Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Ngadem di Museum Batik Pekalongan

10 Komentar

Seperti yang sudah kutuliskan di post sebelumnya, libur Lebaran selalu istimewa karena perjumpaan dengan kerabat yang lama tak bersua karena terpisah jarak, di antaranya adalah kedatangan dua orang keponakan dari Jogja yang memang sudah cukup lama tak berkunjung.

Nah, di antara waktu kunjungan mereka yang singkat, kami pun menyempatkan diri menemani mereka jalan-jalan di kota kami. Pantai adalah tujuan pertama, seperti kebiasaan mereka dulu yang selalu mengajak main air di pantai bila sedang di Pekalongan. Namun karena sekarang mereka bukan kanak-kanak lagi, acara main air di Pantaisari di-skip , sebagai gantinya hanya duduk-duduk di tepi pantai, menonton anak-anak kecil yang mandi-mandi (seperti mereka duluuu…hehe).

Tujuan berikutnya adalah Pekalongan Mangrove Park di Jl Kunti Pekalongan Utara. Di sana tidak lama karena panas yang cukup terik meskipun baru sekitar Pukul 11-an, hanya berperahu keliling area dan jalan-jalan dari ujung ke ujung area saja. Lalu ke mana lagi? Cari yang adem, begitu permintaan mereka. Maka akupun mengarahkan mereka ke Museum Batik.

Lhah…kenapa ke sana?

Iyalah… Belum sah ke Kota Batik kalau belum mampir ke Museum Batik, bukan? Lagipula, suasana di Museum Batik yang menempati gedung kuno dan bersejarah itu menimbulkan rasa adem dan nyaman buat pengunjungnya.

Maka siang itu kamipun mengunjungi Museum Batik yang berada di Kawasan Jetayu Kota Pekalongan. Dengan tiket masuk seharga Rp. 5.000,- / orang, kami pun mulai berkeliling, dari satu ruang ke ruang-ruang lainnya. Oya untuk anak-anak HTM Rp. 2.000,- sedangkan untuk turis manca Rp. 10.000,-.

Terdapat 3 ruang pamer di Museum Batik ini. Di ruang pamer pertama, pengunjung akan disambut dengan display peralatan membatik, kain-kain batik bersejarah, dan…display Sintren. Itu lho, salah satu budaya lokal pesisir berupa tarian yang konon mengandung unsur magis, dengan penari yang kerasukan / kemasukan roh. Rupanya tak hanya ada batik di Museum Batik..hehe..

Aneka Canting

Motif khas Pekalongan

Motif berdasarkan Legenda / cerita rakyat

Motif berdasarkan cerita anak yg telah mendunia

Motif Tok Wi yang dipengaruhi Budaya Tionghoa

Di salah satu dinding museum ini terdapat foto besar Museum Batik dan di salah satu sudutnya terdapat JEDI, yaitu sebuah bejana besar yang terbuat dari tembaga, yang digunakan sebagai tempat nglorod -proses pelepasan malam / lilin batik- yang banyak digunakan pada 1849 -1947. Keterangan tentang Jedi ini dapat kita baca tepat di sebelah bejana besar ini.

Demikian pula selanjutnya di ruang-ruang pamer lainnya. Kain-kain yang dipajang di sana tentunya disertai keterangan tertulis sehingga pengunjung betah ‘belajar’ dari satu kain ke kain lainnya. Mengetahui sejarah / latar belakang / asal-usul aneka motif, menikmati indah dan rumitnya corak batik, aneka warna, aneka teknik membatik. Tidak hanya batik dari Pekalongan maupun dari daerah-daerah yang sudah terkenal sebagai daerah Batik saja seperti Solo,Cirebon, dll, namun ada pula batik-batik dari Jawa Barat, Kalimantan, bahkan Papua.

Di R. Pamer 2

Masih di R. Pamer 2

Di R. Pamer 3

Bila ingin belajar membatik, dapat langsung mendaftar di ruang workshop di bagian belakang museum ini. Media pelatihan beragam / ukuran, ada kaos, saputangan, slayer, plangkan maupun taplak meja.

Aneka media pelatihan batik

Ada rombongan yg sedang belajar membatik di ruang workshop

Mengamati & mencoba Cap batik

Hati-hati yaa… cap nya panas tuuh…

Contoh hasil cap

Lelah berjalan dari satu ruang ke ruang pamer lainnya, kita dapat duduk-duduk di kursi-kursi yang disediakan di tepi lorong / koridor, ataupun duduk-duduk di kantin sambil menikmati minuman ringan dan pemandangan taman yang hijau.

Salah satu lorong / koridor dg kursi2 untuk istirahat

Salah satu sudut yg digunakan sebagai kantin

Taman nan rapih ini membuat suasana Museum Batik terasa adem…

Nah, itu dia cerita jalan-jalan kami di Museum Batik di libur Lebaran lalu. Benar-benar tempat yang pas buat ngadem di siang yang panas, sambil lebih mengenal tentang Batik.

Oya, museum ini diresmikan oleh Bapak Susilo B. Yudoyono pada tanggal 12 Juli tahun 2006 lalu, sehingga tanggal 12 Juli 2017 kemarin adalah Hari Ulang Tahun ke-11 dari Museum Batik ini.  Nah, selamat ultah Museum Batik… Semoga semakin sukses dalam tugasnya mengedukasi masyarakat demi pelestarian budaya bangsa…

Penasaran dengan Museum Batik Pekalongan? Yuuk… #kemuseumbatik !

Iklan

Penulis: mechtadeera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

10 thoughts on “Ngadem di Museum Batik Pekalongan

  1. Udh 11 tahun, ga kerasa. Smoga makin jaya museum batik Pekalongan…

  2. Daftar ikutan ngadem ya Diajeng….ngelmu batik selalu ngangeni. Motif khas pesisiran yg cerah energik.

  3. Kota Batik nih, tapi dari Bengkulu juga punya lo batik besurek, kunbal ya

  4. belum pernah berhasil motret di dalam ruangan museum, heu

  5. salah satu wishlist, ngebatik pake canting 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s