Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Dua cermin di akhir pekan kemarin…

9 Komentar

Akhir pekan kemarin, aku harus ke Semarang karena ada acara keluarga.  Berhubung kondisi jalan darat Pekalongan – Semarang masih rawan macet akibat adanya titik-titik perbaikan jalan yang lamaaa… gak selesai-selesai, sehingga waktu tempuh yang biasanya 2 jam bisa muluuuur hingga 3-4 jam, maka akupun memutuskan untuk menggunakan….kereta api!

Halaah… sama-sama perjalanan darat juga ya? hihi… Etapi, naik KA ke Semarang -saat ini- tetap lebih menjanjikan kenyamanan daripada naik bus / travel / bahkan kendaraan pribadi, lho….

Pertama, karena tak harus bermacet-macet ria di jalan raya dalam musim kemarau yang belum juga berakhir ini, kedua karena KA itu kendaraan darat yg ‘menang-an’ (lha iya to…, kan semua kendaraan harus berhenti kalau Si ‘Ular Naga’ ini mau melintas.. hehe…) maka waktu tempuh relatif singkat dibanding Bus, travel, mobil, dll…

Singkat kata, aku memutuskan naik Kaligung Mas -meskipun sekarang ada kereta Pemalang Expres, yg relatif baru- hari Jumat siang, agar sampai Semarang sebelum surup sehingga kalaupun tak ada yang bisa menjemput masih berani naik taksi ke rumah.  Dan, tentu saja aku memilih kursi yang di dekat jendela, agar bisa cuci mata dengan pemandangan sepanjang jalan. Alhamdulillah aku dapat tiket kursi Nomer (A) untuk keberangkatan dan kursi Nomer (E) untuk tiket pulangnya.

Siang itu cukup banyak penumpang yang menunggu kereta di stasiun, rupanya karena long weekend tahun baru Islam.  Tapi kami menunggu dengan tenang dan nyaman karena stasiun yang bersih dan alhamdulillah kereta juga tepat waktu.

@stasiunKA

Suasana di Stasiun Poncol Semarang

Sayangnya, keinginanku untuk menikmati pemandangan dengan nyaman di kursi sebelah jendela gagal total, gara-gara aku menemukan kursi itu sudah diduduki seorang gadis. Awalnya aku kira aku yang salah kursi, namun setelah mencocokkan nomer gerbong & nomer kursi sesuai tiketku, aku yakin memang benar kursi itu seharusnya hak ku.  Ketika aku menanyakan kepada gadis itu, berapa nomor kursinya, yang menjawab adalah wanita muda yang duduk di sebelahnya (di tengah, karena bangku itu untuk 3 orang) yang rupanya mereka satu keluarga.

Awalnya ibu itu menjawab nomer (A), tapi ketika kutunjukkan tiketku Nomer (A) dengan cueknya dia bilang, “Ah ya benar..memang di sini. Ini kan untuk A sampai C,” lalu iapun asyik lagi dengan HP-nya.

Jadi… nomer tiket mereka pastinya bukan A dan mereka tahu pasti akan hal itu (karena penampilan mereka menampakkan orang yang berpendidikan) namun mereka cuek saja memakai yang bukan haknya.  Hm…, hal-hal seperti inikah salah satu alasan perlunya ‘revolusi mental’ ?😦

OK deh, karena malas ribut akhirnya aku duduk di kursi Nomer (C) alias dekat gang itu. Berusaha tetap menikmati perjalanan dan tak mau menjadikan kejadian menyebalkan itu merusak keasyikan perjalanan itu.

Nah, itu cerita pada perjalanan berangkat.  Pada perjalanan pulang, ada cerita lain lagi.

Diserobot lagi, kursinya?

Haha…bukaan… Dalam perjalanan pulang hari minggu siang itu, aku bisa dengan nyaman menikmati perjalanan.  Meski, pada awal perjalanan itu sempat ada kejadian yang cukup heboh di gerbong kami.

Hanya beberapa menit setelah aku duduk manis di kursi pilihanku, masuklah sepasang suami istri dengan menggendong putri mereka dan duduk di seberang gang tempat dudukku.  Anak dalam gendongan ayahnya itu -sekitar 5 tahunan- menangis sambil berteriak-teriak kencang. Rupanya ia tak mau naik kereta dan minta turun.

Amukan balita itu cukup heboh hingga menjadi perhatian orang segerbong, berbagai bujukan dilontarkan baik oleh kedua orang-tuanya maupun beberapa penumpang lain, namun tak mempan. Hampir setengah jam dia nangis histeris sambil teriak-teriak minta turun, sampai kereta berangkat dan akhirnya dia tertidur kelelahan…

Yang aku kagum, kedua orang tuanya sama sekali tak mencoba menghentikan amukan putrinya dengan bentakan apalagi tindakan kasar.  Ayahnya hanya memeluknya erat dalam gendongan sambil membujuk dengan lembut dan begitupun ibunya.  Wow… ternyata amukan balita bisa menjadi ujian kesabaran yang cukup berat yaa…

Dan.., aku tiba-tiba teringat cerita ibu duluuuu…. bahwa saat balita aku pernah rewel ketika pertama kali diajak naik bus. Aduuh…jangan-jangan aku dulu juga bertingkah seperti anak itu, ya? Kasihan sekali bapak-ibu saat itu, mungkin mereka berdua juga sempat bingung atau mungkin menanggung malu karena kelakuanku itu… 😦

Iseng ku ketik pesan singkat pada ibu, menceritakan kejadian itu sambil bertanya apakah aku dulu juga begitu? Kalau ya, sungguh aku minta maaf karena telah membuat repot & malu bapak-ibu waktu itu.  Alhamdulillah, dalam balasan pesannya ibu bilang saat itu aku memang rewel tapi tak sampai ngamuk seperti itu… Eh.., jangan-jangan ibu hanya ngayem-ayemi aku saja??? Ah.. hanya ibu dan Allah yang tahu kebenarannya…

Begitulah, cerita dua kejadian dalam perjalananku kemarin.  Aku seperti menemukan dua cermin. Dua kejadian yang membuatku berkaca dan menorehkan catatan dalam hatiku.  Yang pertama catatan bahwa diserobot hak nya itu menyebalkan, maka jangan sampai aku bertindak sama pada orang lain.  Yang kedua, catatan untuk selalu mengingat & menghargai kasih sayang, perhatian dan kesabaran bapak-ibu yang telah mereka curahkan kepada kami putera-puterinya ini… Dan semoga akupun bisa seperti mereka.. Aamiin…

Ohya, weekend telah kembali datang… Jadi, selamat berakhir pekan dengan orang-orang tersayang, ya teman….

9 thoughts on “Dua cermin di akhir pekan kemarin…

  1. turut senewen Mba Mechta buat kejadian pertamanya. Kalo itu saya *karena saya orangnya nyolot, hahaha* pasti akan saya minta si Ibu pindah dan saya kasih kuliah tentang hak dan kewajiban lala lili. Hihihihi… Pernah kejadian gitu dan saya dijutekin sama orangnya.😛
    Kalo kejadian kedua saya bisa membayangkan situasi dan kondisi kedua orang tuanya. Dan salut bisa menangani tantrumnya dengan tetap tenang..🙂

    hihi….jadi ngebayangin Dani kasih kuliah ttg hak & kewajiban ke mereka…🙂 Oya, si jagoan pernah tantrum gak, Dan? gimana ngatasinnya ?

  2. masoih saja ada orang yang tidak teratur ya mbak, tapi kalau aku sih biasanya minta petugas kereta api yang menyuruhnya pindah soalnya kami sekeluarga gak mungkin dipisahkan duduknya🙂

    naah… klo lebih dari 1 orang memang tak belain ngeyel, mbak.. haha…

  3. Wah, berpendidikan atau berkedudukan kalo kita lebih berhak ajakin ribut aja, Bu! makanya mampir ke rumah trus ngajak gue, biar gue ributin. *hish

    yo wis.. suk meneh tak ngajak bodyguard yg gak males ribut like you, haha…

  4. mba Mechtaaaa…
    ternyata dari perjalanan pun bisa menemukan cerita menarik yah mbak🙂

    Tapi kalo aku sih ngadepin cerita yang pertama itu bakalan aku ributin lho mbak…
    Kecuali kalo minimal dianya minta ijin duduk disitu karena apaaa…gitu…

    untungkah Kayla atau FAthir belum pernah rempong kalo di jalan sih mbak…
    Palingan emak nya aja yang suka rada manja karena mabok dan belum minum antimo…hihihi..

    hihi…aku males ribut, Ry.. *tapi tetep mbatin..haha… Alhamdulillah Kayla & Fathir nyantai jadi mustinya emaknya gak sungkan ngajak2 mereka doong..hehe..

  5. Dari postingan ini minimal dua cermin yang saya dapat.
    Pertama, betapa bijaknya Diajeng, memberi tahu sang dara beserta bundanya yang telah keliru ambil hak dan saat mereka cuek, diajeng membalik sikap dengan semangat tak akan melakukan hal demikian kerena tidak mengenakkan
    Kedua, betapa lembutnya hati Diajeng…merefleksi kehangatan kelembutan ortu anak tantrum tak hanya dalam empati tapi sekaligus bersyukur atas kelembutan Ibu Bapak yang direspon dengan bijaksananya sms jawaban Bunda.
    Terima kasih Jeng untuk cermin elok ini. Bila saya yang duduk di posisi Diajeng semoga bisa meneladan.
    Salam

    ah, Ibu… selalu pinter mbombong ati.. mudah2an saya tak besar kepala dg komen manis dari Bu Prih ini… Nuwun sanget, Bu…🙂

  6. Oh jadi begitu ya yg dimaksud dua cermin, awalnya tadi kukira ada yg bawa cermin.. Hehe..

    hihi… maaf ya klo bikin kecelik..🙂

  7. Ping-balik: Perempuan tangguh itu adalah ibu kami! | Lalang Ungu

  8. Naik kereta api sekarang menyenangkan ….
    Pas ke Tanakita kemarin juga kursiku diseronot, dan ibu itu tak mau pindah…akhirnya kita melapor ke satpam…dan ibu itu akhirnya disuruh pindah..karena kita rombongan….nggak mungkin ada yang terpisah bengong sendiri.
    Kadang kita perlu meminta hak kita….tapi perlu ketegasan dan tetap santun.

    Anak balita tantrum, sebaiknya memang dipeluk….agar tak menyakiti dirinya sendiri…jadi kenal lagi istilah ini setelah punya cucu.

    Nah, betul Ibu.. kalau berombongan kan memang enaknya barengan ya Bu.. Hehe..memang saya nya yg ogah ribut…rupanya msh harus belajar tegas tapi tetap santun ya Bu?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s