Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Sebuah puisi tentang Kali

10 Komentar

KALI ASEM BINATOER

Di kala jiwa anak

mengendap merayap

menggapai cita kelak dewasa

Kali Asem Binatoer

adalah teman bercanda ria

teman berenang bersama udang

teman menyelam bersama ketam

Tiada sampah tiada limbah

air mengalir menyapa sawah

agar padi menguning menjadi berkah

Kali Asem Binatoer

walau katanya kau punya makna asam yang hina dina

tapi duka tak pernah kau rasa

bersama sampan dan ikan sebagai teman setia

Kali Asem Binatoer

kini engkau telah tertipu oleh manusia-manusia dungu

yang membuang sampah, membuang limbah

tapi mereka katakan membawa berkah

Kali Asem Binatoer

kini airmu yang mengalir menyusuri depan istana raja

telah berubah warna

bersama racun yang kelak bisa membawa bencana…

( Muchsin – Tepi Asem Binatoer, 26-2-2015 )

***

Puisi di atas ditulis oleh seorang bapak yang sudah cukup sepuh –salah seorang relawan pembangunan masyarakat yang berdomisili di Kelurahan Podosugih Kec Pekalongan Barat- sebagai salah satu bentuk keprihatinan beliau akan kondisi sebuah sungai tempat bermainnya di masa kecil.

Sungai itu bernama Kali Asem Binatur, salah satu dari 5 DAS yang mengalir melewati beberapa kelurahan di Kota Pekalongan terutama di Kecamatan Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat, dan alirannya melewati depan Kantor Pemkot Pekalongan.

Inilah Pak Muchsin, yang menulis dan membacakan puisi itu

Inilah Pak Muchsin, yang menulis puisi sebagai wujud keprihatinannya

Setelah membacakan puisi tersebut, Pak Muchsin -demikian nama bapak yang menulis dan membacakan puisi tersebut- menceritakan bahwa saat beliau kanak-kanak kondisi sungai itu sangat berbeda dengan saat ini.  Kala itu, airnya jernih dan mengalir deras, sangat nyaman sebagai tempat ia berenang bersama teman-temannya atau memancing ikan-ikan yang hidup di sungai itu.

Tapi itu dulu … Kini, tak ada lagi orang tua yang akan mengizinkan anak-anak berenang di sungai itu.  Air sungai tak hanya buthek, namun juga telah tercemar limbah dari kegiatan industri printing, batik, tekstil,  yang tak mempunyai IPAL dan ada di hampir sepanjang aliran sungai itu.  Warna air seringnya berwarna kecoklatan, kadang-kadang bahkan biru kehitaman. Selain itu, masih ada juga masyarakat yang membuang sampah langsung ke sungai! 😦

Binatur

Tak ada lagi air nan jernih itu… 😦

Sebenarnya bukan tak ada usaha untuk mengatasi persoalan itu.  Pemkot bersama masyarakat telah membangun dan memfungsikan beberapa IPAL untuk industri-industri kecil yang berpotensi mengalirkan limbah ke sungai ini, penataan lingkungan pemukiman pinggir sungai telah dilakukan dan juga terus diupayakan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Pak Muchsin adalah salah satu diantara relawan-relawan yang menggerakkan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan sungai ini.

BRW

Penataan lingkungan pemukiman pinggir sungai telah dilakukan …

Namun usaha ini masih harus terus berlanjut, tidak hanya menjadi tugas pemerintah saja namun partisipasi masyarakat dalam upaya ini sangatlah menunjang keberhasilan usaha ini kelak.

Akankah mungkin kondisi sungai kembali seperti dahulu?

Bukan hal yang mudah pastinya … namun juga bukan hal yang mustahil, bila kita semua berperan aktif mengusahakannya! Insya Allah …

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

10 thoughts on “Sebuah puisi tentang Kali

  1. Ditempat saya sungai tidak lagi bersahabat utk mandi, krn sudah tercemar.. Dulu waktu kecil malah kami sering mandi di sungai..

    semoga revitalisasi sungainya berhasil dan sungai dapat kembali seperti dulu lagi yaa…

  2. Gara-gara policy pemda sembarang di awal, boleh membuang apa saja ke sungai dan kali, jadi begini lah nasib hampir semua kali dan sungai di Indonesia ya Mbak..Turut sedih bersama Pak Muchsin 😦

    dan sekarang kebijakan revitalisasi sungai oleh pemerintah hanya akan berhasil jika ada partisipasi aktif & kesadaran tinggi masyarakat ya mbak… semoga puisi pak Muchsin menyentuh hati & menggerakkan banyak orang.. Aamiin…

  3. Sayang sekali ya Mbak Mechta, sungai jernih sumber kehidupan jadi tercemar. Semoga bisa segera berhasil upaya revitalisasi sungainya ya Mbak..

    Aamiin … semoga kerjasama pemerintah & masyarakat mampu mewujudkan revitalisasi sungai2 di mana saja 🙂

  4. Semoga akan muncuk banyak orang2 spt Pak Muchsin yang peduli dan cinta pada lingkungannya ya.
    Kangen melihat air yang beningggg….

    Aamiin … betul mbak Reni … di perkotaan air sungai yg bening sudah langka … semoga sungai2 yg masih bening di pedesaan / pinggir kota dapat tetap terjaga ya.. 🙂

  5. bisa gak ya sungai-sungai disini menjadi jernih dan bersih kembali

    mudah2an dg kerjasama semua pihak hal itu dpt diwujudkan ya mba Lidya.. Aamiin ..

  6. Mechtaaa…apa kabaaar?
    Lama saya nggak ninggalin komen disini.
    Mechta baik-baik kan?
    Atau marah sama saya?
    Maafkanlaaaahhhh…
    😉

    Mbak Irmaaaa…. Kangeeen… Maafkan sy terkendala BW mbak.. Marah?? Haduuh..nggaklaah… Hawong sy saja bnyk keteteran BW kok.. Alhmdlh kbr baik, smoga mbak Irma sekeluarga kabarnya baik juga ya.. 🙂

  7. Keleastarian alam termasuk sungai, seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua…kebayang sedihnya Pak Muchsin, karena bisa membandingkan kondisi Kali Binatur jaman dulu dan sekarang…

    semoga ke depan smkn banyak yg perduli ya mbak Irma.. Insya Allah…

  8. Padahal kali-nya cakep gitu ya bu, bersih disekitarnya

    alhmdlh penataan lingk sekitar sungai itu sdh menampakkan hsl positif namun masih banyak PR 🙂

  9. Mari Pak Muchsin, bersama warga dan dampingan bu Mechta setahap demi setahap revitalisasi kali menampakkan hasilnya.
    Salam lingkungan lestari Jeng

  10. Sediiiih, kalo ngelihat kali atau sungai yang pada butek gitu mbaaak…
    Bandung juga sama mbaaak..makanya suka banjir gak jelas gitu…hiks..

    semoga makin banyak yg gerak utk revitalisasi sungai2 di sekitar kita yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s