Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Ketika masa jaya Si Emas Hijau ‘tlah berlalu…

7 Komentar

biji-anth

Pernah ada masanya, biji-biji itu begitu berharga.  Th 2007, per biji Anthurium Jenmannii dihargai Rp. 150.000-an,  sedangkan bibit berdaun 2 helai sebesar jempol saja dihargai ratusan ribu rupiah. Apalagi indukan yang sudah menampakkan tanda-tanda bereproduksi dengan tongkol penuh biji… wiih… pasti diburu oleh banyak peminat, sehingga harganya meroket dan si empunya bisa kipas-kipas dengan uang hasil penjualannya….  Eh, pernah dengar istilah ‘Kaji Kembang’ ? itu lho.. seseorang yg berhasil pergi haji dari hasil penjualan kembang / tanaman (baca : anthurium) nya..  Itulah salah satu fenomena di masa jaya si ’emas hijau’ itu…

Namun, sebagaimana roda berputar dan musim berganti, kini Anthurium seolah tenggelam dan kehilangan pamornya.  Bila dulu pemiliknya selalu menempatkannya di tempat khusus, memperlakukannya dengan sepenuh hati dan memperketat penjagaannya dari tangan-tangan usil, maka kini banyak terlihat pot-pot anthurium yang tergeletak begitu saja di sudut teras atau di bawah pohon di pekarangan.  Tak ada lagi rasa takut kehilangan karena ia seolah tak berharga lagi…

Ah, Anthurium…. riwayatmu kini tak lagi seelok masa keemasan tempo hari… tapi bersabarlah…, siapa tahu roda akan berputar lagi dan masa jayamu akan kembali🙂

Anthurium

Catatan :

Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di blognya Oom NH saat menggelar ‘Karsini’ beberapa waktu yg lalu… dan yg membuat ‘tertebak’ buka gaya penulisanku melainkan jenis kamera jadul yg kugunakan…hihi….

7 thoughts on “Ketika masa jaya Si Emas Hijau ‘tlah berlalu…

  1. Sekarang yang lagi masa keemasan apa ya kira2? Ayam alas kayaknya

    atau aya ketawa?? eh.. kok mau ya tiap pagi diketawain ayamnya..haha…

  2. benar2 tlah berlalu mba. dulu ketika masa jayanya, maling aja doyan anthurium mba,….. sekarang…???

    iya Yun… aku eprnah termehek-mehek karena pagi2 nemuin satu pot anthurium badak kosong melompong…. eh, sekarang 4 pot besar teronggok begitu saja dibawah pohon jambu..hehe… kesian dweeh…

  3. Itu indah bener sih Mba Mechta emang kembangnya. Kaji kembang pernah denger emang..😀

    itu temannya Kaji Siti (yg tanahnya laku) dan Kaji Wahyu ( sing sawahe payu…) hehe…

  4. Hehe ingat Karsini edisi ini, warning om NH bukan tulisan mbak Monda dan tukang kebun. Saya ingat nebak gaya tulisan Diajeng, dan yang salut kepiawaian Kang Yayat merunut dari kamera. Serunya Karsininya Om NH.

    Oom NH memang jempol, nggih bu… yang terbaru, trumalin dari beliau bikin saya terharuuu….🙂

  5. Sekarang sudah dilupakan orang-orang ya…

    mungkin masih banyak juga yg tetep ingat & setia mas..hehe….namanya juga hobby…

  6. Mbak Mechta, waktu Anthurium sedang jaya-jayanya, aku punya satu pot. Pohonnya besar dan diletakan di depan rumah. Namun karena tak abai dengan kehebohan di dunia pohon-pohonan jadinya Anthurium ku itu tak biarkan saja merana sampai akhirnya mati hehehe..

    waah… sayang ya mbak… eh tapi punyaku juga sdh tak semenarik dulu karena sering kalah prioritas dg keg lain..hehe…

  7. pas ke kampung halaman kmrn beberapa kali pas main ke rumah saudara juga melihat kembang di atas mbak, daunnya keren ya gede gede😛

    betul mbak, utk yg punya tempat luas bagus deh… bisa berkembang dg baik di pot besar… cantik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s