Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Mimpi Lintang

21 Komentar

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti…

Maka ia pun menjadi bersemangat. Senyumnya melebar. Senyuman yangΒ betah menghiasi bibirnya sepagian itu, ketika ibu sibuk mendandani sambil menasehatinya untuk berjalan dengan hati-hati namun tetap anggun sesuai dengan arahan Tante Mita yang melatihnya kemarin.

Lintang mengangguk-angguk, tapi nasehat ibunya hanya sekedar lewat telinga kanan ke kiri. Ia justru asyik membayangkan, saat-saat kemenangannya diumumkan nanti : ia akan dengan bangga menerima tropi kemenangannya, menikmati pandangan kecewa kontestan lainnya, dan yang terutama merasa bangga menjadi juara di depan Kak Roni, Sang Ketua Osis idolanya.. Aah, ia sudah tak sabar.

Ketaksabaran itu makin dirasakannya saat mendapat undian nomor 24 : no ke-4 dari akhir! Uuh… 😦

Ketaksabaran yang seolah terus menguntitnya, meski ia telah mencoba menghalaunya dengan kembali memikirkan mimpi yang menjadi pertanda kemenangannya itu.

“Peserta berikutnya, No. 24 ,” suara pembawa acara akhirnya terdengar merdu di telinganya.

Maka iapun bergegas. Menaiki satu demi satu anak tangga ke panggung, sambil berkata dalam hati, “sebentar lagi aku juaranya!”

Matanya sibuk mencari-cari tempat duduk Sang Idola… ah, itu dia Kak Roni ada di deretan kedua! Ia pun mengulas senyum termanisnya, lalu… gubrak!!

Entah bagaimana, ujung salah satu sendalnya terkait di kain panjang :Β  Lintang terjatuh !

***

Ini hari ketiga Lintang tak mau sekolah. Bukan karena sakit akibat jatuh di bibir panggung saat kontes yang lalu.Β  Tak ada yang terluka di tubuhnya akibat insiden itu. Bahkan setelah dibantu untuk bangkit dari posisi jatuhnya, ia menenangkan diri sejenak dan menguatkan diri untuk meneruskan langkah menuju tengah panggung, membungkuk memberi hormat sebelum kembali ke bawah panggung dan langsung pulang.

Ya, tak ada yang terluka selain harga dirinya. Ia malu sekali. Seharian mengurung diri di kamar, menghabiskan sebagian besar waktunya dengan merutuki mimpi yang telah melenakannya.

Terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

“Lin, ada temanmu di depan…” suara lembut Ibu terdengar.

“Suruh pulang saja, Bu. Lintang masih males ketemu siapa-siapa!”

Terdengar suara sandal ibunya menjauhi kamar. Lama tak terdengar suara-suara lagi, lalu tiba-tiba…

Sreet…

Suara gesekan benda mengejutkannya. Dilihatnya selembar kertas terlipat masuk lewat bawah pintu kamarnya. Dengan penasaran dibuka dan dibacanya kertas itu.

Lin, terima kasih sudah memberi kesempatan padaku melihat tampilan femininmu kemarin. Siapapun juara di kontes kemarin, Lintang Tomboy yang berani bangkit dan meneruskan langkahnya di panggung itu, adalah juara hatiku.

Jangan lama-lama ngumpetnya ya, non… Kangen niih… πŸ™‚

Roni

Olala… ribuan bintang jatuh menari-nari untuknya di siang itu….

***

Jumlah kata : 466.Β  MenyemarakkanΒ  Prompt #51 MFF

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

21 thoughts on “Mimpi Lintang

  1. Berani bermimpi, berani jatuh dan berani bangkit….terima kasih Lintangnya Kak Roni
    Inikah pertanda novel lalang ungu telah terbit….
    Salam hangat

    huaduuuh…, novelnya masih diawang-awang, ibu… hihi… pangestunipun kemawon πŸ™‚

  2. sepertinya membacanya butuh kejelian yia bos… ijin nyimak dulu bos…

    begitukah? eh.., ada bos ya? mana..manaa? *lingak-linguk.. πŸ™‚

  3. Ciieee Lintang, dapet surat dari Kak Roni cieeee hihihihi.
    Asyik nih auntie jadi rajin nge-FF lagih πŸ˜‰

    ngepas-pasin, Rin… biar gak jadi FF tragis tapi setidaknya sedikit romantis..hehe… iya nih, lagi kumat nge-FF.. haha…

  4. inspiratif sekali Mbak.. ya.. berani bangkit sudah merupakan hal yang layak mendapat bintang ya Mbak..

    hihi… mudah2an ada yg betulan berani seperti itu πŸ™‚

  5. kayaknya ini nih yang sudah ada twist endingnya…..saya perlu belajar banyak sama mbak Mechta.

    waah… masih jauuh dari sempurna…, yuuk belajar sama2… πŸ™‚

  6. Lntang lasngung lari keluar gak mbak?

    enake gimana? langsung lari atau pingsan? hehe…

  7. Wua.. Ending yg gk disangka…

    trims… syukurlah klo dirasa sdh ada twist nya hehe…

  8. cieee ga juara lomba tapi jadi juara hati πŸ˜€

    lumayaaan, daripada nggak sama sekali… hehe…

  9. Bang Roni, Bang Roni
    Orang terlanjur kaya
    Eh, salah …

    Jebul lintange ora mung ngaleh, nanging malah nyungsep temenan. Untunge ada Bang Jali. Eh, salah maning! πŸ˜„

    hais…. iki nglindur po piyee??? mulakno dicegat mas satpam… hayoo.. raup2 sik nembe komen….qiqi…

    • .satpame iku sing ngelindur! Koyo durung tau kenal. Wong wis bola-bali rene kok ijeh dijegat! Hoho

      yo mungkin satpame rada pangling lha wong tamune durung raup.. hehe…

  10. Komenku ra metu si, Bu?
    Soriiii… kecegat satpam mau… hehe…

  11. salam pagi dan semangat selalu mbaaaak……..

    terima kasiih… salam semangat juga yaaa.. πŸ™‚

  12. mba Mechtaaaaa…
    manis sekali ceritanyaaaa…
    jadi teringat masa muda ku yang penuh gejolak begini aku teh…halah…

    Kangen jaman tersipu dan ngambek model SMA gitu deh mba…
    dibandingkan jaman mikirin tagihan listrik dan iuran RT kayak sekarang…bhuahahaha…
    *ini kenapa jadi curhat!*

    makasih Say…., eeh.. jaman2 masih suka tersipu n ngambek ituu…tomboykah dirimu, atau sdh feminin manis seperti si Bibi saat ini ? *kepo πŸ™‚

  13. wahh mimpi lintang ya mbakk

    hehe… iya tuh, si Lintang mimpiin lintang πŸ™‚

  14. Kenapa bintang jatuhnya dibuat hanya mimpi, Mbak? πŸ˜†

    hihi.. karena saya sendiri belum pernah berhasil lihat bintang jatuh di langit perkotaan mbak.. *ngeyel… πŸ™‚

  15. Berani bermimpi dan mewujudkan itu perjuangan hehehe πŸ™‚ meskipun banyak karang terjal tapi kan ujung2 nya dapat surat cinta dari roni hahaha

    haha…. yg jelas jangan jadikan mimpi patokan untuk hasil akhir .. tetap harus usaha..usaha dan usaha… πŸ™‚

  16. wuih,,,keren mak,,,mimpi lintang bener2 luar biasa

    hihi.. makasih, Dwi πŸ™‚

  17. Romantisnya πŸ˜›

    qiqiqi…. tamba sebel, mbak.. πŸ™‚

  18. Wiiiiiii…paling bisa deh Mechta bikin kejutan-kejutan di akhir cerita!
    Merinding sayaaaaaa….
    πŸ™‚

    aiih… mbak Irma paling bisa bikin besar hati saya dg komen2 indahnya… *tersipu

  19. Tamba sebel?
    Hihihihi…ada-ada aja πŸ˜€

    hihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s