Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Ketika anak bermasalah dengan guru

18 Komentar

Sudah 2 minggu ini, Lin -salah satu keponakan kami- mogok sekolah khusus pada hari kamis.  Awalnya dia tak mau cerita apa masalahnya, hanya selalu mencari-cari alasan agar bisa absen di hari itu.  Kemudian akhirnya setelah dibujuk-bujuk oleh Eyangnya, dia mau bercerita bahwa dia takut pada guru ketrampilannya yang mengajar tiap hari kamis.

Rupanya, kamis tiga minggu lalu, gadis kelas 4 SD itu mengalami perlakuan kasar dari Pak Gurunya itu.  Si bapak guru yang memang sering marah-marah dengan mengeluarkan koleksi kebun binatang itu, siang itu menarik kerudung & kerah bajunya dari belakang hingga mencekik lehernya.  Saat ia menangis dan mengadukannya kepada guru wali kelasnya, si ibu guru kemudian mengatakan akan melaporkan kepada kepala sekolahnya namun meminta Lin untuk tidak bercerita kepada orang-tuanya.

Rupanya perlakuan kasar itu membawa trauma tersendiri bagi Lin, hingga ia selalu mencari alasan untuk tidak masuk pada hari kamis, yang berarti bisa menghindari guru yang ditakutinya itu.  Ketika ditanyakan kepada Lan -kakak Lin yang juga pernah diajar guru itu- memang kata Lan pak guru itu pemarah, dan cengkiling / suka main tangan pada murid-muridnya.

Akhirnya orang-tua Lin menghadap langsung ke kepala sekolah untuk melaporkan hal itu, karena mereka takut putrinya ketinggalan pelajaran jika terus bolos di hari Kamis.  Ketika dipertemukan dengan guru tersebut oleh kepala sekolah, sang guru tadinya tidak mengakui perbuatan itu, namun pada akhirnya mengakui dan menyembah-nyembah memohon maaf, mohon agar masalah tidak diperpanjang karena ia takut hal itu mematikan karirnya.

Sang kepala sekolah juga menjanjikan akan membawa masalah tersebut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Dinas Pendidikan. Namun yg menjadi masalah kini, apabila sang guru tetap mengajar selama proses itu, kami justru takut bila ia mendendam dan melampiaskannya pada Lin ataupun kawan-kawannya.  Bagaimana menghindari hal itu?

Beberapa tahun lalu, salah satu keponakan kami lainnya pernah pula mogok sekolah karena trauma atas perlakuan keras gurunya.  Namun karena saat itu dia masih kelas 1 SD, memindahkannya ke sekolah lain menjadi alternatif yang menyelesaikan masalah. Sampai dengan saat ini, di sekolah baru si anak tenang bersekolah  dengan nyaman.  Apakah alternatif pindah sekolah masih tepat bila diterapkan pada Lin, mengingat ia sudah kelas 4 ?

Rekan-rekan…, mungkin ada masukan buat kami? Kami tunggu yaa…

18 thoughts on “Ketika anak bermasalah dengan guru

  1. Ya Allah itu guru keterlaluan bavget. menurutku sebelum lebih banyak menciderai anak2 itu guru dinon aktifkan dulu. kalau soal sukamarah2 bukan persoal sepele bagi seorang pendidik, Mbak

    mudah2an sekolah bisa mengambil langkah itu mbak… karena setelah kami tanya2 lagi, rupanya memang guru itu sudah punya catatan buruk itu cukup lama.. hanya kok belum ditindaklanjuti sekolah…

  2. Tidak perlu pindah sekolah Jeng.
    Orangtua komunikasi dengan Kepsek untuk ikut memantau kemungkinan dendam dari pak guru tersebut.
    Salam hangat dari Surabaya

    maturnuwun masukannya Pakdhe.., sementara ini mungkin si anak mesti ditunggui dulu ya… atau dititipkan khusus ke guru wali kelasnya…

  3. POMG … Atau Komite Sekolah …
    Bersama orang tua wali murid lainnya bersatu untuk mengawasi tindakan guru yang sudah kelewat batas.

    Jika sampai mendendam … Berulah kembali … Terpaksa diambil tindakan

    Salam Saya

    terima kasih masukannya Pak Her… Komite sekolah, memang seharusnya bisa menjalankan perannya dengan baik ya Pak..

  4. mba Mechta,
    apa kabaaaar? Udah lama aku gak mampi mampir sini deh…
    Mudah2an pada sehat semua yah mba🙂

    Itu agak serem juga yah mba perilaku guru yang seperti itu…
    Apalagi sampai membuat sang anak trauma ke sekolah…

    Dan menurutku tindakan orang tua sudah tepat untuk membahas hal ini ke kepala sekolah dan minta ditindaklanjuti…
    Supaya gak keterusan perilaku kasarnya…
    Dan usul Om NH boleh juga tuh mba, dibicarakan di forum POMG aja, minimal sang guru menyadari bahwa para orang tua
    sudah mengetahui tindakan buruk nya dan dia harus bersedia berubah…

    Mudah mudahan Lin udah gak trauma lagi buat masuk sekolah yah mbaaaa🙂

    Erry… kangen oi… maaf juga ya, aq juga blom bs bw sana-sini… iya mudah2an dg tindakan yg sdh diambil masalah teratasi & Lin tak trauma lagi..🙂

  5. Saya pikir kita juga memiliki tanggungjawab untuk membantu dunia pendidikan menjadi lebih baik dengan cara menyampaikan dengan baik apa yang layak dan tidak layak dilakukan maupun diucapkan guru terhadap anak didiknya demi perbaikan dunia pendidikan. Saya pikir apa yang dilakukan oleh orangtua Lin dengan membicarakan masalah ini kepada Kepala Sekolah sudah tepat. Minimal Kepala Sekolah harus mengatur agar Lin tidak ada kesempatan bertemu dengan guru yang dimaksud, dan memberikan Surat Peringatan keras atas kelakuannya itu. Jika ia melakukan pelanggaran -pelanggaran kembali tentu berikutnya ia harus menerima Surat Peringatan II dan ke III hingga akhirnya ia diberhentikan – karena memang tidak layak untuk menjadi seorang pendidik.

    terima kasih masukannya, mbak Dani… semoga masalah ini bisa diselesaikan dengan baik..

  6. Tidak perlu pindah sekolah, mbak.
    Kuatir nanti ada efek tidak baik buat Lin, bahwa menyelesaikan masalah bukan menghadapi dan mencari penyelesaian, tapi melarikan diri dari masalah.

    Saya pernah mengalami waktu sulung saya kelas 3 SD. Mirip dengan Lin, mendapat kekerasan fisik dan kata-kata kasar. Sulung saya laki-laki. Waktu itu yang saya lakukan, mencari benang merah dengan sang guru. Kemudian saya sering mengajak ngobrol guru itu diluar pelajaran, didepan si sulung. Maksud saya, ingin memperlihatkan bahwa saya berteman dengan gurunya. Juga membuat kesan untuk sang guru, bahwa si sulung mempunyai orang tua yang memperhatikan dan mengawasinya.
    Alhamdulillah, suasana membaik. Sulung saya jadi bisa kembali sekolah dengan perasaan tenang.

    begitu ya mbak…. salut kepada mbak Niken yg tak tersulut emosi yg bisa memperburuk suasana. Terima kasih masukan & sharing pengalamannnya, mbak..

  7. Samperin aja lah
    Mungkin guru itu belum mikir kalo anak sekarang ga bisa diperlakukan seperti jaman dia sekolah dulu
    Hampiri pelan pelan, tatap matanya, bicara dengan lembut, lalu todongin pisau… hehe pisss

    wkwkw… yg komen muridnya si deddy botak itu ya… hobby amat minta ditatap matanya..🙂 tapi, thx lho mas..

  8. jadi ingat adik laki-laki saya dulu bun tidak mau sekolah dipelajaran agama karena gurunya galak, orangtua saya memindahkan sekolahnya akhirnya. setelah saya baca komen-komen diatas ada betulnya juga kita harus menghadapai kalau pindah sekolah sama saja kalah tidak akan membuat jera guruny

    sebaiknya memang diupayakan selesai dulu masalahnya di situ tanpa harus pindah ya… yaah, mudah2an sih bisa gitu…

  9. Itulah contoh guru yg gak selalu patut diguGu lan ditiRu. Kadang kelakuan mereka emang waGu lan saRu. Solusi emg kudu dan gak bikin guru ybs ngelampiasin dendamnya pada murid lain. Udah, didemo ajah! Org kayak gitu gak patut jadi GURU!

    aah, semoga masih banyak guru yg bener2 bisa diGUgu & ditiRU dan agar segelintir yg waGU tur saRU itu tak mencemari yg banyak ya… Trims komennya…

  10. coba diskusikan dg org tua lain terutama dg POMG. Biasanya kl ada guru yg kasar, kasarnya gak cuma ke satu anak. Nanti bersama2 pantau lg sampe seberapa jauh tindakan dr sekolah. Kl gak ada tindakan, protes lagi

    iya Chi.. solusi yg itu sedang dipakai sekarang, bersama POMG mengawasi tindak tanduk guru dimaksud.. mudah2an sih tak berkepanjangan masalahnya.. Trims masukannya ya..

  11. Setuju dengan pakde Cholik,
    Tak perlu pindah
    Tingkatkan komunikasi antara orangtua, wali kelas dan kepala sekolah.

    Saya dulu tiap sebulan sekali mesti apel ke sekolah, tanya ini itu, monitor perkembangan anak dan kenalan sama guru-guru nya. Hal ini membuat guru2 merasa dianggap dan baik sama kita. Namun kita tetap tegas untuk tidak mencampuri nilai.
    (Btw monitor ke sekolah ini saya lakukan sejak anak-anak TK, SD, SMP, SMA bahkan di PTN).

    Saran yg bagus Bu Enny… memonitor perkembangan anak sekaligus mendekatkan hati dengan guru anak-anak ya bu.. terima kasih…

  12. Jangan buru-buru dipindahkan. Mechta…evaluasi dulu dalam sebulan, apakah anak sudah kembali merasa nyaman di sekolah?
    Kalau toh anak tetap tersiksa sehingga menimbulkan trauma berkepanjangan, pindah sekolah rasanya harus dilakukan. Bukan apa-apa, sisa waktu 2 tahun itu cukup lama, kasihan kan kalau selama itu dia trauma dengan guru ketrampilannya.
    Kecuali, kecuali nih…sang guru sudah tidak mengajar lagi di kelas 5 dan 6 nanti…

  13. Astagaaaa…. kurang ajar amat guru kayak gitu. Kalau aku langsung kulabrak dan aku laporkan ke polisi sekalian. Jadi emosi bacanya.
    Benar kata Om NH. POMG harus bertindak untuk menghadapi adanya guru2 lain yang seperti itu.

    Duh kasihan ya…. tapi kalau sudah trauma, menurutku dia pindah lebih bagus. Karena trauma itu tidak bisa hilang dengan cepat, meski di mulut dia bilang sudah tidak apa-apa, tapi perlakuan itu masih ada di dasar hatinya.

    Trims komennya Zizy… sdh dilaporkan Kasek & POMG, tp tindakan ke guru itu br sebatas peringatan saja😦

  14. zaman seperti ini sepertinya sudah tidak pantas lagi guru bersikap seperti itu,…benar2 bukan seorang pendidik sejati

    mudah2an tak ada lagi yg seperti itu…. terima kasih sdh mampir & komen, Bunda Firzha🙂

  15. keterbukaan ketiga pihak, anak-ortu-guru sangat membantu ngudari keruwetan itu ya Jeng. Sangat belajar dari postingan ini. salam

    mudah-mudahan masalah ini benar-benar ‘terudari’ bu.. hehe…. Sugeng beraktifitas, Bu Prih🙂

  16. semakin sering menasehati murin maka akan meluluhkan hati si murid. terlebih lagi jika bisa mengahdirkan momen-momen yang tak terlupakan bagi sianak.

    lalu bagaimana dg si guru? siapa yg harus sering2 menasehatinya agar tak keluar jalur?

  17. hal yg dialami lin terjadi juga dianak saya, sampai saat ini pun anak saya ada rasa takut yg berlebihan untk sekolah, bagaimana klo nanti dr pihak kepala sekolah tidak ada tindak lanjutannya dan bagaimana klo kepala sekolah membela guru tersebut.karna dr pertama anak saya takut dgn guru agama..dan setelah sya shring ke guru( wali kelas) tersebut rasa takut malah bertambah bukan berkurang…saat ini anak saya duduk di kelas satu..

    • Semoga dg komunikasi yg intensif melibatkan siswa-guru-orangtua masalahnya sgra bisa di atasi ya… Krna klo sampai berlarut-larut kasihan.. Kunci utama adlh menemukan sebab / pemicu masalahnya ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s