Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

[Berani Cerita#08] Main Stempel

27 Komentar

“Iiih… nggak serapi punya mamah! Susah amat ya..”

“Iya Kak, susyah… “

“Hehe… ikut-ikutan saja ah, Adek ni…”

“Iya…ikutan aja…”

Dan mereka berdua tergelak.

“Ambilkan kakak tisu, Dek… Kita hapus dulu yang ini “

Adek berlari keluar kamar, lalu kembali dengan segulung tisu dan menyerahkan ke si kakak.

“Ah, Adek memang pinter… Nanti, kakak bilang ke Mamah kalau Adek makin pinter.  Mau?”

Si adek mengangguk dan tersenyum bangga.  “Main stempel lagi, Kak!”, serunya kemudian.

Si kakak masih sibuk mengelap dengan tisu.  Lalu mengamati hasilnya, dan mengangguk dengan bangga.

“Naa… sudah bersih.  Kakak coba lagi, ya?”

Si adek kembali mengangguk dengan semangat dan memperhatikan tingkah kakaknya.

“Kakaaak… Adeeek… Kalian di manaaa?”

Si Kakak baru saja mengatupkan bibirnya di pinggir cangkir melamin putih yang kosong itu, ketika tiba-tiba terdengar suara ibu mereka dari arah belakang rumah.  Lalu langkahnya terdengar mendekati kamar itu.

“Aduuh… Cepat amat si mamah selesai jemur bajunya pagi ini..” gerutu si kakak.

Buru-buru si kakak meletakkan cangkir itu pada tatakannya di atas meja rias, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dan tentu saja adiknya segera menirukan tingkah kakaknya.  Keduanya berdiri tegang menghadap pintu kamar yang terbuka.

“Lho…, pada ngapain sih di kamar mamah?” si ibu masuk sambil mengerutkan keningnya.

Lalu dilihatnya cangkir putih bernoda lipstik pink  itu dan kedua anaknya yang menutup mulut dengan tangan.

“Kakaak, berapa lipstik mama yang kau habiskan kali ini?” tanyanya manis.  Terlalu manis sebetulnya.

Si kakak menggeleng keras diikuti adiknya, lalu akhirnya iapun membuka tangan yang menutupi mulutnya.

“Nggak habis, Mamaaa…. Nih lihat, Kakak cuma pakai sedikiiiit,” jawabnya dengan sisa-sisa warna merah muda yang masih terlihat di bibir mungilnya.

“Iya…cuma dikiiit,” adiknya tak mau kalah, membela sang kakak dengan gaya lucunya.

Kali ini ibu mereka yang tergelak.

“Jadi…. siapa juara menyetempel minggu ini?” tanya si ibu kemudian.

“Masih mamaaa…!” jawab keduanya serentak sambil menghambur ke pelukan ibunya.

Mereka berpelukan sambil tergelak bersama. Tak peduli pada sisa lipstik di bibir si kakak yang mengotori daster ibunya maupun beberapa lipstik patah yang tergeletak pasrah di meja rias…

Bahagia itu sederhana!🙂

Note : 330 kata

27 thoughts on “[Berani Cerita#08] Main Stempel

  1. Bahagia itu sederhana, walau belepotan lipstik. Jadi ingat saat jagoan cilik menggambar di kaca rias dengan lipstik dan mematahkannya. Salam bahagia Jeng, keren fiksinya.

  2. Bener banget Mba Mechta. Bahagia itu sederhana sekali.

  3. stempelnya merah menyala ya mbak🙂

  4. Ibu yang baik dan sabar ya

  5. bahagia itu sederhana.. pass sekali..

  6. sukaaaaaaaaa sama ceritanya.. keliatan banget kebahagian mereka🙂

  7. ah terasa sekali bahagianya …
    nice story mbak …

  8. Ga harus twist yg cetar membahana badai, bahkan yang halus seperti ini saja sudah indah🙂

  9. ah, mamanya kereeen..🙂
    mamaku mah kalau lipsticknya dimainin malah ngomel-ngomel.. :p

  10. iyaa…bahagia itu memang sederhana ya auntie, kebayang deh gimana gemesnya liat lipstik udah patah2, waktu kecil suka gitu soalnya *ups* hihihihihi

  11. biasanya kalau ibunya galak langsung ambil sapu lidi terus gebukin anaknya wkwkw

  12. duh… bahagianya…
    berpelukan bersama….

  13. Ping-balik: [Flashfiction] Lipstik Merah di Cangkir Putih | AttarAndHisMind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s