Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Ketika ada sekat antar sahabat…

15 Komentar

Tulisan ini ada karena membaca posting mba Ely yang ini.  Tulisan yang membahas tentang pernah tidaknya kita sebagai blogger merasa asing dengan satu / beberapa blogger lain yang pernah dekat dengan kita di dumay ini, telah membuka memoriku pada peristiwa terurainya sebuah jalinan pertemanan .

Menjalin persahabatan dengan beberapa orang sekaligus, memang mengasyikkan.  Lebih seru dibanding hanya bersahabat dengan 1 orang saja.  Bisa saling curhat, ataupun saling support, lebih banyak telinga yang mendengar, lebih banyak hati yang terlibat.  Namun, bila antara sahabat itu terjadi suatu perselisihan…maka pemecahannya pun relatif lebih sulit karena masalah terasa rumit 😦

Suatu masa dulu, aku mempunyai teman bernama A, yang sebelumnya telah lebih dahulu bersahabat dengan si B.  Karena frekwensi ketemuan si A dan B ini relatif sering, maka tak jarang saat pertemuanku dengan si A maka si B pun sedang ada di sana, dan ketika obrolan demi obrolan terasa nyambung, jaringan pertemanan itu pun meluas. Akhirnya akupun menjadi kian dekat dengan B, sama dekat antara aku dengan si A, meskipun mungkin tak sedekat antara A dan B… (halaaah…kalimate kok mbingungi ya..hehe..)

Waktu berlalu, dan ternyata kedekatan 3 hati yang menyenangkan itu mendapatkan ujian.  Entah apa sebab awalnya, aku mendapati kerenggangan hubungan antara A dan B, namun keduanya tetap berhubungan baik denganku.  Dalam salah satu kesempatan pertemuan dengan A aku sempat menanyakan tentang B yang tak lagi sering bersamanya, namun jawabannya terdengar klise : si B sibuk.

Awalnya aku menerima jawaban itu, namun kemudian jawaban itu terasa mengada-ada karena ‘aroma perselisihan’ makin kuat tercium, meskipun tak secara terbuka.  Tak ada lagi pertemuan hangat bertiga.  Ketika aku dengan A, tak sekalipun nama B tercetus, begitupun ketika aku bersama B, seolah nama A ‘haram’ disebut.

Aku sedih dan merasa ‘terjepit’ dengan kebekuan itu, namun kadar pertemananku dengan keduanya rupanya belum sampai pada taraf mereka mau terbuka mengenai penyebab keretakan hubungan itu.  Akupun tak mau terlalu jauh ‘mengorek’ informasi pada mereka, terus terang, aku takut menimbulkan salah paham baru yang akan mengancam jalinan pertemananku dengan masing-masing mereka.. ( ih, egoisnya aku ya… jangan ditiru! ) Demikianlah, tanpa kutahu sebab pastinya, akhirnya jalinan pertemanan 3 hati itupun terurai sudah… 😦

Saat ini, aku berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan keduanya, setidaknya dengan si B, karena perlahan si A makin menjauh dari lingkaran pertemanan kami berdua.  Dan ada saat-saat rindu akan kebersamaan waktu dulu, menerbitkan harapan untuk terulang kembali.

Mungkin aku memang bukan sahabat yang baik, yang mampu mencari solusi dan bisa menyatukan kembali 2 hati teman baikku itu, tapi aku tetap mendoakan hal itu terjadi. Mengingat kuatnya jalinan yang pernah mereka rajut bersama, aku percaya, suatu saat jalinan yang sempat terurai itu akan tersambung kembali pada waktunya nanti : mungkin setelah hati sama-sama dingin, atau ketika kenangan-kenangan manis kebersamaan mereka pada akhirnya mengentalkan rasa rindu, memecahkan kebisuan dan meruntuhkan sekat yang ada.  Semoga…

Teman, pernahkah kau juga mengalami keadaan yang sama? Ketika tercipta sekat diantara sahabat, seberapa jauh kita dapat terlibat?

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

15 thoughts on “Ketika ada sekat antar sahabat…

  1. Aku belum pernah mengalami kejadian spt ini Mbak Mechta. Tapi aku menyetujui pilihan Mback, stay out dr masalah sahabat yg sdg berselisih 🙂

    sebenarnya pengen membantu mendamaikan mbak.. tapi saya tak yakin bagaimana hasilnya.. 😦

  2. Makasih banyak linknya ya mbak 🙂

    susah juga memang ya mbak membayangkan posisimu saat itu, aku belum pernah mengalaminya mbak, selama ini persahabatan dengan teman maya juga belum pernah ada yang bertemu muka, msh sebatas di dunia maya. Menurutku berkawan dan bersahabat itu memang nggak selalu mudah ya mbak, walau mungkin ada juga yg langsung klik dan awet, kalau pengalamanku sendiri sekarang berusaha utk tak terlalu berharap banyak saat berkawan dengan siapapun pada awalnya, menjaga saja mbak andai seiring berlalunya waktu, pertemanan itu memudar aku tak akan terlalu kecewa di belakangnya, berdasar pengalaman sebelumnya mbak, jadi biar waktu yg akan membuktikannya 🙂

    Sama-sama, mbak Ely… itu hanya satu dr banyak tulisan mbak yg sering ‘menggaet ide’ 🙂
    setuju mbak.. let it flow saja ya, biar gak kecewa bila tak sesuai harapan.. meskipun tentunya tetap dibutuhkan niat & ketulusan yang sama utk menjaganya ya mbak…

    • wah .. benarkah mbak ? 😛 … makasih ya

      iya mbak, wajar jg kl byk yg ingin dan berniat bersahabat dgn tulus, namun kl dipihak lainnya sdh nggak mau ya bgmn lagi ya, jd sama sama nggak nyaman jg kalau terpaksa satu sama lainnya

      memang mbak.. seperti bertepuk tangan, gak bisa bunyi klo cuma sebelah ya mbak..hehe

  3. udah biasa lah…
    dunia kan muter kadang deket kadang jauh
    nek lengket terus tanpa pernah bersekat malah jadi pertanyaan masih manusia normal engga statusnya…

    Oo..jadi indikator normal / tidak itu ada pada ada tidaknya sekat, Bro? hehe…

  4. pernah mba dl pas mau wisuda kuliah..
    salah satu sahabat kita tiba-tiba menjauh dan berubah 180 derajat ketika menerima kenyataan bahwa cuma dia yang belum sidang TA, sedangkan kami sabahatnya sudah sidang semua. Mau ditanyain kenapa berubah gak enak takut dia tersinggung, tapi kalo dibiarin kasian. tapi yah gimana lagi. 😦

    memang ya nal.. klo lagi sensitip gitu bikin bingung ngladeninya… trus gimana tuh, menjauhnya lama atau cuma sebentar?

    • sampe sekarang mba,sampe anakku dah ada dua wekeke…dan kita semua juga kayak satu suara gitu, gak ada yg mau bahas kenapa dia berubah..bahkan dl awal dia lulus aku sering nanya kabar dia via FB, tapi ya gitu gak dibales 😦

      wah sayang ya… ya mudah2an waktu akan mendekatkan kembali hati yg menjauh 🙂

  5. susah juga ya, karena dekat dengan dua-duanya. Saya sependapat dengan bu Evi, stay out dr masalah sahabat yg sdg berselisih. Kalau mereka cerita, baru ditanggapi, kita kasih masukan …

    yg penting kita tetap nebjaga hubungan baik dg keduanya ya … Trims pendapatnya, Hind.. 🙂

  6. Jadi gini ehem… Walo disebut sbg jalinan pertemanan, tapi ini mirip hubungan cinta segitiga. Entah si A atau si B, salah satunya pasti seorang cowok!

    Sebelumnya tanpa sepengetahuan penulis, mereka mencoba merubah jalinan pertemanan menjadi percintaan. Tapi ternyata malah si cowok ada rasa ama si penulis yg notabene cewek. Tapi menurut logika perilaku yg cowok pasti si B. Dan si A berarti cewek laen selaen si penulis. Karna sama2 cewek si A bisa tetep jaga sikap pada penulis, tapi gak dg si B yg galau2nya pengen ngungkapin cinta pada penulis tapi gak enak aja. Perasaan cowok emang gak enakan gitu, deh!

    Intinya jalinan pertemanan bakal tetep terjalin kalo gak berkonversi ke bentuk laen. Ini mungkin analisa psycho gue, kalo gak bener dan salah besar berarti analogi ngawur gue emang bener2 tanpa dasar dan logika.

    Bhahaha

    huaa….kebanyakan ngunyah fiksiiii… wkwkwk… *sik..sik, jangan2 ini curhatnya Sang penulis komen ya?* hehehe

  7. Sedekatnya persahabatan ada sisi hati yang sulit diduga ya Jeng. Istilah Uni Evi diperkuat Mas Hind stay out apik ya tidak memperkeruh keadaan. Salam persahabatan Diajeng.

    Kuncinya adalah : tidak memperkeruh persahabatan. Maturnuwun Bu Prih.. salam persahabatan selalu… 🙂

  8. Mechta, banyak alasan kenapa seseorang menjadi tidak cocok lagi untuk berteman/bersahabat.
    Perbedaan cara pandang dan ketidaksamaan penafsiran adalah dua diantara alasan-alasan tersebut. Alasan lain bisa saja karena sudah merasa tidak nyaman, merasa tertekan/terintimidasi atau justru malas ribut-ribut buat hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan.

    Kalau kita terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan, jangan terlalu merasa bersalah Mechta, karena toh bukan kita yang menjadi penyebabnya 🙂

    Ya mbak..menurut saya juga begitu, dan sepanjang bukan saya yang menciptakan sekat itu, saya berusaha untuk menjalani saja dengan baik… Pertemanan / persahabatan, tak bisa berlangsung sepihak, bukan ? 🙂

  9. wah, kalau saya sih belum pernah ngalamin kaya gitu.
    yang ada saya yang berselisih sama seseorang, dan teman kami yang mendamaikan..

    naah.. trik pendamaian itu bisa ditiru klo suatu saat berbalik peran mesti jadi pendamai ya? hehe.. trims sdh mampir di sini ya.. 🙂

  10. Saya juga pernah mendengar cerita seperti ini dari salah seorang teman blogger.
    Bener sih, waktu yang akan menjawabnya.

    semoga jawaban dari sang waktu melegakan kita semua.. 🙂

  11. mbaaaaa…
    aku sih belum pernah dapet kasus seperti ini…

    Tapi kalo kejadian denganku, aku pun akan bersikap sama kayak mba Mechta deh…
    Sebaiknya gak usah ikut campur kecuali kalo memang diminta oleh mereka…
    Dan sebisa mungkin sih biarkan mereka selesaikan sendiri masalahnya aja 🙂

    sepokat..eh sepakaat, Erry… apa kabar, say ? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s