Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

25 Komentar

“Buuk… Sri pergi dulu yaa… Assalamualaikuum ”

“Waalaikumsalam. Lho Sri, mau kemana lagi? Kan baru pulang?” ibu menyahut dari belakang rumah, tapi tak ada jawaban dari Sri. Rupanya anak itu langsung  pergi lagi.  Hm… wanita paruh baya itu menarik nafas panjang sebelum meneruskan kesibukannya mencuci.  Ada apa dengan anak gadisnya itu? Akhir-akhir ini selalu saja pergi sepulang sekolah hingga malam hari.  Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

Rasa gelisah terus hinggap di hatinya saat duduk menunggu di amben sambil memilah-milah baju-baju yang sudah diseterikanya, dikelompok-kelompokkan sesuai pemiliknya. Ia teringat berita TV yang ditontonnya sore kemarin di rumah Bu Sardi.  Ah.. miris hatinya mengetahui berita kekerasan yang korbannya gadis seusia Sri. Atau juga cerita Yu Ginah tentang penangkapan gadis-gadis yang katanya bekerja di warung remang-remang… Duh Gusti… Bagaimana kalau Sri mengalami hal itu? Pikiran buruk itu melintas. Ya Allah…lindungilah selalu anak hamba…doanya untuk keselamatan buah hatinya itu.

“Assalamualaikum… ” Sri masuk rumah dengan wajah tampak lelah.

“Waalaikumsalam…. Dari mana saja to, nduk ?”

“Dari… rumah Santi, buk..” jawab Sri pelan sambil membantu ibunya menata baju-baju pelanggan ibunya.

“Tiap hari? Ah, ojo ngapusi ta nduk…

“Buk, maafkan Sri ya buuk..” tiba-tiba Sri merangkul ibunya sambil menangis.

Hati perempuan paruh baya itupun tersentak Ya Allah… ada apa dengan anak semata wayangnya ini? Berbagai pikiran buruk kembali memenuhi benaknya.

“Ada apa, nduk ? apa yang sudah kau lakukan?”

Sri melepas pelukannya dan perlahan mencium tangan ibunya, tepat di atas tanda yang melingkari jari manis kanan ibunya.

“Sri membuat ibu harus melepaskan cincin peninggalan Bapak..”

“Oalaah nduuk… Cuma karena itu to? Ndak papa , kapan-kapan kalau ada rejeki bisa kita tebus.  Yang penting, ujianmu kemarin lancar to?”

“Alhamdulillah bu, sudah selesai.  Dan, sepuluh hari ini aku tiap sore bantu-bantu Bulik Tri jaga toko bu… kadang-kadang bantu masak di katering ibunya Santi. Lumayan bu, ini hasilnya…”

Sri menyerahkan bungkusan saputangan ke tangan ibunya.  Perlahan sang ibu membuka saputangan itu dan air matanya mengalir melihat cincin kawin yang sempat digadaikannya untuk biaya yang harus dilunasi sebelum Sri bisa ikut ujian akhir di SMAnya.

“Alhamdulillah…. Duh Gustiiii…maturnuwun sanget…” rasa lega dan syukur memenuhi hati perempuan paruh baya itu. Bukan karena cincinnya telah tertebus, tapi lebih karena keselamatan Sri- kekayaannya yang tak ternilai…

Note : 370 kata.

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

25 thoughts on “[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

  1. No twist, but this story moved me a lot, Mbak. Serius. Aku suka :’)

    terima kasih, Nina… 🙂

  2. saya terharu mbaca cerita di atas mbak, sederhana tapi ngena banget …
    mengingat anak2 sekarang lebih sering tidak peduli pada jerih payah orang tuanya
    serba nggampangke …
    semoga masih banyak anak seperti Sri yang bisa jadi teladan bagi banyak anak2 yang sudah lupa lautan 😦

    terima kasih, Niq… ayoo…ceritamu mana? 🙂

  3. Hmmm… Iya, sepakat dengan komentar yang sudah ada. Sederhana, tapi ngena.

    Makasih, Fauzi.. 🙂

  4. mungkinkah cerita di atas juga terjadi dlm dunia nyata mbak ?

    rasanya mungkin mbak… kondisi harus bayar ini itu sebelum boleh ikut UNAS itu real… yg lain fiksi 🙂

    • tapi mungkin yang lain yg fiksi itu juga kali ada ya mbak terjadi di dunia nyata juga ?

      hm, mungkin juga mbak… meskipun tidak persis sama.. 🙂

      • aku baca cerita di atas kayak baca cerita nyata mbak 😛

        syukurlah kalau begitu mbak.. trims supportnya.. 🙂

      • sama sama mbak, biasanya aku enggan baca fiksi, byk yg panjaaaaaaaaaaaaaang bgt soalnya, tapi fiksi yg kamu tulis di sini pendek, dan mudah dimengerti, jd kayak baca postingan nyata biasa 🙂

        kata teman2 lain… yg seginian ( < 500 kata ) namanya FlashFiction mbak..alias cerita super pendek, lebih pendek dari Cerpen yg sebelumnya biasa kita baca… ditunggu juga masukan2nya lho mbak, namanya juga lagi belajar nulis..hehe…

      • ya andaipun buka Flash Fiction ya mbak, jika tulisannya sampai ribuan kata , mnrtku belum baca jg sdh enggan dulu yg mau baca, knp nggak dibagi dlm beberapa episode sj ya ? ini sih mnrtku mbak, yg awam soal fiksi , nggak tahu ya pndpt lain 🙂

        iya mbak…kesukaan orang memang beda2 ya… ada juga yg kalau baca Cerbung males, katanya kenapa nggak diselesaikan 1 episode saja? hehe… lain ladang lain kinjenge kata mbak Ely 😉

      • iya mbak, kinjenge bentuk e ra podho kabeh, ana sing montok, ana sing gering hihihi 😛

        lha nek nang kana kinjenge bule ra mbak? hehe…

      • podo wae mbak kinjenge, mung jenise ana sing beda, ana siji kinjeng ayu mbak, kaya lagi nganggo klambi penganten 😀

        wiih..kaya ngapa kui?? wis tau difoto mbak EL? *siap2 ngubek foto2 mbak Ely*

  5. Sumpah,terharu bnget…

    aih.. begitukah *sodorintisu*

  6. Indahnya cnta seorang Ibu ke anaknya Mba Mechta.

    iya Dan.. plus bakti anak pada ibunya juga… *karepe sih ngono..hehe*

  7. Kirain tek dung eh ternyata mau minta ijin untuk nggadein cincin tho

    si ibu mungkin juga mengira tekdung mbak…ternyata sekedar rasa bersalah krna jadi penyebab tergadainya cincin si ibu…dan berusaha menebusnya 🙂

  8. begitu besar cintau seorang ibu kepada anaknya ya

    tetep ya Jeng… tak terukur & tak tertandingi 🙂

  9. Betapa ibu bangga akan dirimu nduk Sri….
    Tulisan Jeng Mechta selalu enak dibaca, sarat makna
    Selamat terus berkarya Jeng

    maturnuwun supportnya, Bu Prih… 🙂

  10. aih…cerita yg manis sekali auntie^^

    trims, Rin… *sodorin air putih* 🙂

  11. suka kalimat di akhir cerita, ngena bangeeettt, ^_^

    terima kasih, Damai… 🙂

  12. Sial! Keren bgt nih cerita! Telak gue dah… B-)

    haiyaah…isih tetep durung bisa nge-twist ngono kok…isih adoooh… tapi trims yo wis nggedeke ati 🙂

  13. Manis sekali… 🙂

    komen yg sangat membesarkan hati… trims, mbak Rini… *butuh air putih juga? hehe..*

  14. inilah kalau orang tua mau berkorban demi masa depan anaknya 🙂

    mbak, ada yang mengganjal dengan kalimat ini : Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

    tapi kenapa pada paragraf selanjutnya, si ibu malah duduk-duduk di amben sambil melipat baju? padahal harapan saya sebagai pembaca saat membaca kalimat di atas, adalah si ibu bakal nguntit anaknya atau main detektif gitu 🙂

    maksud si ibu, malam ini dia akan sungguh2 bertanya (bhs jawa : ndedes) pada anaknya ttg apa yg dilakukan si anak selama ini… tapi, mungkin juga akan lebih berkembang jika main detektif2an ya Miss..hehe… trimakasih masukannya…

  15. terharu 🙂
    aih..begitukah? 🙂 *sodorintisu*

  16. aduuuh jadi ingat almh ibuku..dulu setiap dia dapat uang arisan slalu di booking buat kuliah anaknya hehe..
    nice FF mba 😀

    makasih Ronal… tapi ibu tetep bahagia memberikan uang arisannya ya Nal…begitulah kasih sayang ibu… ah, jadi ingat ibuku sendiri nih…

  17. ibu memang perjuangannya tiada perlu diragukan ya Mbak…
    *tisu mana, tisuuu… !! * 🙂

    jasanya tak terhitung apalagi tergantikan ya Asmie… *sodorin sekotak tisu* Thx sdh mampir ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s