Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Naik Kereta Api, siapa takut…?

15 Komentar

Naik kereta api..tut..tut..tuut…

siapa hendak turut

ke Bandung, Surabaya

bolehlah naik dengan percuma

ayo kawanku lekas naik…

k’retaku tak berhenti lama

Cepat kretaku jalan..tut..tut..tuut…

banyak penumpang turut

K’retaku sudah penat

karena beban terlalu berat

di sinilah ada setasiun

penumpang semua turun

***

Itu lagu anak-anak yang akrab dengan kita ya… apakah aku akan mengajak teman-teman untuk bernostalgia menyanyikan lagu itu? atau ingin membahas tentang lagu  yang kabarnya sempat di cap sebagai salah satu lagu anak yang membodohi?

Sebenarnya bukan dua-duanya kok…  😉

Dalam tulisan ini, aku hanya ingin rerasan bahwa akhir-akhir ini, aku kembali menemukan kenyamanan naik Kereta Api ( KA ), sehingga bila kondisi dan jadwal perjalanan memungkinkan maka aku lebih memilih KA sebagai alat transportasi ke luar kota, hehe…

Mengingat kembali masa kecil, KA adalah angkutan yang cukup sering kami gunakan keluar kota. Pengalaman naik kereta dari Semarang ke rumah Oom di Surabaya bersama ayah ibu dan keempat saudaraku semasa kami kecil dulu masih menjadi kenangan indah kami.

Namun, pernah ada suatu masa aku ‘ngambeg’ alias putus hubungan dengan KA ini lho… Ceritanya waktu itu aku akan pulang ke kotaku setelah tilik keluarga di Semarang.  Seperti biasa, KA Kaligung menjadi pilihanku sore itu.  Namun rupanya minggu sore itu penumpang dari Stasiun Poncol cukup membludag, sehingga aku terjebak diantara gerombolan penumpang yg berebut naik melalui pintu kereta yg relatif kecil itu, lalu salah satu lenganku  kecengklak (hm..apa ya istilah Indonesianya? ) akibat jarak pintu kereta & lantai peron yang cukup tinggi 😦

Setelah itu aku sempat sedikit trauma dengan KA karena merasa takut pengalaman tak mengenakkan itu terulang kembali.  Selama beberapa tahun akupun beralih pada jasa travel (meskipun harus punya banyak stok sabar karena urusan antar jemput penumpang yg biasanya memakan banyak waktu itu..) sebagai alternatif transportasi ke luar kota.

Namun, sejak ada reformasi pelayanan di PT KAI, maka KA kembali menjadi alat transportasi yang nyaman buatku.  Pertama kali kubuktikan hal itu ketika beberapa bulan lalu ‘terpaksa’ menemani si bos naik KA Harina saat dinas ke Bandung, ternyata memang sudah banyak perubahan yang positif.

Hanya calon penumpang yang boleh menunggu di peron menyebabkan stasiun terasa lebih nyaman…

Situasi dan kondisi di dalam KA bersih dan nyaman, karena tidak lagi ada penumpang yg main serobot seenaknya ataupun para pedagang asongan yang hilir mudik di dalam KA.  Begitu juga suasana di stasiun jauh lebih bersih dan teratur.  Hanya penumpang pemegang tiket KA yang boleh masuk ke ruang peron sehingga tak terlihat orang berjubel bercampur antara penumpang-pengantar-penjemput.  Selain itu, sudah ditinggikannya sebagian lantai peron juga sangat mendukung kemudahan menaiki KA, walhasil tak terjadi lagi insiden lengan ter-cengklak  yang sempat membuatku trauma dulu itu 🙂

Itulah sebabnya aku kembali memilih KA sebagai pilihan alat transportasi yang relatif murah dan nyaman, meskipun harus berpergian sendiri apalagi saat pergi  ramai-ramai , aku tak risau lagi… Lagi pula, dengan berkereta aku bisa duduk nyaman sambil menikmati pemandangan alam / daerah pinggiran yang biasanya lebih sering kita dapati dibandingkan naik bus / angkutan darat lainnya yang menyajikan hiruk pikuk suasana perkotaan…

Pantai Ujungnegoro – Batang, penyejuk mata antara perjalanan Pekalongan – Semarang

Bisa cuci mata dengan pemandangan yang ijo2… segeeeer…

Etapi…kalau perjalanan jauh yg memerlukan waktu lebih dari 5 jam, untuk lebih nyamannya  haruslah memilih-milih jenis KA yang akan kita naiki.. jangan sampai tempat duduk yg keras & kegerahan sepanjang perjalanan mengikis habis kegembiraan perjalanan kita itu..hehe…

Itu salah satu moda transportasi pilihanku (saat ini), apakah pilihanmu, teman?

***

Notes : Lirik lagu bersumber dari Wikibuku-Lirik lagu lagu anak Indonesia

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

15 thoughts on “Naik Kereta Api, siapa takut…?

  1. saya juga seneng naik kereta api mbak

    namun sekarang harus pesen dulu, kalo tidak pesen sering nggak dapetnya, apalagi utk KA yang jaraknya jauh

    iya…jangan lupa bawa KTP ya… hehe…

  2. Sayangnya tempat-tempat tujuan saya jauh-jauh Mba Mechta. Ke Surabaya sampe 9 jam lebih. Dulu juga suka naik kereta api sebenernya…

    klo jadwal mepet yo kudu mabur, Dan… klo bisa nyante..baru naik KA…tapi milih2 sing kursine empuk n adem ya..hehe…

  3. Saya juga lebih suka naik kereta api daripada bus atau travel .
    Waktu ke Jogya saya juga naik kereta api, demikian pula kalau ke Cimahi. bahka ke Jember kemarin juga naik kereta api PP. Lebih nyaman dan enakan naik KA.
    Saya agak takut naik bis atau travel. hanya ke Semarang kemarin saya terpaksa naik travel.

    Salam hangat dari Surabaya

    lebih nyaman nggih ‘Dhe… waktu tempuh juga relatif cepat dibanding jalan darat lainnya… Salam tak kalah hangat dari Kota Batik, Pakdhe..

  4. Mechta …
    Kereta api mempunyai kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan … Terutama KA Argo Bromo Anggerk

    Ada suatu masa dimana saya bolak balik Jakarta – Surabaya.
    Waktu itu saya sudah kerja di Jakarta, tetapi anak istri saya masih di Surabaya … jadilah saya (hampir) tiap minggu pulang balik …
    Argo Bromo sudah menjadi rumah ke dua saya selama week end … hehehe
    Kondektur dan Pramukretanya mungkin udah bosen ngeliat muka saya …

    Salam saya Mechta …

    ahay…SDSB (Saben Dina Setu Bali) ya pak… kalau sekarang bernostalgia lagi dengan jagoan2 dan bundanya ya Pak.. 🙂

  5. Mbak aku juga sdh lama banget gak naik kereta. Mendengar cerita reformasi di PJKA, pengen juga mencoba..:)

    kalau ada kesempatan nostalgia lagi mbak… jes jes jes tuuut… 🙂

  6. Saleum,
    Berhubung di Aceh belum ada lintasan KA, maka pilihanku tak pernah berubag dari Sepmor. Mau gimana lagi, tak ada pilihan lain mbak, hehehee

    haah…ciyuus?? maaf baru tahu kalau tak ada lintasan KA di seantero Aceh..karena kondisi alam yg tak memungkinkan ya?

  7. naik kereta terakhir udah lebih dari6 tahun lalu deh..
    pengen juga liburan naik kereta lagi…..
    dan entah kenapa ya aku tuh hobi banget makan nasi gorengnya restorasi kereta he..he…

    waah…jadi penasaran nih, ada apa antara mba Monda & nasgor KA ? hehe…

  8. apalagi kalau bawan anak2 dalam perjalanan jauh menggunakan kereta api enaknya pilih yg nyaman

    hehe iya…waktu naik kereta di awal long weekend kemarin, banyak anak2 kecil di gerbong ku..lucu deh.. ada yg lagi blajar jalan mondar mandir di lorong antara kursi2 sementara ayah/ibunya yg sibuk gantian menjaga dibelakang… 🙂

  9. aku wedi numpak kereto mbak..

    ciuuss..
    selama hidup d smrg, aku lum pernah pulang ke kesesi naik kreta

    Kaligung Mas sekarang nyaman lho dik… apalagi yg ekskutifnya.. tiketnya hampir sama dg travel, dengan waktu tempuh yg jauh lbh singkat… cuma 1,5 jam Smg-Pekl… tapi…klo mo ke kesesi yo msh jauh ya..hehe…

  10. untuk mudik, pulang ke Kebumen saya masih mengandalkan bus antar kota antar propinsi, Mbak. Kadang-kadang ingin naik kereta juga, tapi selain aturan pemesanan tiket seminggu sebelumnya, jarak dari rumah ( Tangerang ) ke stasiun Senen ataupun Gambir cukup jauh, jadi lebih memilih bus yang poolnya hanya ratusan meter dari rumah.

    iya…mana yg paling memudahkan ya Abi… oo..mudiknya ke Kebumen ya… klo mudik bagi oleh2nya ya..hehe…

  11. Kalau pyayi Pekalongan naik kereta api maupun bus sama mudahnya. Bagi warga Sal3 untuk naik KA harus ke Tawang atau Balapan. Menikmati Jeng dengan KA kaki lebih slonjor dan goncangan minim. Salam

    atau ke ambarawa nitih sepur nostalgia bu? hehe…

  12. Pengen numpak Prameks belum kesampaian…

    Hm.. Prameks itu Jogja – Solo ya? aku juga blom pernah je, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s