Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Menelusuri Jejak Sejarah Arjati di Kota Pekalongan (2)

22 Komentar

Apa kabar, teman..?

Meneruskan tulisan kemarin tentang pengalaman mengikuti kegiatan Arjati Heritage Walk 111 (AHW 111) yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi ke 111 Kota Pekalongan ya…

Setelah menyaksikan salah satu peninggalan VOC di Kota Pekalongan yaitu Benteng Pekalongan yang terletak di Kampung Bugisan, rombongan kelompok II peserta AHW111 dipandu untuk meneruskan langkah menuju destinasi berikutnya yaitu :

Kampung Arab & Masjid Wakaf

Setelah menyeberang Sungai Pekalongan kemudian melewati Taman Patiunus, rombongan menyeberang ke kanan memasuki wilayah Kelurahan Sugihwaras, salah satu Kampung Arab di Kota Pekalongan.

Di Kampung Arab Sugihwaras ini kami menyusuri jejak sejarah pusat perdagangan batik baik itu bahan-bahan baku batik dan juga tenun yang telah ada sejak tahun 1950. Menurut pemandu, pada masa itu, di kampung Arab inilah ditentukan harga kain mori di seluruh Indonesia. Di sekitar Jl Surabaya ini banyak ditemukan rumah-rumah penginapan peninggalan jaman dahulu.

Di Kampung Arab ini juga terlihat banyak rumah-rumah berarsitektur kolonial karena di kawasan inilah terdapat 3 keluarga penting yang berperan dalam pembangunan realestate sejak tahun 1900-an, yaitu Keluarga Argubi, Yahya dan Shihab.  Lokasi rumahnya di perempatan Jl Semarang – Surabaya.

Batik Madu Bronto_ArjatiHeritageWalk

Rumah Batik Madu Bronto _ Arjati Heritage Walk 111

Pemberhentian pertama di Kampung Arab adalah di depan Rumah Batik Madu Bronto yang di halaman sampingnya terdapat peternakan sapi yang konon sudah ada sejak tahun 1936. Terasa adem melihat tampilan rumah batik tersebut, dengan pilar-pilar besar khas arsitektur kolonial dan dua perangkat kursi kayu vintage di terasnya.

peternakansapi_ArjatiHeritageArt

Peternakan sapi di hal samping Rumah batik Madu Bronto _Arjati Heritage Walk 111

Dari pintu gerbang pagar depan bila kita melihat ke arah samping kiri halaman, akan terlihat bangunan setengah terbuka yang memanjang dari depan ke belakang.  Itulah sebagian kandang sapi. Ya, memang di lokasi ini terdapat peternakan sapi yang cukup tua, terbukti dengan adanya arsip foto tentang peternakan sapi ini pada koleksi Tropen Museum Amstredam bertanggalkan 1936.

Perjalanan di Kampung Arab dilanjutkan dan persinggahan berikutnya adalah di sebua masjid wakaf yang dibangun sekitar taun 1854 oleh seorang saudagar bernama Sayid Husein Bin Salim yang berasal dari Hadramaud.  Masjid dengan menara yang mempunyai arsitektur khas Timur Tengah ini masih digunakan oleh warga sekitar sampai dengan saat ini.

Menara Masjid Wakaf Kampung Arab _ Arjati Heritage Walk 111

Kawasan Pecinan & Klenteng Po An Thian

Dari Kampung Arab di daerah Sugihwaras rombongan melanjutkan penelusuran sejarah menuju ke Pecinan di daerah Sampangan. Dalam perjalanan menuju Klenteng Po An Thian di Jalan Belimbing, rombongan melewati beberapa rumah bersejarah lainnya, antara lain Rumah Kapiten ( yang memberikan sumbangan besar dalam pembangunan Klenteng Po An Thian ) dan Rumah Beskal / Jaksa di jaman penjajahan.

Rumah Beskal / Jaksa di Jl Belimbing _ Arjati Heritage Walk

Pemberhentian rombongan selanjutnya di kawasan Pecinan ini adalah di Klenteng Po An Thian yang terletak di tikungan Jl Belimbing Kota Pekalongan.

Penyampaian materi di depan Klenteng Po An Thian _ Arjati Heritage Walk 111

Menurut sumber data dari salinan ADART Perkumpulan Po An Thian th 1917, Klenteng ini diperkirakan didirikan sekitar tahun 1882, yaitu pada tanggal 15 bulan 5 Imlek. Demikian juga perkiraan ini berdasarkan keterangan sesepuh Klenteng, bawa pada tahun 1957 usia Klenteng ini telah 75 tahun. Dihitung-hitung berarti tahun ini sudah 135 tahun umur Klenteng ini ya…

Po An Thian berasal dari bahasa Hokkian yang secara harfiah berarti ” Istana Mustika Keselamatan ” atau Rumah ibadah yang memberikan perlindungan dan keselamatan bagi umatnya.

Klenteng Po An Thian ini merupakan rumah ibadah Tri Dharma, dalam arti digunakan untuk berdoa umat dari 3 agama / kepercayaan yaitu : Budha, Tao dan Khonghucu, tentu saja dengan jadwal berbeda dan ruang doa masing-masing.

Ini adalah kesempatan pertama bagiku mengunjungi Klenteng, sehingga ketika kemudian salah seorang Bapak pengurus yang kujumpai di sana menawarkanku untuk masuk dan menggambil beberapa gambar di dalam langsung kuterima tawaran itu meskipun dengan resiko ketinggalan rombongan! Hehe…

Bagian dalam Klenteng Po An Thian _ Arjati Heritage Walk 111

Altar doa bagi Dewi Kwan Im _ Arjati Heritage Walk 111. Oya, di foto ini ada Bp Ie be yang bersedia mengantar & memberi banyak keterangan… Terima kasih, Bapak…

 

Ruang Doa Tao dengan simbol Yin-Yang _ Arjati Heritage Walk 111

Brug Lodge 

Dari Klenteng Po An Thian perjalanan dilanjutkan kembali ke Kawasan Jetayu, setelah melewati Gereja Katolik St Petrus, belok kiri sampailah kita di jembatan / Brug Loji, demikian masyarakat biasa menyebutnya.

Brug Loji sebelum renovasi ( Th 2015 )

Brug Lodge atau jembatan Loji adalah sebuah bangunan cagar budaya yang membentang di atas Sungai Kupang, menghubungkan kawasan  pemerintahan saat itu ( kawasan Jetayu saat ini ) dengan kawasan pasar, pecinan maupun Kampung Arab yang ada di seberang sungai. Diperkirakan dibangun pada abad 19, masa kolonial Hinda-Belanda.

Jembatan Loji ini telah beberapa kali diadakan renovasi untuk memperkuat jembatan dan renovasi yang terakhir pada Tahun 2016 lalu cukup merubah penampilan asli jembatan ini. Terlihat lebih kokoh memang, tapi aura jadulnya kok kurang terasa lagi ya? Ah, mungkin hanya perasaanku saja 😦

Brug Loji setelah renovasi _ Arjati Heritage Walk 111

Setelah melintasi Jembatan / Brug Loji, sampailah kita kembali di Kawasan Jetayu. Sebelum menyeberang jalan menuju Lapangan Jetayu, pejalan kaki dapat berjalan-jalan di trotoar sepanjang Kali Kupang atau duduk-duduk menikmati semilir angin dan mengamati lalu lintas yang ada. Sayang, tangan-tangan jail telah mengotori dinding tepi sungai sehingga mengurangi kecantikan lingkungan.. Hiks..

Peserta Heritage Walk bisa istirahat dulu di tepi Sungai Kupang ini _ Arjati Heritage Walk 111

Tugu Myl pall

Tugu MylPall _ Arjati Heritage Walk 111

Di salah satu sudut trotoar yang mengitari Lapangan Jetayu -tepatnya di sudut sekitar depan Gedung Eks Karesidenan- terdapat sebuah tugu bercat putih setinggi pinggang orang dewasa. Tugu apakah itu?

Itulah yang disebut Myl Pall yaitu penanda 0 KM Kota Pekalongan, yang sekaligus merupakan penanda pembangunan jalan raya pos ( Grote Pos Weeg ) oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda HW Deandles.

Gedung eks Rumah Dinas Residen Pekalongan

Eks Rumah Dinas Residen _ Arjati Heritage Walk 111

Gedung ini pernah digunakan sebagai rumah jabatan Residen Pekalongan yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1850 oleh Residen J van der Eb namun digunakan pertama kali oleh Residen George Johan Peter van de Poel.

Masih digunakan sebagai Rumah Dinas / Kantor eks Karesidenan Pekalongan hingga tahun 200, selanjutnya digunakan sebagai Kantor Bakorwil III hingga tahun 2016 dan saat ini sebagai Kantor Badan Penyelenggara Pendidikan Menengah.

Kantor Pos Pekalongan

Gedung Kantor Pos Kota Pekalongan ini didirikan sejak tahun 1920, dan dalam sejarah Pos Indonesia memang Kota Pekalongan sudah termasuk dalam jalur pos di Jawa, bahkan sejak 1746 Pekalongan menjadi tempat pergantian kuda kereta pos dari Batavia sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Gedung Kantor Pos Kota Pekalongan _ Arjati Heritage Walk 111

Museum Batik

Gedung Museum Batik _ Arjati Heritage Walk 111

Museum Batik adalah destinasi terakhir Arjati Heritage Walk 111 yang kemarin kuikuti.  Gedung ini diperkirakan dibangun sekitar taun 1900 sebagai pusat administrasi 17 pabrik gula se eks Karesidenan Pekalongan.

Pernah digunakan sebagai Pusat Pemerintahan Kota ( Ken ) pada masa pendudukan Jepang dan di masa kemerdekaan bangunan ini pernah digunakan sebagai Pusat Pemerintahan Daerah Tk II dan Kantor Bappeda (sampai 1987), Kantor Dinas Pendapatan Daerah ( hingga 2006) dan sejak 12 Juli 2006 diresmikan sebagai Museum Batik oleh SBY -Presiden RI saat itu .

Naah… demikianlah cerita panjang oleh-olehku mengikuti Arjati Heritage Walk 111 yang diadakan pada tanggal 2 April 2017 lalu, dalam rangka Hari Jadi ke 111 Kota Pekalongan.

Gimana…asyik, bukan? penasaran juga? Hayuuk…. segera agendakan jalan-jalan ke Kota Batik yaa….

Tulisan sebelumnya : Menelusuri Jejak Sejarah ARJATI di Kota Pekalongan

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

22 thoughts on “Menelusuri Jejak Sejarah Arjati di Kota Pekalongan (2)

  1. Yang paling berkesan dari seluruh perjalanan ketika yang dimana ?? 😀

  2. waktu nyampe malam di Pekalongan, rasanya sampai di sekitar kampung Arab apa ya mbak…
    cari makan malam cuma di situ yang masih buka..
    Pekalongan kota yang menarik untuk ditelusuri lagi …. banyak yang bisa ditengok nih

  3. Soal peternakan aku baru tau lho

  4. Jd kangen jalan2 sama komunitas sejqrah kek gini mbak.dqpet banyak ilmu n bisa nambah banyak temen. Pengeen keliling pekalongan jadinya

  5. Wow Pekalongan memang eksotis abis

  6. Pingin jalan2 k pekalongan lg..terakhir 10 th yll pas kuliah he3 lama banget ya

  7. Banyak ternyata peninggalan sejarah ,kita harus jaga dan dapat diceritakan nantinya ke pada penerus bangsa . .

  8. pengen foto-foto di klenteng nih…serasa di negeri mana gitu…hehehe

  9. Seru banget ya mbak, bisa wisata sejarah sambil mengetahui sejarah serta melihat langsung peninggalnnya.

  10. Ar Ja Ti
    Arab Jawa Tionghoa
    Waahh ini ide yang patut ditiru inih
    Ini sekaligus menyadarkan kita semua bahwa ,,, bisa jadi bisa jadi budaya yang ada pada kita sekarang ini adalah merupakan budaya campuran dari pengaruh-pengaruh berbagai macam suku dan etnis

    Salam saya

    • Setuju, Om.. Seringkali kita abai dengan budaya kita.. Mungkin krn sdh sangat terbiasa padahal siapa tahu ada kearifan lokal yg penting di sana..
      Trmksh sdh mampir, Om NH..

  11. Saya pernah ke Pekalongan tapi hanya sebentar sebatas urusan kerja belum sempat kemana-mana. Yang paling unik mungkin tugu myl pall sebagai penanda 0 km. Bentuk tugunya unik mirip kotak surat ya mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s