Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Pohon kenangan di rumah masa kecil…

23 Komentar

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada lebaran kali ini aku juga mudik ke Semarang.  Meskipun tak seperti biasanya, kali ini hanya 2 hari saja yaitu pada tanggal 10-11 Agustus 2013, karena pada tanggal 12 nya sudah harus masuk kerja lagi.. 😦

Tapi, meskipun hanya sebentar, alhamdulillah acara kumpul keluarga di rumah masa kecil kami selalu menyenangkan dan penuh kesan.  Selalu ada kegiatan asyik ataupun cerita-cerita seru dari masa kecil kami yang menyemarakkan saat-saat kumpul dengan kakak-adik ditambah para keponakan ini.

Salah satu pemicu kenangan lama kami itu adalah sebuah pohon Nangka ( Artocarpus heterophyllus yang tumbuh di halaman rumah kami.  Sejak kami menempati rumah itu setelah kepindahan kami dari kota sejuk Salatiga, pohon Nangka itu sudah ada di halaman rumah kami.  Saat itupun sudah terlihat besar, tajuknya yang lebat menaungi halaman rumah kami sehingga area di bawah pohon itu selalu menjadi tempat favorit bagi kami untuk bermain bersama teman-teman.

Pohon itupun selalu berbuah lebat, pating grandul menyenangkan hati yang melihatnya.  Setiap kali musim buah, kami hampir tiap hari membagi-bagikan buah nangka yang sudah matang kepada tetangga kanan-kiri ataupun mengirimkannya kepada saudara, karena tak pernah habis kami makan sendiri.  Daging buahnya berwarna kuning agak oranye -tak seperti nangka yang banyak di pasar yang berwarna kuning pucat- terasa manis, dan tebal.  Bahkan dami-nya pun tebal sehingga selalu menjadi rebutan saat kami kecil 🙂

Banyak cara untuk memanfaatkan buah Nangka ini. Tidak hanya dimakan segar buahnya yang matang, namun nangka muda -yang kami sebut gori-  menjadi bahan utama sayur gudeg ataupun  Jangan thewel  ( sayur nangka muda ).  Kalau di Pekalongan, biasanya dicacah menjadi bahan Megono, masakan khas Pekalongan itu.  Oya, bahkan biji nangka -yang kami sebut beton– yang direbus pun menjadi makanan kesukaan kami waktu kecil lho… Hanya, kalau kebanyakan bisa sering (maaf) buang angin..hehe..

Selain sebagai pohon penaung halaman rumah kami, dahan-dahannya yang kokoh juga menjadi tempat yang menyenangkan untuk diduduki sore-sore.  Memanjat dan duduk-duduk sambil ngobrol di dahan pohon itu, menjadi salah satu kegemaran kakak laki-lakiku dan teman-temannya.  Tapi, karena besar dan rimbun ini, seringkali pula ada cerita-cerita ‘horor’ yang menyertai keberadaan pohon itu.  Yang katanya ada ‘penunggu’nya lah, atau ada yang melihat ‘sesuatu’ di pohon itulah… namun alhamdulillah, aku maupun keluarga kami lainnya tidak pernah melihat / menyaksikan kebenaran cerita-cerita seram itu, jadi ya tetap enjoy saja..hehe…

Demikianlah, cerita keasyikan kami bermain di bawah / di atas pohon nangka itu saat kami kecil, kami ceritakan kembali kepada anak-anak saat ini.  Mereka terkagum-kagum melihat pohon yang saat ini berdiameter cukup besar itu : tak cukup ditangkup lengan orang dewasa.

Sayangnya, saat ini pohon ini semakin menua, dan sudah tak produktif lagi.  Tak ada lagi pemandangan pohon besar dengan buah-buah yang bergelantungan.  Memang masih ada satu-dua buah yang muncul, namun ukurannya tak sebesar dulu dan rasanya pun tak semanis dahulu.  Namun kami tak sampai hati untuk menebangnya.  Rasanya sayang bila pohon sarat kenangan ini hilang dari halaman rumah kami.  Kami hanya memotong dahan-dahan yg tua yang bisa membahayakan saja.

Saat ini, pohon besar ini beralih fungsi menjadi inang bagi beberapa tanaman hias kami, antara lain : anggrek merpati dan tanaman paku Tanduk Rusa  atau yang biasa kami sebut Simbar Menjangan.  Oya, sebenarnya aku tak tahu pasti, apakah tanaman paku yang kami miliki ini bernama Paku Tanduk Rusa ( Platycerium bifurcatum ) atau Paku Simbar Menjangan ( Platycerium coronarium ), dulu kukira dua nama itu sinonim, tapi ternyata nama latinnya beda… Ah, mungkin ada teman yg lebih tahu tentang hal ini?

Oya, ini dia penampakan pohon Nangka dengan Simbar Menjangan yang hidup subur menempel di inang nya ini :

POHON

Nah, demikianlah ceritaku tentang pohon Nangka dan Simbar Menjangan yang ada di halaman rumah masa kecil kami. Oya, Tulisan ini diikutsertakan pada  “Give Away Aku dan Pohon”  yang diadakan oleh Mbak Murtiyarini.

2013-07-29 05.14.18

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

23 thoughts on “Pohon kenangan di rumah masa kecil…

  1. Di belakang rumah orang tuaku di kampung juga ada pohon nangka Mba..kalo aku sukanya nangkanya walau kadang suka bete dengan getahnya..kalo alm ibu suka dengan yang mudanya, buat dibikin sayur hehe

    mangkanya ada peribahasa : ‘ora mangan nagkane gupak pulute’ yo Nal.. tahu nggak peribahasa itu? hehe…

    • baru denger Mba..artinya apa peribahasa itu?
      #maklum bahasa jawaku KW3 xixixii

      terjemahan bebasnya : tidak ikut makan nangkanya tapi kena getahnya, misalnya : tidak ikut menikmati hasil korupsinya tapi terkena dampak hukumannya.. hehe…

  2. Pohon kenangan tempat pohon keluarga eyang putri berkumpul memberikan keteduhan, dengan putra wayah yang dahan dan ranting. Salam

    inggih ibu… ngempal setahun sepindah.. gayeng… sugeng nindaaken tugas, Bu Prih.. 🙂

  3. sy suka pohon2. rumah berasa adem, sejuk dg adanya pohon. eh di sini juga ada Simbar Menjangan yg tumbuh di pohon nangka. tapi kok seringnya sy lihat di pohon nangka, di pohon lain juga bisa hidup kan menjangan itu

    iya mas, memang adem kalau ada pepohonan begitu. setahu saya simbar menjangan / tanduk rusa bisa tumbuh di pohon lain juga karena di rmh pekl nempelnya di pohon mangga 🙂
    oya, menurut njenengan yg di foto itu simbar menjangan / tanduk rusa?

  4. kok sama sih, kenangan di kampungnya pohon nangka
    tiap pulang aku selalu terkenang masa muda suka pacaran di bawah pohon nangka sampai suatu saat dapat ciuman maut sampai masuk puskesmas gara gara mau nyium pacar malah ketiban nangka tepat di ubun ubun…

    seriuuus??? yg jatuh nangka mateng atau babalnya tuh? hehe… eh, klo gitu phn nangka itu patut dapat bintang jasa penjaga moral bangsa ya… hahaha…

  5. Pohon nangka yg ada di rumah masa kecil itu pasti banyak jasanya dalam menambah pasokan gizi keluarga ya Mbak 😉

    betul mbak Evi, sayur nangkanya bikin makan jadi tambah lahap sedangkan buah matangnya penambah vitamin ya.. 🙂

  6. wah seneng ya mbak kalau msh puny apohon itu, jd inget dulu di rumah ortu jg ada pohon nangka,tapi da ditebang deh

    alhamdulillah masih ada mba, sayang kalau mau ditebang, jadinya meski sdh tak produktif tetap dibiarkan hidup… pohon nangka memang umum ada di daerah kita ya mbak…

  7. Wah, asyik banget kalau ada pohon besar di halaman rumah gitu. Bikin suasana rumah jadi lebih sejuk 🙂

    Bersejarah banget ya pohonnya… Walaupun sudah kurang produktif, tapi masih sangat bermanfaat….

    Sukses ya mbak GA-nya 🙂

    iya.. setidaknya tetap jadi paru2 halaman, hehe… trims ya Ditter… 🙂

  8. Paling suka sama buahnya. Tapi paling males ngupas dan milihnya, soale luputen, MBa. . 😀

    Moga menang ya GAnya. . .

    iya, Idah… makan nangka mah paling asyik klo sudah bersih dari pulutnya.. hehe… Trims, Idah… Idah sudah ikut juga?

  9. dari batangnya itu emang kelihatan si pohon nangka ini udah tua ya..
    di rumahku nggak ada pohon nangka, tapi di rumah tante ada pohonnya, asyik main di bawahnya, pohonnya juga udah tua
    daunnya kami buat mahkota2an dan babal dibuat main masak2an, atau dibuat rujak betulan, rujak ala kampung

    haha.. betul mbak Monda… daunnya dirangkai dengan lidi, menjadi topi / mahkota kala kami main wayang-wayangan… rujak babal juga katanya enak, tapi kami belum pernah mencobanya…

  10. Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

    ada yg mau nerjemahin? hehe…

  11. adem ya punya pohon dirumah. giid luck ya GAnya mbak Arin

  12. Waktu aku kecil di Biak, punya juga pohon nangka. Pindah ke Medan juga ada, dan itu buah fave banget. Cuma jarang ada sih kalo udah di kota ya. Sampai Jakarta, ya lupakanlah, mana ada. Hehehe….

  13. dulu saya suka berlama-lama di atas pohon nangka kalo pulang sekolah
    buat puisi
    ato sekedar baca novel yg pinjem di perpus

  14. Auntie, aku jd ingat pohon mangga dan pohon jambu bangkok yg sering aku panjatin saat kecil dulu, dua2nya udah ga ada..
    Gudlak ngontesnya yaa

  15. Mba Mechtaaaaa…
    lama gak mampir2 sinih…
    Mohon maap lahir batin yah mbaaaaa 🙂

    Di depan rumah nenek ku ada pohon Jambu batu gedeeee dan rindang banget mba 🙂
    waktu kecil suka aku panjatin tuh, tapi sayang sekarang nenek ku udah pindah, pohon nya gak bisa dibawa 😦

  16. asik bgt yang punya pohon nangka. Nangka itu enak dan di sini sy agak susah carinya 🙂

  17. Kalo aku sering jadiin nangka sebagai campuran minum dawet

  18. bener mba, kalau punya pohon yg sudah tua gitu kadang sayang untuk ditebang. kayak pohon mangga depan rumah mba. sudah sering bikin rumah retak-retak melulu. tapi mau nebang abis sayang juga. dilema oh dilema 😦

  19. udh lama ga denger istilah pating granthul… hihi.. btw, nangka itu wanginya menyenangkan

    saya sering bingung nyari istilah indonesia yg pas mbak…jadinya pake bahasa ibu deh…hehe… setuju mbak, wanginya memang khas mengundang selera.. 🙂

  20. Saya termasuk penggemar nangka, Mechta…dan tanaman masa kecil di rumah saya adalah pohon mangga dan jambu solo. Itu lo jambu yang mirip jambu klutuk, tapi bentuknya kecil-kecil nyaris sebesar kelengkeng. rasanya asem dan buahnya yang matang berwarna kuning…
    Ah, ah…senengnya ya bisa pulang ke rumah masa kecil!

    waah.. jadi penasaran dengan jambu solo itu.. masih adakah pohonnya mbak? kapan2 ditulis ya… 🙂

  21. Ping-balik: Produktif lagi | Lalang Ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s