Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Harta Karun dari Mbah Kakung

18 Komentar

Beberapa waktu lalu, saat ibu kondur  ke rumah kami di Semarang, beliau sempat bersih-bersih sebuah almari di kamar swargi  Simbah Putri yang sudah cukup lama tak pernah dibuka lagi.  Nah, saat bersih-bersih almari itulah, ibu menemukan beberapa barang yang bisa dikatakan sebagai ‘harta karun’ bagi kami.

Barang-barang apakah itu???

Segenggam berlian atau kah segepok uang?

Hehe…. bukaaan… Sama sekali bukan keduanya.  OK deh… biar tak berlama-lama penasaran, ini dia penampakan barang-barang itu .  Taaraaaa….. (*diiringi suara drum khayalan..) :

Buku warisan Mbah Kakung

Buku warisan Mbah Kakung

Haah?? cuma buku-buku kumal begitu?? Harta karun dari Hongkong?!

Ups, maaf ya teman… Bagi kalian, mungkin itu memang sekedar buku-buku kumal, namun bagi keluarga kami, itu setara dengan harta karun, karena itu adalah buku-buku berisi tulisan tangan dari almarhum Mbah Kakung -bapaknya ibu- yang sudah meninggal ketika ibu kecil dan sama sekali belum pernah kami -cucu & buyut beliau- kenal secara langsung.

Selama ini kami hanya mengenal beliau melalui cerita dari Mbah Putri atau ibu, kami hanya tahu bahwa beliau adalah seorang guru SR yang seda saat ibu kami berumur 8 tahun, dimakamkan di tempat tugas beliau yang terakhir yaitu Semarang, kota yang kemudian menjadi kota kedua dalam sejarah hidup kami setelah Kota Salatiga yang menjadi kota kelahiran kami.

Alhamdulillah, salah satu buku itu berisi catatan khusus yang dibuat oleh almarhum Mbah Kakung, tentang cerita masa kecil beliau hingga masa-masa awal tugas beliau sebagai guru SR / setingkat SD .  dari catatan itulah kami menjadi lebih mengenal beliau.

Lajang Babad Lelakone Kasija

Lajang Babad Lelakone Kasija

Uniknya, khusus catatan kisah hidup beliau itu tertulis dengan huruf jawa alias ha-na-ca-ra-ka sedangkan buku lain berisi catatan tentang bahan mengajar beliau tulis sudah dengan huruf latin.  Terus terang aku dan kakak-adikku kesulitan membaca catatan yang beliau sebut Lajang Babad Lelakone Kasija  itu, namun alhamdulillah ada ibu yang masih lancar membaca huruf-huruf  tradisional itu.

Akhirnya aku dan ibu berkolaborasi mengabadikan catatan peninggalan Mbah Kakung itu. Ibu yang membaca / mendiktekan catatan simbah itu sementara aku langsung mengetikkannya kembali -masih dalam bahasa Jawa- dan nantinya bertugas menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, agar cucu & buyut dari Mbah Kasiyo Priyosudarmo dapat membaca & mengambil hikmah dari catatan beliau itu.  Insya Allah…

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

18 thoughts on “Harta Karun dari Mbah Kakung

  1. Subhanallaaah. Merinding terharu bacanya saya Mba. Kebayang bagaimana nanti anak cucu baca blog yang kita tulis. Huehehe…

    jadi makin hati-hati saat menulis, ya Dani.. hehe…

  2. Salut buat yang udah nyimpen catatan mbah kung, semoga catatan2 dalam bukunya bermanfaat.

    Insya Allah mas… dalam catatan beliau menyebutkan ingin agar anak cucunya bisa tahu kisah hidupnya…dan itu ‘kelakon’ saat ini… hiks.. *terharuu…

  3. masih tersimpan ya mbak, harus di simpan buat kenang-kenangan

    alhamdulillah, saat ini masih relatif utuh & bisa dibaca… mudah2an kami dapat cara tepat menyimpan kenang2an ini…

  4. Tulisannya benar-benar rapi mbak, sehingga mudah membacanya

    tulisan pak guru..memang rapi.. *jadi malu ingat tulisanku yg cakar ayam ini..hehe…

  5. Betapa beruntungnya seorang cucu mendapat warisan seperti ini. Semoga digitalisasi mengawetkan buku-buku ini ya Mbak Menchta 🙂

    iya mbak Evi… sedang berusaha discan agar dapat tersimpan filenya…

  6. mbak.., itu ada ilustrasi buatan mbahkung juga..?
    hebat banget beliau yang sangat rapih menulisnya
    dibuat mikrofilmnya mbak, atau difoto per lembar.., bagus sekali untuk dokumentasi keluarga

    Bukan mbak… ilustrasi itu ada di sampul buku tulisnya mbak… kami sedang berusaha utk men-scan halaman2 buku itu, mbak… mudah2an berhasil menyimpan semuanya…

  7. wow …… beruntung sekali ya mbak msh punya harta warisan yg tak ternilai harganya itu, apalagi yg ditulis dgn hanacaraka, jd kepo sama isinya mbak 🙂

    alhamdulillah, mbak Eli… senang bisa kenal beliau lebih dekat lewat cerita hidup beliau ini… yang hanacaraka itu tentang kisah hidup beliau mbak… insya Allah akan kutulis ulang di sini nantinya…

  8. wah, mbak kakungnya keren, jaman segitu dan bikin diary.
    Jadi membayangkan suatu saat blog ini ditemukan oleh anak cucu buyut canggah.

    dan saya jadi tahu….darimana ‘akar’ hobby nulis ini, hehe…

  9. MasyaAllah…, berdesir hatiku. Ini luar biasa, Mbak. Insya Allah besar manfaatnya tuh. Sungguh, salut bangeeet….

    Ya pak, mudah2an bermanfaat bagi anak-cucu-buyut beliau… 🙂

  10. Bener2 harta karun kalau kayak gini sih. Tulisannya rapi banget ya Mbak.

    mungkin karena guru ya, Teh… hehe

  11. Subhanallah,,keren banget itu mbak,,bisa disejarahkan itu,,aku juga pengen tau apa isinya setelah nanti diterjemahkan ke dalam bhs indonesia…

    Disimpen baik-baik niih..hehe… Baru ditulis kembali masih dalam bahasa Jawa..belum diterjemahkan ke Indonesia..hehe..

  12. wah beruntung banget yah, masih bisa menemukannya… dulu mbah buyutku juga meninggalkan buku dari kulit binatang yang konon tersimpan dalam satu peti. sayangnya sudah dimakan rayap sebelum aku dewasa. cuma mendengar kisahnya saja…

    waah… sayang sekali yaa… naah, sekarang kita tinggalkan jejak utk anak cucu di masa depan lewat blog masing2 ya..hehe…

  13. Diajeng…..syukur haru saat membaca postingan ini. Nyuwun tulung inggih Ibu, dipun dampingi diajeng untuk mengetik ulang dalam bahasa jawa. Suatu saat ada 3 versi, aksara Jawa, bahasa Jawa dan bahasa Indonesianya. Semangat Diajeng, jadi amanah keluarga besar. Salam hangat dari Sal3

    alhamdulillah versi bahasa jawa latin sudah siap, tinggal versi indonesianipun..hehe… salam hangat kagem Ibu & kelg di Salatiga…

  14. Peninggalan yang luar biasa, Mechta…itu adalah harta yang tak ternilai karena berupa ilmu yang bisa diturunkan ke anak cucu…jadi penasaran nih dengan terjemahan bahasa indonesia-nya…
    😀

    betul mbak.. sangat berharga meskipun isinya sekedar cerita masa kecil mbah kakung…. 🙂

  15. harus dilestarikan. biar sudah rusak dan kuno buku itu bersejarah dan berilmu. yang lebih mengagumkan lagi itu dibuat oleh tulisan tangannya sendiri

    iya.. ini lagi cari cara bagaimana agar kertas tulisan tangan tersebut bisa awet… tinta jaman dulu juga keren abiss… 🙂

  16. Ping-balik: Lajang Babad Lelakone Kasijo (1) | Lalang Ungu

  17. Ping-balik: Terkini Tiada 'harta karun' ditemui di Pulau Nangka - KOPI LEKAT

  18. Ping-balik: Kumpul-kumpul di libur Lebaran. | Lalang Ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s