Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

15 Komentar

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

15 thoughts on “[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

  1. Dio sayaaaang..baik-baik dengan Oma Nina ya, mama Luna dan adik tak pernah jauh darimu… Keren Diajeng, selali terpesona dengan fiksi indah di sini. Salam

    hehe… saya selalu terpacu dengan komen menyejukkan dari ibu 🙂

  2. Dio itu kucing?
    hiksss….
    sedih ceritanya tapi indah.

    Meeoong…. *salam kenal, Mas Ryan.. kata Dio 😀 Trims apresiasinya ya…

  3. Dio yang menatap penuh kesedihan, jangan bersedih atas kepergian Mama Luna..Karena suatu saat kita akan berjumpa kembali dengannya 🙂 Keren deh Mbak Mechta 🙂

    Insya Allah, Mama Evi… Dio akan menemani Oma Nina sekarang… 🙂 Trimakasih apresiasinya, Mbak Evi…

  4. jangan sedih nak, mama pasti sayang selalu. walah mbak aku tadi serius ternyata kucing ya

    Miaaauuu… *Mama Lidya, salam buat De’ Cal-Vin ya..* 🙂

  5. wah ternyata cerita kucing bisa bikin sedih juga yah…mantab Mba 😀

    kucingnya type2 Garfield si kucing ngantuk nan melow itu, Nal.. hehe… Trims apresiasinya ya..

  6. sedihnyaaa… T.T

    Meeeoong… *puk2 Oom Dani * 🙂

  7. wah.. baca komentar teman-teman.. aku baru ngerh kalau Dio ternyata kucng ya.. he he telmi..

    Maaf, clue-nya yg kurang jelas ya mbak Dani… 🙂

  8. Aaah ada unsur Hachiko-nya . Jadi sedih dan terharu deh bacanya :,)

    ah.. ya…saya ingat.. itu nama anjing setia di stasiun kereta itu ya… trims sdh mampir ya… *sodorin tisue..

  9. Kehilangan yang mengharukan walaupun itu kucing! Mantab bahasanya!

    ah, terima kasih apresiasinya ya mas…

  10. Wah, Mbak Mechta juga jagoan bikin fiksi! Baru ngeh aku, kemana aja kamu Al?? 🙂
    Keren, Mbak. 🙂

    haiyaaah…. bisa bengkak kepalaku karena keGRan lho mbak.. hehe Tapi, trims lho mbak, utk apresiasinya… Apa kabar ramadan di Turki ? 🙂

  11. Ih beneran deh keren. Bikin penasaran pengen baca endingnya 🙂

    naah… ini lagi yg jago bikin GR… trimakasih apresiasinya, mbak Niken 🙂

  12. aku juga baru ngeh setelah baca komen… jadi inget kucingku, si Puspa.. hihi, OOT

    bagaimana dengan si puspa mbak? eh..namanya cakep deeh 🙂

  13. Gema Takbir Menyapa Semesta,
    Membesarkan dan Mengagungkan Yang Maha Esa nan Maha Suci,
    Bersihkan Hati Kembali Fitri di Hari Kemenangan,
    Terkadang Mata Salah Melihat dan Mulut Salah Berucap,
    Hati kadang salah menduga serta Sikap Khilaf dalam Berprilaku,
    Bila Ada Salah Kata, Khilaf Perbuatan dan Sikap,
    Bila Ada Salah Baca dan Salah Komentar,
    Mohon Dimaafkan Lahir dan Batin,
    Selamat Merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

    Selamat Iedul Fitri juga untuk Pak Har dan keluarga… mhn dimaafkan juga bila ada khilaf kata selama silaturahmi kita… Semoga Allah merahmati kita semua. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s