Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Berubah sungguh tak mudah …

17 Komentar

Sarapan itu penting, sebagai ‘bekal’ selama kita beraktifitas seharian. Begitu yang selalu disampaikan oleh nenek dan ibu kami, sehingga sarapan yang cukup -biasanya dengan ‘menu berat’- selalu mengawali pola makan keluarga kami sejak dahulu.

Eh, sebentar… ‘Pola Makan‘ atau ‘Kebiasaan Makan‘ ya? Apa bedanya dua istilah itu?

Menurut hasil browsing, ternyata kedua istilah itu memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah sama-sama merupakan tindakan yang dilakukan setiap hari, terus-menerus, dan dalam waktu yang relatif lama.  Adapun perbedaannya adalah Pola Makan bersifat lebih formal, berlaku secara umum dan dijadikan sebagai pedoman.  Sedangkan Kebiasaan Makan lebih personal sifatnya, terbentuk berdasarkan selera dan ketersediaan makan di setiap rumah tangga. Makan 3 kali sehari, itu salah satu contoh pola makan. Mengkonsumsi buah setelah makan, itu salah satu contoh kebiasaan makan.

Hm, kalau begitu, lebih tepat disebut bahwa kebiasaan makan di keluarga kami adalah mengawali hari dengan sarapan. Nenek dan ibu selalu memastikan kami menghabiskan sarapan yang telah tersedia setiap pagi.  Selain itu, ketepatan waktu makan juga menjadi perhatian besar di keluarga kami, alhasil sejak kecil hingga remaja kami telah terbiasa dengan kebiasaan dan pola makan teratur tersebut.

Namun, sayangnya semenjak meninggalkan rumah kebiasaan baik itu tak selalu dapat kujalankan.  Mungkin karena mencari praktisnya, atau karena tak ada yang mencereweti ( hehe.. ) sejak kuliah aku jadi sering meninggalkan kebiasaan sarapan pagi bahkan makan pun tak teratur waktunya.  Terlebih saat sudah mulai memasuki dunia kerja. Sering sekali terlambat makan dengan bermacam alasan.

Sekali dua kali, tak ada masalah yang berarti. Namun ketika hal itu berulang kali dalam waktu yang relatif lama, masalah mulai unjuk gigi. Pada akhirnya aku mulai berkenalan dengan masalah lambung. Sakit maag menjadi langganan. Berbagai obat maag mulai kuakrabi dari yang tablet, tablet kunyah, hingga yang berbentuk cair, dengan beragam merk.

Kombinasi pola makan & kebiasaan makan yang buruk serta pola hidup yang kurang sehat lainnya, pada akhirnya semakin membuatku drop dan puncaknya pada awal tahun lalu saat tubuhku melakukan ‘demo’ dan dokter menyatakan tak hanya lambungku yang bermasalah, namun hati dan empedu juga bermasalah 😦

Saat itulah aku benar-benar merasa menyesal karena selama ini mengabaikan dan meninggalkan kebiasaan baik yang diajarkan nenek dan ibu, juga melupakan pengetahuan tentang Gizi Seimbang yang kugeluti selama belajar dulu. Menyesal dan maluuu…pada diri sendiri!

Tapi, menyesal saja tak ada gunanya. Aku bertekad, harus bisa berubah untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat, termasuk memperbaiki pola dan kebiasaan makanku selama ini.

Untunglah, aku masih berkomunikasi dengan teman-teman kuliah dulu (meski hanya melalui sosmed) salah satunya adalah mencermati FB Wied Harry -pakar gizi yang kebetulan kakak kelas itu- mencari informasi mengenai pola makan sehat menjadi lebih mudah. Hingga kemudian aku mulai tertarik dengan Food Combining, salah satu pengaturan pola makan dengan berdasarkan pada siklus alami tubuh ( fase pencernaan, penyerapan & pembuangan ).

Setelah membaca dan tanya-tanya tentang FC ini aku menjadi semakin tertarik dan berniat untuk menerapkannya.  Namun perubahan itu memang tidak mudah. Butuh keberanian untuk konsisten. Oya, aku memilih untuk bertahap dan membiasakan tubuhku menerima perubahan ini, tidak secara drastis sebagaimana saran beberapa orang.

Walhasil, sampai sekarang memang belum melakukan FC secara penuh, namun alhamdulillah, tubuh sudah tak terlalu kaget lagi.  Misalnya saat memulai hari dengan segelas air putih hangat + perasan jeruk nipis.  Awalnya sempat takut lambungku tak kuat ( meskipun bacaan maupun saran teman-teman menyatakan hal yang sebaliknya ) dan ketika aku berhasil mengalahkan ketakutanku itu, memberanikan diri meminumnya … ternyata … aman kok!

Tak hanya diri sendiri yang mempengaruhi berhasil tidaknya perubahan itu, lingkungan juga mempunyai pengaruhnya sendiri. Misalnya ketika aku sarapan hanya dengan buah-buahan. Haduuuh … banyak yang komentar bernada mengkhawatirkan, pandangan heran, dll yang kadang-kadang melemahkan niat. Tapi ternyata alhamdulillah, selama ini terbukti tak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan, dan mudah-mudahan lama kelamaan mereka akan terbiasa dan hal itu tak dianggap ‘aneh’ lagi… 🙂

Banyak hal positif yang sudah kurasakan dengan belajar melakukan FC ini. Badan terasa lebih enteng ( BB turun, tapi nggak banyak, hehe… ), sudah cukup lama putus hubungan dengan obat-obat maag ( semoga selamanya, Aamiin.. ), hasil kontrol kesehatan terakhir juga lebih baik.

Jadi, sekarang masalahnya ada pada disiplin diri.  Ya, berubah sungguh tak mudah … tapi bukan suatu hal mustahal eh mustahil. Insya Allah, demi badan yang lebih sehat aku akan lebih memperhatikan pola & kebiasaan makanku, juga pola hidup sehat lainnya.  Bismillah, semoga ke depan, lebih baik!

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

17 thoughts on “Berubah sungguh tak mudah …

  1. InsyaAllah ya Mak… Semoga pola hidup yang baru bisa menjaga kesehatannya ya..

    Aamiin … trims doanya mbak Rita 🙂

  2. Wow keren Mbak Mechta. Saya sdh lama pengen menerapkan0 fc, tapi ya gitu deh, cuma niat doang…Sukses dengan pola dan kebiasaan makan yg baru ya Mbak 🙂

    aah… masih jauh dari keren, mbak Evi.. belum praktek penuh… masih belajar ini.. mohon doa semoga lancar.. hehe… Aamiin…

  3. Halo Mbakyuu
    Wah…senang aku membaca tulisan ini. Sehat-sehat dan terus semangat ng-FC ya Mbakyu …
    Terimakasih juga sudah berkenan meramaikan GA perdana ini.
    Salam hangat 🙂

    Halo juga Diajeng …. Semoga sukses GA nya yaa…. dan semoga upaya perubahanku sukses juga hehe..

  4. Pola dan kebiasaan makan yang sehat, terima kasih Diajeng. Saya penganut pola amburadul nih, siip semoga ketularan kedisiplinan diri hidup sehat.
    Salam dan juga sukses di GA ini.

    Maturnuwun pangestunipun, Bu Prih … saya juga selalu berharap ketularan semangat ibu.. 🙂

  5. Bagi2 semangat dong mbak…aku mah beli bukunya diang prakteknya mbuh kapan 😦

    ayooo… semangaaat, Diajeng … buku sudah ditangan, tinggal memantabkan hati utk praktek.. yuuk bebarengan .. 🙂

  6. ternyata pola makan dan kebiasaan makan beda ya,
    ah tp emang pas waktu kuliah apalagi kerja sulit bikin prioritas pada kesehatan, selalu saja yang nomor satu selesainya tugas dan kemudian barulah urusan kesehatan, memang berubah itu susah tetapi bukan berarti tidak bisa, ya kan? nice share

    yg paling ideal adalah ttp mempertimbangkan kesehatan dikala sibuk apapun yaa… hehe… dan setuju sekali..tidak mudah memang bukan berarti tidak bisa! 🙂

  7. sarapan itu penentu semangat dalam sehari ya mb

    untuk yg terbiasa sarapan begitu ya…entah untuk yg tak terbiasa hehe…

  8. Betul, mengubah kebiasaan itu tak mudah. Tapi untuk ke arah yg lebih baik & sehat emang patut diperjuangkan ya. Semoga akupun bisa belajar mengubah pola makan menjadi lebih sehat…

    setujuu… yuuk.. saling berbagi & menyemangati 🙂

  9. Memang menerapkan pola makan dan kebiasaan makan yang baik itu susah2 gampang

    betul sekali… menurut saya sih begitu mbak 🙂

  10. Kebiasaan makan dan pola makan kita sangat menentukan kesehatan kita di kemudian hari ya Mbak. Semoga lebih sehat kembali Mbak Mechta..

    Aamiin… Trims n salam sehat mba Dani…

  11. Mengatur pola makan memang butuh kemauan dan disiplin ya. Aku juga dari dulu inginya jadi lebih rajin tapi masih sering bolong juga padahal usia begini harus rutin jaga pola makan yang benar.

    tak ada kata terlambat utk hal positif, bkn? Yuuk..atur kembali pola mkn kita 🙂

  12. Kalo aku sehari itu nggak lengkap tanpa sarapan. Sarapan itu wajib kudu harus.

    siiip… Jempol buat Rinie.. 🙂

  13. setujuuuuuuhhhh
    berubah itu gak mudah
    tapi bukan gak mungkin juga
    yang penting semangat dan komitmen ya

    toss dulu dg Elsa 🙂

  14. semangat terus FC nya mbak 🙂 saya jg lagi belajar ber FC. lumayan susah sih scara dr awalnya emang gak begitu suka sayur dan buah 🙂

    Kalau saya sukaaa buah dan sayuran juga…tapi tantangan sarapan bebuahan secara ekslusif dan pantangan menggabungkan protein hewani dg nasi..tu dia yg terasa lumayan sulit..hehe…

  15. semangat..semangat..saya juga lagi berusaha nih hehe….

    Yuuk…semangat bareng2, mba Dedew.. 🙂

  16. sarapan pagi juga merangsang otak lebih cerdas asal jangan terlalu banyak

    siip… trims infonya yaa.. 🙂

  17. aku juga harus lebih teratrur makan makanan sehat di mbak. Sekarang mau gadoin sayur, kalo dulu mana pernah. yang anamanya sayur aku makan pakai nasi biasanya;)

    naah..tentang sayur.. yg aku belum bisa tuh nggado sayuran mentah…hihi…maklum ga doyan sambel..*cari alesan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s