Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Bahasa menunjukkan bangsa

14 Komentar

Di masa sekolah dulu, kita diajarkan beragam peribahasa, dan satu diantaranya adalah peribahasa “ Bahasa menunjukkan bangsa” yang menurut wikipedia mempunyai arti : “Baik buruk adat kelakuan orang menunjukkan tinggi rendah keturunannya (asal usulnya).”

Ulasan lain menyebutkan bahwa peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” itu merujuk kepada cara bicara dan isi pembicaraan orang “berbangsa” yang berlainan dengan cara bicara dan isi pembicaraan orang kebanyakan. Artinya, dengan mendengar dan cara seseorang bicara, kita bisa mengetahui apakah dia orang berbangsa atau hanya orang kebanyakan.

Lebih lanjut Ajip Rosidi -budayawan- dalam tulisannya di Pikiran Rakyat 10 April 2010 mengulas bahwa pemakaian bahasa tidak sekadar mempergunakan kata-kata yang jelas artinya, yaitu dapat dimengerti oleh orang diajak bicara, melainkan juga belajar mempergunakan kata-kata sesuai dengan situasi dan dengan kesopanan masyarakat tempatnya bicara. Dalam situasi tertentu ada kata-kata yang tak patut diucapkan, walaupun arti kata tersebut sesuai dengan maksud si pembicara. Di kalangan tertentu ada kata-kata yang tabu diucapkan walaupun kita anggap kata itulah yang paling tepat untuk menyampaikan maksud kita.

Aku pribadi memilih mengartikan peribahasa itu sebagai tuturkata ataupun cara berbahasa kita -baik itu lisan maupun tulisan- mencerminkan kepribadian / apa & bagaimana diri kita.

Eh, kenapa pula tiba2 bicara tentang peribahasa itu? Tak lain dan tak bukan karena pagi tadi aku terusik membaca status salah seorang keponakan -masih SMP- yang berapi-api mengomentari psywar suporter bola malaysia.  Bukan emosi yang terungkap nyata disana yg membuatku terusik, karena maklum saja…para ABG itu hampir selalu ‘meledak-ledak’ dalam mengungkapkan pendapatnya, hehe…

Yang mengusik hatiku adalah cara pengungkapan pendapatnya.  Dalam tulisan di status itu, terselip beberapa kata makian yang sangat tak pantas.  Dan status lebay itu mendapat beberapa jempol dari teman-temannya! 😦

 ” Not like this! kata2mu menggambarkan siapa dirimu, jadi berhati-hatilah berkata-kata..! “

Akhirnya sederet kata itu pun kutuliskan untuk menegurnya.  Mengingat anak remaja biasanya akan sakit hati bila ditegur keras di depan teman-temannya, maka kurasa kata-kata itu cukuplah untuk mengingatkan dia bagaimana seharusnya menuangkan pendapat / opininya dengan tidak mengabaikan norma-norma yang ada.

Alhamdulillah dia dapat menerima teguran itu dengan cukup baik dan menyatakan akan menghapus status yang ditulis teman di wallnya itu.  Sudah waktunya mereka (dan juga kita semua) menyadari bahwa tak hanya lidah yang perlu dijaga agar tak berkata sembarangan, namun juga hasil ketikan jari-jemari perlu juga dicermati agar tak melukai hati orang lain atau bahkan mempermalukan diri sendiri…

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

14 thoughts on “Bahasa menunjukkan bangsa

  1. jangankan ABG mbak, yang sudah berumur juga ada yang kurang sopan dalam menuliskan kata-kata di socmed

    hehe.. iya mbak.. merasa di wall sendiri jadi cuek saja ngeluarin uneg2…hehe…

  2. pendukung klub sepak bola menurutku koq cenderung seperti itu ya… lihat saja komentar pembaca di detik.com kanal sepakbola… komentarnya banyak yang caci maki…

    hm, ngga bisa digebyah-uyah begitu juga ya mas… ada juga lho yg msh memenuhi norma2… semua kembali ke masing2 individu tentunya… 🙂

  3. Ups, duluuuu aku lumayan sering menggunakan kata2 kasar auntie, walopun di ‘diary’ku sendiri dan tidak ada yg baca, tapi belakangan (pas baca lagi tulisan2 itu) ngga suka bgt, jd sekarang walau semarah apapun, memaki-maki dg bahasa yg santun *halah* hihihihi

    hehe…susyah lho say… memaki-maki pake bahasa santun…feelnya gak dapet katanya! *halah*… iya, aq juga masih terus belajar utk menggunakan ‘rem’ yg lebih pakem.. hehe..

  4. hee,….klo aq gado2 mba.kadang sopan, kadang metu jowone. Insyaallah rem’y masih pakem…*blm sampe keluar kasarnya 😀

    naah…gadho2 (kancane kethoprak) memang uenak Yuun… aq jg suka campur2 basane, paling sering yo campur bhs ibu alias basa jowo.. tapi bkn berarti gak sopan kan? hehe… semoga rem kita tetep pakem yo say.. malu ah, bu guru kok rem-e blong.. wkwkwk…

  5. Sekali waktu simaklah acara dialog atau talk show di TV jeng..wow…
    Padahal pakai dasi lho..kok kayak gitu ya sikapnya…
    Salam hangat dari Surabaya

    waah..nggih Pakdhe..kula nate semerep niku… lha nggih, pripun masyarakate mboten tambah bingung nggih… lah contone kados ngoten… 😦
    salam manget2 saking kutho Batik, Pakdhe..

  6. lhaaa bahasaku berantakan
    berarti bangsaku gimana ya..?

    jujur, apa adanya alias gak neko neko ? hehe… *soktau..*

  7. Setuju sekali Mbak, bahasa kita menunjukkan siapa kita, semoga sang ponakanku gak jera berteman dng tantenya di facebook 🙂

    hehe… insyaallah ngga jera…kan dikoreksinya cuma klo dah kebangetan.. 🙂

  8. 100% setuju mba, bila bisa menulis santun, mengapa memilih yg tidak santun? kata2 santun itu indah, seindah sastra itu sendiri 🙂 nice share, terimakasih 🙂

    semoga kita bisa begitu ya Uni… oya, apa kabar nih?

  9. kl dulu kan ada istilah “lidah tak bertulang” makanya org suka ngegampangin ngomong.. Tp kayaknya istilahnya perlu di tambah deh mbak.. Karena skrg jamannya media.. Walopun yg bicara lebih banyak2 jari2 yg bertulang tp tetep aja msh ada org yg seenaknya berbicara dg jari2nya

    jadi…istilahnya mesti dirombak juga ya Chi..hehe

  10. tulisan dan bahasa ku sama juga berantakkan apsalahnya tulang ini atau mulut ini apabila mengeluarkan kata kata yang tidak sadar dilakukannya apalagi kalaupas acara acara tv music itu ba nyak keluar dari mulut mereka kata kata yang kurang sopan

    kita masih sama2 berantakan ya… tapi ga ada salahnya klo mulai bebenah, bukan ? 🙂

  11. nggak asyik banget, semarah apapun meluapkannya dengan kata2 kasar apalagi di medsos
    kurang bijak rasanya ya mbak 🙂

    Mbak Mechta apa kabar?

    betul sekali Ne.. dlm kasus ini, kami sdg memberikan pelajaran ttg hal itu pada ABG kami.. hehe… Alhamdulillah kabar baik Ne.. bgt juga dirimu, bukan?

  12. Bahasa menunjukkan bangsa, mulutmu adalah harimaumu…
    Ini adalah ungkapan yang seharusnya membuat orang berhati-hati sebelum mengeluarkan kata-kata kasar/kotor di depan publik ya, karena sekali kata terucap, mustahil untuk ditarik kembali 🙂

    begitulah mbak… kalau saat ini mungkin tambah lagi… jari2mu adalah pedangmu..hehe…

    • Senang sekali dengan diskusi ini, …..’jari2mu adalah pedangmu’…. Belajar mengendalikan pedang efektif elegan. Salam

      belajar bersama nggih Bu… Salam kembali…

  13. Entah kenapa, sekarang ini orang mudah sekali mengeluarkan kata-kata tak sopan, baik di social media maupun di kehidupan nyata. Akibatnya banyak sekali kericuhan terjadi oleh hal-hal yang sesungguhnya tak penting.

    Iya Bu… sepertinya saling menjaga perasaan sudah semakin sulit dilakukan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s