Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Sepenggal malam di sudut taman kenangan

12 Komentar

Malam minggu pekan lalu, seorang sahabat menjemput di rumah masa kecilku, berencana meluangkan waktu bersama menikmati malam di Kota Atlas.

Langit sedikit mendung, tapi lalu lintas tetap padat sepanjang jalan dari Tegalsari ke arah Simpang Lima, yang pada awalnya menjadi tujuan kami malam itu.

Sesampai di Bunderan Air Mancur, kami melihat ada keramaian di sekitar Taman Menteri Supeno atau yang seringkali disebut juga Taman KB, taman yang berlokasi di depan almamater kami : SMA N I Semarang.

Akhirnya kami pun berbelok ke arah parkir di sekitar sana, memutuskan untuk menikmati malam di lokasi itu. Rupanya saat itu sedang ada acara pentas seni, kalau tidak salah Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) yang antara lain akan menampilkan seni Tayub dari Pati (?). Hm… kaya’nya asyik tuuh…

oncor(1)

Menandai lokasi acara, sederet oncor / lampu tradisional berkelip lembut, menyambut pengunjung yang semakin ramai memadati lokasi acara di sepanjang jalan di samping kiri Taman KB itu.

panggung(3)

Ada panggung gemerlap lengkap dengan pemain musik dan penyanyi yang sudah mulai beraksi, sementara di bagian lain para niyaga menata gamelannya dan para penari Tayub pun mulai bersiap.

tumpeng(4)

Tepat di depan panggung, terdapat tumpeng besar, terdiri dari nasi kuning dan lauk pelengkapnya.  Tumpeng raksasa itu menyedot perhatian pengunjung, banyak yang berfoto-ria di sampingnya, dan akupun tak ketinggalan..hihi…

me&tumpeng(5)

Lampu warna-warni menghiasi pepohonan di sepanjang jalan itu, menambah keelokan malam, dan mendung di langitpun bagai terlupakan.

jalanan(2)

Di bagian lain ruas jalan itu berdiri tenda-tenda ‘zona kuliner’ lengkap dengan meja kursi ataupun tikar-tikar yang tergelar untuk lesehan.  Dan kami pun memilih salah satu tenda yang menyajikan menu khas Semarang.

kuliner(6)

Menikmati seporsi Tahu Gimbal dan semangkuk es buah, sambil lesehan dan bertukar cerita nostalgia bersama sahabat semasa SMA…sungguh mengasyikkan.  Sayup terdengar irama tradisional menggantikan musik barat yang tadi terdengar. Hm, rupanya pertunjukan Tayub itu sudah dimulai, meski kami tak mendengar acara seremonial pembukaannya… atau memang belum?

TAHUGIMBAL

Seporsi Tahu Gimbal kumplit.. nyam-nyam.. 🙂

temanmakan(8)

Mbak Atik – teman bernostalgia malam itu…

Setelah puas menikmati kuliner malam itu, kami pun merapat kembali ke arah panggung utama, berniat menikmati dari jarak lebih dekat tarian yang disajikan malam itu.  Tumpeng besar itu masih berdiri, utuh seperti sebelumnya, pertanda acara seremonial belum dilaksanakan.

pengunjung(2a)

Lalu tiba-tiba…mak bresss!!! Hujan lebat tercurah begitu saja dari langit, membuat pengunjung langsung panik berlarian mencari tempat teduh, di tenda-tenda kuliner, di panggung kosong dekat panggung utama, bahkan dipanggung utama!

panggunggelap(9)

Tak ada lagi panggung gemerlap itu..

Ya, acara memang langsung terhenti begitu saja… Lampu-lampu dipadamkan (mungkin menghindari konslet) termasuk lampu-lampu di panggung, tinggal satu-dua lampu penghias pohon.

Dalam keremangan, diantara curah hujan yang cukup deras… kulihat tumpeng yang belum terjamah itu ditinggalkan begitu saja : merana! 😦

tpgkehujanan(10)

Tumpeng cantik itu pun kuyup dan kesepian…

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

12 thoughts on “Sepenggal malam di sudut taman kenangan

  1. Sayang ya Mechta…..hujan….
    Sungguh sayang…terbayang bikin tumpengnya ….

    Btw acaranya menarik ya….adik saya yang tinggal di Semarang jarang cerita tentang kesenian seperti ini….

    iya Ibu.. sayang sekali hujan tak terantisipasi sehingga tumpeng jadi mubazir.. 😦 tampaknya itu agenda bulanan, Bu.. sayang saya tak sempat foto papan penandanya…

  2. Ya ampun sayang banget tumpeng cantik itu tertimpa hujan ya Mbak. Habis mo gimana lagi, resiko kalau bikin acara di ujung tahun, musim hujan. Asyik ya Mbak reunian seperti ini 🙂

    iya mbak… saya tak tahu lagi, bagaimana nasip si tumpeng itu akhirnya 😦
    Reunian memang asyik mbak… sama asyiknya dg kopdar hehe…

  3. Duuh endingnya breeessss lantak semangat panitia dan pengunjungnya
    Sepenggal malam penuh kenangan nih Diajeng, ditunggu kenangan di kota kecil.

    Mugi2 sanes wekdal saged mecaki kenangan wonten kutha klairan nggih Bu…

  4. Mbakk…panjenengan SMA 1 Semarang tahun pinten? Kok sama dg keng garwaku. Beliau th 91. Jangan2 teman yaa?

    Hihi… nek kula angkatan jadul kok, mbak… Salam kagem Keng Garwa.., adik kelas (radi tebiiih) hihi…

  5. Seporsi tahu gimbal, semangkuk es buah, bersama sahabat, di sudut taman kenangan, betapa indahnya, Mbak 🙂

    Inggih, Pak… Alhamdulillah msh diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dg sahabat SMA.. 🙂

  6. Waaah, saya sudah 4x ke Semarang dan belum pernah sekalipun merasakan Tahu Gimbal. Tidaaak!
    Rasane piye sih, Mbak? Saya yang pernah ngerasain tahu petis, beli di dekat RS Karyadi.
    Btw, salam kenal dari Pemalang…

    Salam kembali, Eko… 🙂 Rasa tahu gimbal…hm, sudah pernah makan Tahu Campur dg sambal kacangnya? Naah..hampir seperti itu..ditambah Gimbal Udang yang digoreng tidak kering (istilah kami ‘mbel-mbel’).. wis tah pokoke wuenaaak.. *mingin2i..hihi…

  7. Duh.. Tumpengnya jadi mubazir. Kenapa gak dipotong diawal aja ya..

    iya..sayang yach… wah ttg itu kami tak tahu..hihi..

  8. Hadehhhh tumpeng segede itu dibiarin karena hujan mbak yach. Nah..cerita dengan teman pada tempat tertentu akan memberikan kisah baru yang lebih menggoda mbak yach 😉

    hehe.. nostalgia ataupun kopdar.. punya sensasi masing-masing, Bli 🙂

  9. lebih enak kalau tumpeng itu masuk perutku hehehehehe 😀
    follow back ya mbak :))

    klo sebanyak itu, bisa meledak [perutnya lhoo… hehe…

  10. Wah, sayang sekali ya Mba Mechta itu endingnya hujan, padahal dah rame dan seru… TUmpengnya kasihan…

    iya…pengen mayungin tapi ga bawa payung.. hehe..

  11. Tahu gimbal komplit?
    Duh, jadi pengen, Mechta…
    Saya pernah makan tahu gimbal ini di sebuah restoran di kota Bandung. Tapi sensasi makan langsung di kota asalnya, pasti beda ya 🙂
    Saya juga penasaran dengan nasi goreng babat yang katanya ngetop banget di kota Semarang.
    Kapan-kapan, mau kesana ah!

    mgkn seperti penasaran sy dg seblak basah mbak..hehe..

  12. Ping-balik: Mengais kenangan di Taman KB | Lalang Ungu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s