Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Sejenak menyapa sepi di Telaga Sunyi

13 Komentar

judul

tenggelam…di Telaga Sunyi… bersama…cintanya yang murni…

Ah, sepenggal lirik dari lagu lama Koes Plus yang berjudul Telaga Sunyi, langsung bergema di benakku sepanjang kunjungan singkatku ke lokawisata di kawasan Baturraden itu..

Agak tidak mengenakkan sebenarnya, karena kesannya jadi ‘gimanaaa’… sementara sore sudah beranjak ke rembang petang di saat aku sampai di sana. Maghrib-maghrib, sepi, mendung, brrr…. bulu kudukku pun berdiri…

Hm, teman-teman tahu / sudah pernah mendengar lagu Telaga Sunyi yang dipopulerkan oleh Koes Plus ini? Kalau belum pernah tahu, nih ada kutipannya di sini :

Di kala Sang Bulan Purnama,  bersinar di atas telaga

Terdengar suara menggema, melagukan balada tua

Reff :  Kisah seorang putri / yang telah patah hati / lalu … bunuh … diri …

Tenggelam di Telaga Sunyi, bersama cintanya yang murni

Tenggelam di Telaga Sunyi, bersama cintanya yang murni …

Bukan sebuah lagu yang menggambarkan keindahan telaga, namun justru tentang kejadian tragis di Telaga Sunyi.  Lirik yang sederhana dengan aransemen musik yang cenderung ngelangut itu diulang-ulang hingga makin menebalkan rasa sedih ketika mendengar lagu ini… Dan sedihnya lagi, lagu sedih ini otomatis terputar berulang-ulang di benakku sore beberapa waktu lalu, ketika aku akhirnya bisa menyaksikan sendiri Telaga Sunyi di Baturraden itu.

Telaga Sunyi, adalah salah satu dari banyak lokawisata yang ada di Kecamatan Baturraden Kab Banyumas.  Senada dengan namanya, lokawisata satu ini memang berada jauh dari keramaian, menjadi salah satu bagian dari wisata alam Baturraden, terletak sekitar 2,8 km ke arah timur dari Lokawisata Baturraden / terminal baturraden. Bisa dikunjungi dengan menggunakan mobil, sepeda motor ataupun angkutan umum dari Terminal Baturraden, sekita 15 menit lah…

Sudah cukup lama aku ingin berkunjung ke Telaga Sunyi ini, jujur awalnya karena penasaran dengan lagu jadul Koes Plus itu, juga mendengan penuturan beberapa teman yang pernah ke sana. Tempat yang asyik untuk menyepi, kata mereka, hehe… Nah, ketika beberapa waktu lalu berkesempatan liburan di kawasan baturraden, maka langsung saja kuajukan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata yang akan kami datangi.  Tapi, sayangnya tidak semua anggota keluargaku antusias ingin ke sana. Sebagian besar ABG kami inginnya ke tempat yang ramai dan bisa berenang sepuas hati! Haha…

OK laah, akhirnya lokasi ini menjadi tempat perhentian terakhir di hari pertama wisata keluarga kami ke Baturraden kemarin, dan itu artinya sore hari! Akupun setuju karena perkiraan tak akan terlalu sore kami bisa menyelesaikan kunjungan ke 2 lokasi wisata pilihan para ABG itu, tapi ternyata…menjelang maghrib kami baru sampai di lokasi Telaga Sunyi! Alamaaak…

Lalu batal dong?

Nggak laah… Meskipun ada sejumput rasa was-was di hati -apalagi karena pak penjaga di sana sempat menyatakan kami pengunjung terakhir sore itu..hiks…- aku ditemani 2 adikku pun tetap membulatkan tekat menyusuri jalan setapak di tepi aliran sungai, menuju Telaga Sunyi, sementara ibu dan kakakku menunggu di mobil dan rombongan satu lagi langsung menuju hotel.

ts1

Sore menjelang, namun rasa penasaran membuatku tetap nekad menuju Telaga Sunyi

t-sunyi2

Jalan setapak menuju Telaga Sunyi.

Awal menapaki jalan itu, aku langsung merasa senang, karena di bawah pepohonan besar nan rindang yang menaungi, ada deretan tanaman perdu yang seolah memagari jalanan setapak itu.  Ah, sayang aku tak tahu nama tanaman perdu itu, tapi yang jelas bunga-bunganya yang mungil dan berwarna ungu langsung membuatku jatuh cinta! Yaiyalaaah, ungu gitu looh… hehe…

perdu_ungu

Deretan perdu berbunga ungu yang memagari jalan setapak menuju Telaga Sunyi. Apa namanya ya?

Suasana sepi sangat terasa, hanya terdengar suara gemericik air dan lirih suara kerikil ataupun ranting-ranting patah terinjak kaki-kaki kami yang melangkah agak tergesa, menyusuri aliran sungai berair jernih dan deras itu, menuju Sang Telaga Sunyi.  Agak terganggu dengan ‘alunan’ lagu Koes Plus itu di benakku sepanjang jalan ke sana -karena membuat bulu kuduk merinding dan mikir yang ‘enggak-enggak’ -tapi berusaha kutepiskan dan fokus pada pemandangan indah di sekitar kami.

t-sunyi4

Menyusuri tepi sungai, menuju Telaga Sunyi

Kami berpapasan dengan beberapa pengunjung lain yang rupanya sudah selesai mengeksplor keindahan telaga sunyi itu, menilik dari wajah puas mereka dan kamera-kamera yang berayun di leher beberapa diantara mereka. Hihi..sok tahu amat ya aku? Mendung menggantung mungkin menyebabkan mereka bergegas meninggalkan telaga, sedangkan kami baru datang dengan semangat untuk melihat keindahan telaga, hehe…

Dan di ujung perjalanan pendek itu… tampaklah Sang Telaga Sunyi!

ts5

Telaga Sunyi di penghujung hari

Ada sekelompok pengunjung lain yang sedang berfoto-ria di tepian telaga, membuat kami berhenti sejenak agak jauh menunggu mereka selesai berfoto, namun kondisi itu justru memberi kesempatan bagi kami untuk menikmati suasana sekitar, menyapa sepi di Telaga Sunyi itu.

Di ujung sana, ada sebuah aliran air di antara bebatuan besar di sebelah sungai yang agak ke atas posisinya, cukup deras mengalir turun, jatuh dengan cantik ke sebuah telaga yang nan jernih di bawahnya, sebelum kemudian mengalir lagi ke arah sungai berair bening berbatu-batu di posisi yang lebih rendah lagi.

telaga-sunyi

Telaga Sunyi Baturraden

Telaga di bawah air terjun / curug mini itulah yang namanya Telaga Sunyi.  Menilik warna air yang jernih berwarna biru kehijauan (mungkin karena pantulan warna pepohonan di sekitarnya) serta tenang tak ber-riak, perkiraan kami telaga itu cukup dalam, dan ternyata menurut tulisan yang ada di sana, kedalaman telaga itu sekitar 5 meter.

Selain sekelompok pengunjung yang sedang berfoto-foto di sana, ada beberapa orang yang sedang memancing juga, di pojok sana, namun tak lama kami lihat mengemasi peralatannya, entah karena sudah dapat ikan, atau karena maghrib yang sudah menjelang.

Tiba-tiba suara gludug pertanda hujan terdengar mengusik kesunyian itu, adikku segera meminta kami untuk mengabadikan suasana di sekitar sana, segera setelah pengunjung sebelumnya menyelesaikan acara foto-fotoan mereka dan bergegas meninggalkan lokasi, dan suasana semakin terasa sunyi.

ts4

Telaga Sunyi, dengan airnya yang jernih dan mengalir tenang…

di-telaga-sunyi

Bukti sudah sampai di Telaga Sunyi, pose-pose dulu kitaa…

Hari semakin sore, mendung kian menggantung, menyebabkan kami tak bisa berlama-lama di Telaga Sunyi. Setelah mengambil beberapa foto, kami pun bergegas kembali ke tempat parkir, sementara udara terasa semakin dingin dan suasana semakin remang-remang.  Sesampai di tempat parkir, rintik mulai menitik dan kami pun bergegas memasuki mobil dan meinggalkan lokasi menuju penginapan, diiringi hujan yang mulai menderas.

Sudah puas dan tidak penasaran lagi?

Hah…tidak juga! Asli aku belum merasa puas karena baru saknyukan alias hanya sebentar saja ada di sana.  Langsung aku bejanji dalam hati untuk datang lagi lain kali, pagi / siang hari, dengan waktu yang lebih lama.  Ya, mungkin saja di pagi / siang hari, sedikit aura mistis yang kami rasakan sore itu tak akan terasa..hehe…

Ya, aku memang masih penasaran dengan telaga yang satu itu, terlebih ketika dalam perjalanan pulang, kedua adikku sepakat bahwa ada aura yang ‘tidak biasa’ di sana : yang satu merasa melihat sesuatu melintas menyeberangi permukaan telaga, yang lain ‘hanya’ merasakan aura berbeda dan menyebabkannya ingin buru-buru meninggalkan tempat, meskipun tak melihat sesuatu yang tidak biasa. Aku? Hm, hanya merasa tak nyaman karena dingin dan terganggu dengan ‘serbuan’ lirik lagu itu yang memenuhi benakku…

Pernah ke Telaga Sunyi di Baturraden, teman? Bagaimana pengalamanmu di sana? Atau masih penasaran juga dengan Telaga Sunyi? share di kolom komen yaa…

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

13 thoughts on “Sejenak menyapa sepi di Telaga Sunyi

  1. Hrrr…..,tulisanmu Jan bikin merinding….hiiii….

  2. Klo sampai 5 meter pasti asyik klo boleh berenang di sana. Sambil nyelam he he he…..

  3. jadi memang namanya Telaga Sunyi, kirain karena suasananya…
    unik banget
    btw mbak, bunga ungu itu kecubung bukan?

  4. Idem mbak Monda, ternyata identitasnya memang Telaga Sunyi ya Jeng.
    Salam hormat katur Ibu yg tetap semangat trecking ke Telaga Sunyi. Sugeng warsa enggal, Diajeng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s