Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Perkenalanku dengan BPJS-Kes

21 Komentar

BPJS -Kes ? Apa itu?

Sejak akhir tahun lalu sudah banyak spot iklan di TV yang mengenalkan program baru pemerintah ini.  Rupanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bidang Kesehatan  ini adalah transformasi dari ASKES dan Jamsostek ya..

Apa dan bagaimana BPJS Kesehatan itu dapatlah di-google rame-rame…, karena tulisan ini bukan membahas tentang hal itu.  Hanya sekedar berbagi pengalaman pertama berkenalan dengan program ini.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengikuti sosialisasi tentang program ini, jadi sedikit banyak sudah ada persiapan ketika harus beralih dari pelayanan ASKES ke BPJS Kes ini.  Berdasarkan informasi yang kudapat, pada awal th 2014 sebagai masa peralihan ini, kartu ASKES  (juga kartu Jamkesmas ataupun Jamsostek ) lama masih berlaku sebelum kartu baru diterima.  Olehkarena itu dengan PD aku melangkah santai menuju RS dengan berbekal surat rujukan dari puskesmas & kartu lama itu.  Paling nanti prosesnya sama seperti biasanya, pikirku.

Sesampainya di depan ruang pendaftaran, aku pun mengambil no urut, meletakkan kartu + surat rujukan itu di depan loket ASKES yang biasanya, lalu mengambil tempat duduk di dekat situ.  Tapii… kok rasanya ada yg salah ya? apa itu? Kuedarkan pandanganku, ruang tunggu itu sudah hampir penuh. Lalu kulayangkan pandanganku ke loket ASKES -yang saat itu masih tutup- kok tak tampak tumpukan kartu seperti biasanya ya? Kaca pemisah loket itu pun tampak berbeda. Apanya???

Kembali aku meneliti… dan rupanya tak ada lagi tulisan ASKES besar berwarna hijau yg biasanya ada di kaca itu. Eeh.. sudah tak melayani kah? lalu kuambil lagi kartuku, sambil mengamati mencari-cari pengumuman / petunjuk tertulis tentang alur pelayanan yang baru. Tak ada.  Maka akupun bertanya pada mbak-mbak yg duduk di sebelahku, apa konter ASKES tutup? Iya menggeleng tak tahu…

Untunglah sebentar kemudian nomor urutku dipanggil, aku pun bergegas maju ke loket pendaftaran.  Ternyata memang tak ada lagi konter khusus pelayanan ASKES / Jamkesmas/ dll… Semua calon pasien dilayani di loket pendaftaran itu, termasuk pembuatan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang biasanya dibuat di loket ASKES.

Masalah pertama datang, yaitu aku tak membawa fotokopi kartu ASKES.  Memang duluuuu…kalau mau menggunakan ASKES harus bawa copy kartu itu beberapa lembar.  Tapi kemudian aturan itu berubah, hanya perlu menunjukkan kartu asli saja.  Eeh… ternyata aturan jadul itu sekarang berlaku lagi.  Harus melampirkan copy kartu ASKES untuk mendapatkan SEP. Naah.., aku harus keluar antrian dulu untuk memfotokopi kartu itu…dan di lingkungan RS (yg memang relatif baru) tak ada tukang fotokopi! 😦

Setelah episode cari-cari fotokopi di sekitar jalan dekat RS itu, akhirnya akupun berhasil melampirkan fotokopi itu, lalu duduk manis lagi menunggu nama dipanggil untuk menerima SEP yang dilampirkan bersama surat rujukan untuk dibawa ke poli yang kutuju.  Setelah itu, di poli menungguuuu lagi, diperiksa, dan diminta ke lab esok harinya.

Masalah kedua muncul ketika keesokan harinya aku mendaftar lagi untuk ke lab.  Kali ini juga dengan PD, karena sudah bawa fotokopi kartu beberapa lembar.  Ternyata eh ternyata, masih ada yg kurang juga.  Surat rujukan harus disertakan lagi, padahal…surat asli kemarin sudah kadung dipakai untuk nebus obat.  Waalaah… njur piye?

Untung mbak petugas pendaftaran baik, aku disarankan ke apotik, pinjam surat rujukan itu untuk dicopy dulu. Halaah… kok aku bermasalah terus ya dg fotokopian? hehe… Sudah kebayang harus keluar area RS lagi nyari tukang fotokopi..balik lagi, ngantri lagi… huuh… membuang waktu amaat… 😦

Tapi alhamdulillah…, ternyata bayangan suram itu tak terjadi.  Mbak petugas di apotik juga berbaik hati mencarikan surat rujukan itu untuk kucopy, lalu tepat di pintu keluar RS ketemu teman yang bekerja di RS itu, setelah saling berkabar lalu dia tahu kesulitanku… eh, dengan tenang dia meminta surat itu untuk dicopykan di ruang kerjanya. Alhamdulillah…pertolongan Allah selalu dekat… Akhirnya acara hari itupun lancaaar…

Jadi, bagi peserta ASKES / Jamsostek / Jamkesmas yang akan segera beralih menjadi peserta BPJS-Kes dan menggunakan hak rujukan ke RS, jangan lupa :

  1. Minta surat rujukan ke pelayanan kesehatan tk I ( dokter keluarga / puskesmas ).
  2. Siap fotokopi surat rujukan itu beberapa lembar.
  3. Siap fotokopi kartu ASKES / Jamsostek / Jamkesmas beberapa lembar.
  4. Saat pendaftaran di loket, serahkan 1 copy Surat rujukan & 1 copy kartu.  Aslinya tetap disimpan sendiri. (Karena surat rujukan dapat digunakan berkali-kali hingga 1 bulan setelah tanggal surat).

Naah… itu perkenalanku dengan BPJS-Kes… Kurang menyenangkan, tapi merupakan pengalaman berharga buatku..hehe..  Oya, mudah-mudahan akan banyak disosialisasikan tentang arus pelayanan baru dengan BPJS ini, baik di media massa ataupun tertulis di tempat-tempat pelayanan kesehatan, sehingga tak banyak orang yang bingung lagi dan merasa diputar-putar..hehe….

Bagaimana denganmu, teman? sudah berkenalan dengan BPJS kah? 🙂

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

21 thoughts on “Perkenalanku dengan BPJS-Kes

  1. Semoga yang anda alami, jadi bekal yang lain supaya bisa langsung dilayani, tidak bolak balik!

    memang sebaiknya cari info dulu pak..biar gak bolak-balik seperti seya, hehe…

  2. Maturnuwun Mba Mechta.. belom pernah tahu sosialisasi mengenai BPJS-Kes ini karena memang tidak [pernah lihat TV dan baca koran Mba.

    kebetulan kami diundang saat mereka sosialisasi di slh 1 Kec, dan juga saat ada sosialisasi di tempat kerja, Dan…

  3. kenapa pelayanan plat merah masih saja ribet ya?
    ktp sudah pake chip semestinya banyak pelayanan yang butuh identitas disatuin sama ktp sehingga tiap instansi cukup pake satu reader untuk banyak hal. tapi mbuh ah kasian pejabatnya tar ga banyak proyek…

    hehe… no komen laah.. sesama plat merah soale… qiqiqi…

  4. infonya berguna bun buat teman2 yang berurusan dengan BPJS. itu daftar peroarangan atau gimana sih bun? aku gak ngerti.

    Kalau yg sebelumnya peserta ASKES, Jamkesmas ataupun Jamsostek, sudah otomatis melimpah menjadi peserta BPJS. Selanjutnya iurannya dibayar sharing antara pekerja & pemberi kerja. Nah kalau diluar itu bisa juga daftar perorangan / per keluarga… rencananya ditahun 2019 semua warga negara wajib jd peserta BPJS… Info lebih jelas, hub. kantor BPJS setempat 🙂

  5. aku malah baru tahu ttg BPJS dr sini mbak 😛

    masih ‘barang’ baru mbak… masih menuai pro-kontra, hehe… tapi buatku yg terlanjur butuh, yaa… hayuu aja dijalani..hehe..

  6. cara daftar yg buat umum, pripun mba’yu…? dapat slentingan dikenai sekitar 25rb per bulan

    datang saja ke kantor BPJS (yg dulunya ASKES), bawa KTP, KK, pasfoto. Daftar, Buka rekening di Bank yg ditunjuk, kembali ke kantor BPJS utk dibuatkan kartunya. Ada 3 pilihan : (1) Rp. 25.500/org/bln utk yg milih kamar perawatan klas III. (2) Rp. 42.500/org/bln utk kmr perawatan klas II. (3) Rp. 59.500/org/bln utk kmr perawatan klas I. Kuranglebih begitu infonya, Yun…

  7. bekal informasi yang sangat berharga, meskipun sampai saat ini saya belum pernah menggunakan kartu itu. selama ini kalau berobat pilih ke dokter praktek yang sudah akrab tinggal minta kuitansi sebagiannya akan diganti oleh kantor

    masing2 tempat kerja mempunyai kebijakan berbeda ya.. tapi, rencana pemerintah, th 2019 semua warga negara wajib menjadi peserta BPJS ini.. rencana pemerintah saat ini, lho… gak tahu ntar habis pemilu / pemerintahan baru, hehe…

  8. Sharing yang sangat berharga Jeng, sementara masih perkenalan dg bpjs nih. Semoga layanan kesehatan dan pendidikan makin membaik.

    semoga tak perlu menggunakan bpjs-kes, ibu.. 🙂

  9. saya pakai asuransi, cukup bawa kartunya gesek beres.
    cuma nilai preminya kecil.
    😀

    mungkin bentar lagi Perusahaan akan beralih BPJS juga, kalau menarik.

    klo swasta kan bisa milih, ya? klo plat merah mah, terpaksa wajib.. hehe…

  10. Well! Sementara masih banyak org yg belum kebagian pelayanan ini atau bahkan gak kejamah sama sekali, pemerintah sok bijaksana-sini maen transformer2an. Siapa berani bilang kalo dg adanya kebijakan2 baru, trus belum lagi sosialisasi2 gak makan biaya? Bijaknya kan diratain dulu pelayanan ampe ke lapisan terbawah, baru deh ditransformasi! Ckckck

    yak! suarakan pikiranmu, Nang! jangan dipendam terus..ntar jerawatan.. haha…

  11. Wah nggak sengaja saya dapat info bermanfaat nich , saya juga punya askes dan juga jamsostek masalahnya..salam..

    mudah2an info kecil ini ada manfaatnya pak… 🙂

  12. Wealah… prosedurnya memang ribet atau dibikin ribet, nih?
    Beberapa orang akan mengartikannya sebagai sinyal mengajak perang. 😀

    Mungkin akan terasa tak begitu ribet jika sosialisasi tentang alur & syarat-syarat pelayanannya ditingkatkan…sehingga setiap pendaftar sudah siap, hehe…

  13. Sedia payung sebelum hujan sepertinya berlaku dalam hal ini ya.. Yaitu sedia fotocopy sebelum datang di konter bpjs..

    Salam

    betul..betul..betul… 😀

  14. Bagi yang tak tahu dan kurang persiapan, proses peralihan agak merepotkan ya Mbak Mechta. Iya semoga lebih banyak sosialisasi lagi. Kasihan keluarga yang sedang sakit tapi mereka belum beralih. Terbayang alangkah repotnya. Mana yang mau diurus, si sakit atau prosedur peralihan 🙂

    begitulah mbak… makanya, sejak awal ini saya sudah ‘ngoyak-oyak’ kakak & adik saya agar segera ngurus mumpung kondisi semua sehat…sama sekali ngga berharap sakit, namun setidaknya bila suatu saat diuji sakit, minimal sudah siap ‘payung’nya… 🙂

  15. main juga kemari 😀
    hai, Auntie Mechta.. saya punya kartu jamkesda mandiri, berlaku sampai Feb 2014. mau perpanjang lagi bingung kudu ke mana *garukpala*

    Selamat datang, Phie… silahkan merapat ke kantor BPJS terdekat ya 🙂

  16. Kalau untuk penyakit kronis sepertinya bisa langusng menuju Rumah Sakit .. saya peserta BJPS juga dengan Iuran 60 Ribu Rupiah per Bulan ,

    dalam kondisi darurat memang dimungkinkan untuk langsung ke RS tanpa rujukan… semoga pelayanan BPJS kedepan makin meningkat ya…

  17. saya baru daftar jadi anggota BPJS semoga saya bisa dapat pelayanan untuk persalinan nanti dengan menggunakan kartu BPJS

    In sya Allah jeng Penny… Semoga diberi kemudahan & kelancaran nantinya, dan bu anak sehat semua yaa… aamiin…

  18. Sepegalaman saya, kalau kita tinggal di daerah dengan pelayanan kesehatan yang bagus (puskesmas, dokter) menggunakan Kartu BPJS sangat membantu. Tapi jika tinggal di daerah yang mutu pelayanananya buruk, menggunakan kartu BPJS sungguh merepotkan. Seperti yang saya alami, setiap berobat ke RS harus minta rujukan dari puskesmas (yang pelayanan dan peralatannya tidak memadai bahkan boleh dibilang buruk). Untuk dapat surat rujukan antri paling tidak sengah jam (kondisi normal/tidak terlalu rame pasien), kemudian melakukan pendaftaran di RS, yang antrinnya jauh lebih lama (bisa 1-1,5 jam), belum lagi antri di klinik dokternya… iya kalo RSnya bagus, kalo tidak, sia-sia semuanya, karena dokternya bilang ini tidak bisa ditangani disini karena alasan tidak ada obatnya/alatnya….duh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s