Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

SUKUN Malang, bukan Sukun biasa …

10 Komentar

Ada apa dengan motor ibu ini ?

Ada apa dengan motor ibu itu ? Apakah kehabisan bensin, atau ban-nya kempes?

Ya, mungkin itu pertanyaan yang hinggap di benak kita ketika melihat seorang wanita menuntun sepeda motor-nya sepanjang gang, alih-alih mengendarainya.

Itu pula sekelumit tanya yang sempat terbersit di hati kami ketika hari minggu pagi menjelang siang kemarin, kami menyaksikan kejadian itu.  Tanya di hati makin mengemuka ketika tak hanya ibu itu seorang yang kami lihat menuntun motornya sepanjang gang pagi itu.  Ada pula seorang bapak, ibu-ibu lainnya bahkan beberapa anak muda yang melakukannya.  Tak mungkin ada kejadian ‘bocor ban berjamaah’ saat itu bukan???

Ternyata … memang tak ada yang salah dengan kondisi motor masing-masing mereka. Mereka sengaja melakukan hal itu karena mematuhi aturan bersama warga yang telah ada sejak lama : dilarang mengendarai sepeda motor di semua jalan lingkungan / Gang yang ada di Kelurahan Sukun Kota Malang.

Semua warga mentaati aturan bersama yang telah dibuat, demi terwujudnya keamanan & ketertiban lingkungan. Itu adalah salah satu pelajaran berharga yang kami dapat ketika beberapa hari lalu berkesempatan mengunjungi BKM Sukun Jaya yang ada di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Selain disiplin warga dalam mentaati aturan bersama tersebut, kami juga terkagum-kagum dengan penataan lingkungan di Kelurahan yang terdiri dari 9 RW dan 110 RT tersebut. Salah satunya adalah penataan lingkungan RW 03 yang juga dikenal sebagai “Kampung Terapi”.

Kenapa disebut Kampung Terapi?

Dengan luas sekitar 1000 m2 dan jumlah penduduk sekitar 800 jiwa ( 40-an KK ) menjadikan wilayah RW 03 Kelurahan Sukun ini salah satu pemukiman yang relatif padat.  Jalan-jalan lingkungan / Gang yang ada di RW ini relatif sempit, diapit oleh rumah-rumah penduduk yang padat di kanan-kirinya.  Namun anehnya, menyusuri jalan-jalan di lingkungan ini tetap terasa nyaman. Sama sekali tak ada rasa ‘sumpeg‘ yang seringkali timbul jika kita ada di lingkungan yang padat penduduknya. Apa rahasianya?

Foto-foto berikut ini mungkin bisa lebih berbicara …

Gang-gang di Kelurahan SUKUN yang 'Ijo Royo-royo'

Gang-gang di Kelurahan SUKUN yang ‘Ijo Royo-royo’

Tanaman nan segar ada di depan setiap rumah ...

Tanaman nan segar ada di depan setiap rumah …

Bersih, rapi dan hijau. Tiga kata itulah yang terkait dengan kondisi yang kita lihat dari foto-foto di atas, bukan ? Tak harus tanaman mahal nan eksotis, tanaman hias / TOGA yang ‘biasa-biasa saja’ bisa tetap cantik -bahkan tanpa pot-pot cantik- asalkan terpelihara dengan baik 🙂

Pohon Cincau dan manfaatnya

Pohon Cincau dan manfaatnya

Kacapiring, ternyata bukan tanaman hias biasa... termasuk TOGA juga lho!

Kacapiring, ternyata bukan tanaman hias biasa… termasuk TOGA juga lho!

Banyak jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang di tanam warga di sana.  Sebagai bahan pelajaran bagi warga ataupun masyarakat luas, tak lupa dicantumkan nama tumbuhan dan manfaatnya, dalam kertas-kertas penanda yang meskipun sederhana namun tak mengurangi nilainya.

Ini penyebab RW 03 disebut Kampung Terapi

Gang-gang yang meskipun kecil namun bersih dan tertata rapi

Jalan / Gang -gang yang ada memang sempit, namun tak nampak kekumuhan di sana. Tatanan batu-batu kecil nan putih yang membujur di tengah semua akan Gang langsung menarik mata kita. Itulah rupanya yang menjadikan kampung ini terkenal sebagai KAMPUNG TERAPI.

Ya, itu batu-batu putih itu adalah batu-batu yang sering digunakan sebagai terapi pijat. Di kampung ini, setiap warga bisa melakukan terapi pijat telapak kaki kapanpun dia ingin, tanpa harus keluar biaya alias gratis! Ya, tinggal lepas alas kaki dan berjalan-jalan -atau ada yang berlari kecil juga- di atas tatanan batu-batu putih yang ada di lingkungan mereka. Sehat tak harus mahal! Begitu rupanya salah satu motto mereka 🙂

Minggu pagi adalah hari kerja bakti... Bahkan si kecil ini pun siap berpartisipasi ! :)

Minggu pagi adalah hari kerja bakti… Bahkan si kecil ini pun siap berpartisipasi ! 🙂

Penanaman nilai-nilai gotong-royong, cinta kebersihan & cinta lingkungan hijau rupanya terus menerus dilakukan, melalui wahana-wahana pertemuan rutin warga yang ada, tak hanya kepada penduduk dewasa, anggota Karang Taruna bahkan sejak usia pra-remaja sudah dikenalkan dengan hal tersebut. Tak heran bila hal itu akhirnya mendarah-daging pada setiap warganya, kondisi lingkungan mereka telah membuktikan hal itu.

Selain melihat secara langsung lingkungan mereka, kami juga diterima dengan baik dan berdiskusi langsung dengan para penggiat pembangunan tersebut, khususnya pengurus BKM Sukun Jaya, Ketua RW, kader penghijauan, dll.

Dari hasil diskusi tersebut, dapat kami simpulkan bahwa ada beberapa kunci keberhasilan kegiatan penataan lingkungan di Kel. Sukun ini, yaitu :

  1. Perencanaan integratif yang dilaksanakan secara berjenjang, sejak tingkat RT hingga Kelurahan.
  2. Kebersamaan antar lembaga masyarakat yang ada dalam melaksanakan setiap kegiatan. Kegiatan BKM misalnya, tidak hanya dilaksanakan secara eksklusif oleh anggota BKM saja namun melibatkan unsur lembaga lainnya, misal : LPMK, PKK, Karang Taruna, dll.
  3. Kedisiplinan semua warga dalam melaksanakan aturan bersama yang telah disepakati.
  4. Keteladanan tokoh masyarakat meningkatkan kepedulian dan partisipasi warga masyarakat lainnya dalam melaksanakan program / kegiatan dari, oleh dan untuk warga.

Demikianlah, ada banyak ‘oleh-oleh’ yang kami dapatkan hasil kunjungan singkat pada hari minggu yang lalu di Kelurahan Sukun. Terima kasih seluruh pengurus BKM Sukun Jaya dan tokoh masyarakat kelurahan Sukun yang telah menerima & membekali kami dengan hal-hal berharga tersebut.  Semoga kita dapat selalu saling berbagi menuju sukses bersama! Insya Allah …

Warga SUKUN yang Suka Rukun untuk Membangun…, sampeyan sedaya pancen luar biasa ! 😀

Iklan

Penulis: Mechta Deera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

10 thoughts on “SUKUN Malang, bukan Sukun biasa …

  1. Sepakat, Mechta…mereka adalah warga yang luar biasa!
    Saya kaget, betapa berubahnya kampung-kampung di daerah Sukun sekarang. Mungkin mirip dengan yang ada di Surabaya ya. Setahu saya daeah ini adalah kampung biasa yang tidak terlalu hijau dan rapi seperti di foto ini. Tapi lihatlah, ternyata tanaman sederhana dengan pot yang biasa pun jadi kelihatan indah kalau ditanam dan dipelihara dengan penuh cinta 🙂
    Eh, eh…beli tahu Sukun kan, Mechta?
    Itu tahu kesukaan kami sekeluarga…enaaaaakkk…

    Waa…telat dapat info ttg tahu Sukun niih… Kok ya kemarin ga ada yg nyuguh tahu itu ya? hehe…

  2. Jadi sebenarnya tak ada alasan lahan sempit ya untuk bercocok tanam. Kalau memanjang dan melebar nggak memungkinkan, bisa dibuat bertingkat ke atas alias meninggi

    begitulah mbak..di mana ada kemauan, di situ ada jalan.. begitu pepatahnya, bukan ? 🙂

  3. Bagus. Cermin masyarakat yang ingin lingkungannya berish, nyama, dan nyaman.
    Juga cermin kedisiplinan masyarakat.
    Terima kasih artikelnya yang informatif
    Salam hangat dari Surabaya

    Terima kasih jg sdh berkunjung di sini, Pakde.. 🙂

  4. hebat! seandainya semua desa di Inonesia bisa seperti itu ya….

    semoga virus baik ini cpt menyebar ya mba Susanti.. 🙂

  5. biasanya kalau rumah warga yang rapet-rapet gitu kesannya memang suka kumuh dan sumpek. Kalau ada yang seperti ini rasanya bikin sejuk walopun lahan sangat terbatas, ya. Kelihatan kalau warganya suka menjaga kebersihan. Semoga diikuti juga oleh warga lainnya.
    Semiga mjdi inspirasi bg kampung2 lainnya yaa…

  6. Dulu pas waktu SMP saya juga pernah lewat gang itu. Bedanya adalah, dulu masih gersang dan motor lalu lalang dengan nyaman. Kini perubahannya sangat drastis ya, ijo royo-royo dan ada larangan mengendarai motor di jalan gang. Bagus banget mbak

    ooh…benar2 berbeda dg kondisi dulu ya Pak? Mgkn larangan itu krn gang sempit, bnyk anak2 & takut merusak tatanan batu ya?

  7. Jadi bebas polusi kendaraanbermotor disekitar rumah ya mbak. Kadang agak kesal dengan pengendara motor yang berisik yang lewat depan rumah

    Mungkin memang itu salah satu maksudnya mbak, kenyamaan lingkungan… tapi, kepikir juga kalau yg rumahnya jauh di ujung gang kasihan juga ya? hehe…

  8. Hampir seminggu sekali saya ke Malang dan melewati daerah Sukun ini. Hanya saja, saya belum pernah masuk ke gang gang di sepanjang jalan ini. Saya jadi penasaran, pingin mampir ke sana kalo ke Malang lagi.

    Tentu nggak gampang menyatukan keinginan untuk kebaikan bersama. Butuh Pemimpin warga yang bisa menjadi panutan dan teladan agar bisa menerima pemikiran positip seperti ini.

    Mudah2an lain kali bisa mampir ke sana nggih Kang Pakies… saya juga ingin tahu apakah kondisi itu sehari-hari atau hanya saat kunjungan saja? hehe…

  9. Pola senada akan dikembangkan di Kota Batik ya Jeng dengan warna khas pesisir Utara.
    Selamat terus berkarya mendampingi warga ya Jeng. Salam hijau

    Insya Allah, Bu Prih … Salam hijau 🙂

  10. Tadinya saya kirain Sukun nama buah itu, rupanya nama kelurahan. 🙂
    Pasti nyaman banget yaaa kalau lingkungan sekitar gang-gangnya hijau begitu. Apalagi bebas polusi kendaraan bermotor lagi. Semoga tetap semangat berkarya untuk masyarakat..
    Salam Kenal Bu Mechta Deera..

    Hehe… maaf..judulnya ambigu yaa.. Terima kasih..selamat berkarya juga yaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s