahlan & Aisha, cukup memikat.ย  ” Di jantung rinduku kamu adalah keabadian, yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan..” itu sepotong ungkapan rasa Dahlan pada pemilik mata indah yang disukainya ituย  ๐Ÿ™‚
Begitulah…ada banyak hal yg kunikmati dengan membaca kisah ini,ย  sambil berkaca pada cara Dahlan kecil menjalani kemiskinannya dengan tegar, belajar pada aliran Sungai Kanal yang mengalir di Desa Kebon Dalem : seperti itulah hidup, barangkali, harus mengalir dengan lebih sabar !
***
Catatan tentang sebuah buku : Sepatu Dahlan, Penulis : Khrisna Pabichara, Penerbit : Noura Books ( PT. Mizan Publika).ย  *Tak sabar menanti kesempatan membaca dua judul lanjutannya : Surat Dahlan & Kursi Dahlan…. *

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

8 thoughts on “Berkaca pada kisah kemiskinan Dahlan kecil

  1. kemiskinan yang dinikmati malah mendatangkan syukur dan berkah ya Mba Mechta. ๐Ÿ™‚

    dan siapa yg bersyukur…akan ditambah nikmatnya…itu janji-NYA, bukan ? ๐Ÿ™‚

  2. dijadikan contoh dan teladan ya pengalaman pak dahlan ini

    sulit..tapi bukan juga mustahil kan ya? ๐Ÿ™‚

  3. Auntie, sedikit revisi, si puisi itu untuk Aisha, bukan untuk Maryati *coz baru selesai baca juga hihihihi*.
    Ada lomba menulis surat untuk pak Dahlam lho Auntie, ikutan yuks ๐Ÿ˜‰ ini infonya : http://www.facebook.com/notes/noura-books/lomba-menulis-surat-dahlan/379667752101995

    • Thx..Orin.. iya, maksudku Aisha si mata indah itu, tapi kok nulisnya jadi maryati ya.. haha… Yups, akan sgra direvisi setelah sampai rmh nanti… thx juga infonya ya say… ๐Ÿ™‚

  4. Aku juga baru tamat membaca novel ini Mbak Mechta. Hadiah dari Pakde..Dan benar kalau kisah ini sebagian adalah cerita hidup Pak Dahlan, aku mengerti mengapa dia sukses sekarang dan mengapa kakinya masih menginjak bumi..:)

    ya mbak…mungkin sebagian perjalanan hidup yg pernah dijalaninya itu yg membuat kaki beliau masih menginjak bumi ya… ๐Ÿ™‚

  5. Membaca otobiografi yang memperkaya batin ya Jeng, terima kasih tlah berbagi. Salam

    demikianlah Bu…membuat kita makin mensyukuri hidup kita dan malu kalau masih saja sering mengeluh ya..hehe… trimakasih kembali, Bu Prih ๐Ÿ™‚

  6. potret kemiskinan ternyata gak selalu menampilkan kisah sedih ya.. Kemiskinan juga bs mempererat kebersamaan & kisa bahagia lainnya.. ๐Ÿ™‚

    tergantung pelakunya juga ya Chi… ๐Ÿ™‚

  7. kisah nyata yang mengandung banyak arti kehidupan
    ketika kita mau dan mampu bersyukur , maka nikmat itu akan terasa bertambah ya Mechta
    terimakasih telah berbagi kisah nyata ini …
    semoga kita semua termasuk orang2 yang bersyukur, aamiin
    salam

    begitulah Bunda..dg bercermin pd kisah org lain..mengingatkan kita utk mensyukuri nikmat yg sdh kita terima ya Bun… Semoga kita termasuk ahli syukur.. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s