Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Pilihan ketiga

23 Komentar

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?”

“Karena aku sayang kamu, Nad. Sangat. Itu sebabnya aku memberimu kesempatan pertama untuk memilih yang terbaik bagimu…” jelasku panjang lebar.

“Tapi aku tak mau memilih! Karena itu berarti kita tetap akan berpisah!” suaranya meninggi, dan air mata kembali mengalir di pipi halusnya.  Nadia menangis, namun tetap terlihat cantik.

Ya, Nadia memang cantik. Cantik dan pintar, malah. Tak seperti aku… Entah kenapa ada kembar yang begitu berbeda seperti kami. Hanya hari kelahiran saja yang menjadi persamaan diantara kami.

Aku yakin, ayah atau ibu pastilah akan memilih Nadia, bahkan mungkin itu salah satu bahan pertengkaran mereka : siapa yang berhak mengasuh anaknya yang paling cantik dan pintar.

“Ah… andai saja ada pilihan lain..”

Aku menghela nafas.  Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kesal.

“Perpisahan itu sudah pasti, Nad. Hanya ada 2 pilihan. Apakah kau ingin ikut ibu?”

“Tidak. Aku tak pernah suka dengan Oom Anton,” ketus jawaban Nadia.

“Hm, baiklah. Aku yang akan ikut ibu dan kau boleh bersama Ayah dan Tante Mirna.”

“Tidak! Aku juga tak mau bersama keduanya!” teriaknya bercampur tangis.

Tiba-tiba dia memelukku, menangis keras di bahuku. Mau tak mau, aku pun ikut menangis bersamanya.

“Aku ingin kita tetap bersama, Dan. Kau satu-satunya yang membuatku kuat meski prahara ini menimpa kita. Kau alasan aku tetap waras…”

Ah, kembaranku tersayang… Aku salah. Bukan hanya tanggal lahir yang menjadi kesamaan kita. Rasa sayang dan kebersamaan kita, itu hal terpenting yang kita bagi bersama. Tapi… apakah ayah dan ibu akan beranggapan sama?

“Mbok Nah dan Pak Marto!” cetusku tiba-tiba.

Nadia melepaskan pelukannya, menatapku penuh tanya.

“Pengasuh dan sopir itulah yang sebenarnya membesarkan kita selama ini,bukan? Kita ikut mereka saja!”

Nadia terbelalak, lalu tawa kamipun pecah… Ah, andai saja bisa..

***

 Meramaikan Prompt #50 MFF  . Jumlah : 395 kata.

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

23 thoughts on “Pilihan ketiga

  1. Ikut aku saja Jeng
    Saya nggak bisa memilih ketika bapak dan Emak berpisah karena saya masih kecil
    Aku ikut Emak
    Apik kisahnya
    Salam hangat dari Surabaya

    maturnuwun, Pakde…. klo disuruh milih malah bingung mungkin.. ya betul, si kembar ikut Mbah Kung Galaxy saja… renes… hehe…

  2. pilihan yang sulit… saya rasanya seperti taksanggup untuk berpikir jika harus disuruh memilih…

    mudah2an keluarga kita tak pernah ada di situasi seperti itu ya mbak Dani.. 🙂

  3. Kalimat terakhir sangat mengejutkan…..

    kenapa mas? karena masih berusaha tertawa di tengah derita? hehe…

  4. Jangan ikut Pak Sopir, coba tulis surat sama pak prabowo atau pak jokowi mana yang kasih jawaban duluan itu yang diikutin…:)

    lhaah..mereka kan masih pada sibuk, Tante… ‘ntar kami malah dicuekin saja… hehe…

  5. Pemilih nan cerdas, sayang yang sibuk bertengkar tak menyadari anugerah ini.
    Selalu terpukau dengan kepiawaian Diajeng merangkai cerita…
    Salam

    selalu hangat membaca komen Bu Prih yg menyemangati… Maturnuwun, Bu…

  6. wah bagus susunan kaa2y 🙂
    punten numpang share.
    http://eenendangsarielmuhyiblog.wordpress.com/2014/05/25/tips-dan-cara-bermake-up-natural-ala-designer-ivan-gunawan/
    salam kenal sist

    terima kasih… salam kenal kembali 🙂

  7. pertengkaran orang tua yang berujung perpisahan memang selalu menyisakan duka,,apalagi bagi si kembar…tapi solusinya bagus juga….bisa beralih ke mbok Nah dan Pak Marto yang selama ini membesarkan….dan menyatukan…
    selamat berlomba..semoga menjadi yang terbaik
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

    hehe…. mungkin karena justru keduanya merasa lebih dekat dg sopir & pembantu dari pada dg mama-papanya… hehe… terima kasih, Pak… salam dari Kota Batik…

  8. Merek tahu balas budi ya mak

    atau karena mereka berdualah yg selama ini dekat?

  9. yaaaayyy… Nadia 🙂
    hihihi.. jadi salah fokus gini 😛

    Nadia yg cantik dan pintar itu lhoooo…. 🙂

  10. Assalaamu’alaikum wr.wb Mechta….

    Sedih ya apabila harus berlaku perpisahan orang tua dan adik beradik. Sukarnya memilih siapa yang mahu diikut. Terkadang orang tua tidak memikirkan anak-anak yang bakal menjadi mangsa perpisahan sehingga tidak berusaha untuk bersatu kembali… Jarang pilihan ketiga dapat mengatasi pilihan yang utama. kasihan ya, perpisahan tetap berlaku walau anak-anak tidak bersetuju. Ini
    sebagai pengajaran buat klta betapa anak-anak tersiksa tanpa diketahui.

    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    Waalaikumsalam wr.wb… Terima kasih sdh mampir, kak Siti.. 🙂 Ya, semoga saja ada hikmah yg dapat dipetik dari kisah pendek ini… Salam hangat dari Pekalongan – Jawa Tengah.. 🙂

  11. salam kenaaaaall…

    ejie belum pernah ikutan prompt.
    lagi lihat2 salah satu contoh nihh…

    ahhaaha.. akhirnya lucu juga, pilih pak sopr dan mbok nah sbg solusi?
    gt ya prompt?

    salam kenal juga Eji.. iya nih, ini setoran promptku yg pertama, sori klo hasilnya masih gariing, hihi.. yuuk belajar bersama MFF 🙂

  12. jad ingat teman sekolah saya dulu mbak, kakak dan adiknya pilih ikut mamanya, jadi dia kasihan sama papanya dia pilih ikut papa 🙂

    mudah2an perpisahan itu tetap berujung bahagia bagi semua pihak di kemudian hari…

  13. Milih siapapun akan tetap bikin sedih semuanya ya mbak?

    tampaknya begitu, mbak Ely… 😦

  14. dilema sebuah perceraian, ah jangan sampai deh! semoga tetep awet sampe tua hehe aamiin

    Aamiin…. 🙂

  15. Nah iya. Mending sama Pak Sopir + simbok aja tuh … >_<

    hihi….hiks….

  16. entah mau ketawa atau sedih ini…. bingung

    berdoa aja yuuk.. moga2 gak pernah ada di situasi yg sama… 🙂

  17. Setujuuuu…sama Mbok Nah dan Pak Marto ajaaah hohohoho

    hihi…. pilihan kepepet ituu 🙂

  18. Wah…sulit memang yach..tapi penutupnya dengan memilih pengasuh menjadi hal yang berbeda..apik..ceritanya apik

    terima kasih… sedang belajar niih.., moga2 kedepan makin pinter memulas kisah2.. hehe…

  19. Ada Mirna lagi! hihihih tadi juga ada yg sama tokohnya, Mirna juga. Figuran sih.

    Hm, kebetulan sama nama tokoh ya.. hehe… BTW, ada apa dg nama Mirna? 🙂 Trims sdh mampir ya, Mbak Isti…

  20. hiks….. 😦
    speechless…..

    kisah yang sangat bagus…..
    benar2 seperti kisah nyata ini, Mechta…
    ( seratus jempol untukmu ) 🙂

    salam

    aiih… *tersipu… masih terus belajar, Bunda.. tapi terima kasih lhoo… komen Bunda menyemangati proses belajar ini 🙂

  21. Nadia memang cerdik. 🙂

    Dania juga, Tenteee…. *ga mau kalah 🙂

  22. setujuuuu.. Ikut Mbok Nah dan Pak Marto ajah 😀

    hihi… bolehkaaah??? 😀

  23. Bhahaha, kok ketawa? Hmmm …

    lha daripada terus menangis??? hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s