Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Dances with Wolves, film favoritku.

27 Komentar

Lalang Ungu. Hai..haiii…jumpa lagiii…

Weekend begini, apa yang paling asyik untuk dilakukan bersama keluarga atau orang-orang tersayang? Banyak tentunya ya… Jalan-jalan, makan bersama, nonton bareng, atau sekedar kumpul-kumpul di rumah saja.

Ngomong-omong tentang nonton, teman-teman Blogger Gandjel Rel lagi asyik membahas tentang film-film favorit niih… Itu karena pada tema arisan Blog yang ke-8 kali ini, tema yang disepakati adalah : Film favorit sepanjang masa. Tema itu adalah usulan dari 2 blogger keren Gandjel Rel yaitu mba Untari pemilik Blog Dunia Qtoy dan Ira Sulistiana penulis Blog Catatan Isul.

Hmm… Buatku, ini tema yang cukup berat, karena aku nggak hobby nonton. Hehe… Dari jaman sekolah sampai dengan saat ini, cuma beberapa gelintir saja judul film layar lebar yang kutonton. Alhamdulillah masih ditambah sedikit lagi judul-judul film yang tayang di TV. Kebanyakan film yang kutonton adalah film-film dari Tom Cruise, Ricard Gere dan Kevin Cotsner.. 3 aktor favorit dah itu..Hihi…

Dari sedikit judul film yang pernah kutonton, salah satu yang terfavorit bagiku adalah Dances with Wolvessebuah film yang disutradarai dan dibintangi oleh Kevin Cotsner dan rilis tahun 1990.

Poster Film Dances with Wolves

Jaduuul….

Iya, betuul… Ini memang film jadul. Mungkin ada di antara teman-teman yang bahkan belum lahir saat penayangan film ini ya, sedangkan aku nonton film ini jaman kuliah… *gak perlu lihat KTP, sudah ketahuan umurku ya? 😀

OK, abaikan fakta tentang umur..dan kembali ke film keren ini.

Film ini dibuat berdasarkan buku berjudul sama yang ditulis oleh  Michael Blake di tahun 1988, menceritakan tentang kisah seorang prajurit Amerika Utara di Perang Saudara (Letnan John Dunbar ).

Dibuka dengan kondisi Lt John Dunbar yang terluka parah hingga kakinya akan diamputasi, yang mendorongnya melakukan upaya ‘bunuh diri’ dengan nekad menaiki kuda menyerbu sendirian ke medan pertempuran, namun justru tindakannya itu menyebabkan kemenangan di pihak pasukannya. Akibat peristiwa itu Dunbar dianggap sebagai pahlawan dan dikabulkan keinginannya untuk ditugaskan ke tempat yang diinginkannya : perbatasan terpencil.

Fort Sedwick, itulah  nama pos perbatasan paling barat yang menjadi tujuannya. Ternyata pos perbatasan itu telah ditinggalkan dan terbengkelai. Dia kemudian menjalani hari-harinya sendirian di sana, melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan, melakukan tugas pemantauan keliling dengan kuda kesayangannya dan belajar berinteraksi dengan alam sekitarnya -yang digambarkan dengan indahnya- termasuk menjalin ‘persahabatan’ dengan Two Socks , nama yang diberikannya untuk seekor serigala liar yang sering mengunjungi pos-nya.

Two Socks Si Serigala Liar

Sendiri melewati hari-hari nan sepi

Peristiwa kedatangan seorang Indian dan kemudian perjumpaannya dengan seorang wanita kulit putih yang ternyata merupakan bagian dari keluarga besar Indian Sioux merupakan awal dari interaksi Dunbar dengan Suku Indian Sioux yang menguasai wilayah itu.

Tetangga baru yg akhirnya menjadi Keluarga

Komunikasi yang akhirnya terjalin antara mereka tentunya tidaklah mudah, namun proses interaksi itu sungguh kunikmati. Ternyata tak semua Indian kejam dan tak punya hati. Film ini menceritakan sisi lain kehidupan suku Indian dari kacamata orang kulit putih yang kemudian memilih untuk hidup bersama mereka.

Menulis buku harian adalah rutinitas Dunbar

Pemandangan alamnya yang disuguhkan dengan indah merupakan daya tarik utama bagiku untuk menyukai film ini. Selanjutnya, proses interaksi dua budaya yang sangat berbeda ini pun ditampilkan dengan apik dan memikatku. Oya, ini bukan film action ya.. Jadi jangan harapkan ada adegan-adegan peperangan yang seru. Ini film yang tenang -cenderung lambat bagi beberapa orang- dengan detil penemuan jati diri seseorang serta penggambaran lain tentang Suku Indian, berbeda dengan yang sebelumnya ditampilkan yaitu sebagai sosok-sosok yang kejam dan haus darah.

Sayangnya, ini bukan film yang happy ending. Meskipun Dunbar menemukan cintanya serta persahabatan yang tulus dengan Burung Menyepak -Si Dukun Sioux- dan telah dianggap keluarga -dengan pemberian nama khusus yaitu Dances with Wolves– namun ia akhirnya dihadapkan pada pilihan yang menyedihkan.

Kedengkian seorang prajurit lainnya menyebabkan kesalah-pahaman dan Dunbar dianggap berkhianat terhadap kesatuannya. Ia menjadi buruan, dan pilihannya adalah tetap tinggal bersama sahabat-sahabat Indiannya namun membahayakan kehidupan mereka, atau pergi meninggalkan kehangatan keluarga barunya, demi keselamatan mereka semuanya.

Ketulusan hati adalah bahasa yang universal. Itu adalah salah satu pelajaran yang kupetik dari film ini. Perbedaan bahasa tentu saja menjadi kendala sangat besar dalam berkomunikasi, namun ketulusan hati tetap terbaca melalui bahasa tubuh dan akan menjadi jembatan yang memudahkan terjalinnya komunikasi.

Demikian juga aku belajar tentang keikhlasan, rasa terima kasih dan rela berkorban, sebagai dasar dari suatu persahabatan yang tulus. Persahabatan yang tak mengenal perbedaan suku, budaya, dan warna kulit. Perbedaan lintas budaya yang menyentuh dan mengharukan.

Nah, itulah sekilas cerita tentang film favoritku Dances with Wolves. Bagi yang juga menyukai film ini, mari kita bernostalgia bersama… Bagi yang penasaran seperti apa filmnya, gugling saja, banyak sinopsis tentang film peraih 7 piala Oscar ini. Mengunduh filmnya juga masih bisa kok, seperti yang kulakukan sebelum menulis ini, hehe… Ada komen tentang film ini? Yuuk, bagi di kolom komen yaa…

Iklan

Penulis: Mechta Deera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

27 thoughts on “Dances with Wolves, film favoritku.

  1. Belum pernah nonton film ini.. Tapi kevint costner adalah salah satu aktor favorit saya… Salah satu film ny membuat saya terkesan dan berhasil mengeluarkan air mata… Hiksss

  2. Inget nonton ini jaman masih kecil dan kembali nonton lagi pas kuliah kebudayaan Amerika membahas suku Indian. Love this movie one of the best nya Kevin Costner menurut ku

  3. jadi kepengen nnton ulang mbak…
    aku terpesona juga dengan pengambilan gambarnya … selalu suka dengan pemandangan padang rumput…
    ingat adegan dia ditertawakan orang Indian karena main2 sama serigala

    • Iya mba… Mata tak mau lepas dari layar saat pemandangan alamnya dipaparkan.. Cakeeep…dan bikin pengen ke sana.. Adegan terakhir saat Si Angin Menerpa meneriakkan salam perpisahan sambil diantar oleh orang2 sesuku.. bikin haruuu…hiks..

  4. Sabtu minggu ini tetap ngantor mbak…
    eh baca tulisan ini, langsung buka youtube dan cari-cari filmnya

  5. Film zaman kami Diajeng….melekat di hati loh acting abang Kevin di DwW ini. Alam dan persahabatan serta tak mudah berprasangka buruk dipaparkan natural. Salam hangat

  6. Ahh aku juga bingung nulis apa ni tema ini, film kesukaanku banyak hihi

  7. Aw aw aw… Ketulusan hati yaaaa. It is so touching

  8. Aku pun suka film ini mbak mechta😊

  9. Pantes aja aku ngga tau mbaa, masih 4 tahun akuu pas pelem ini ada. Aku tuh angkatannya macgyver, knight rider, dll 😁😁

  10. Aku belum pernah nonton film ini mb, hehe. Ndak tll suka juga film perang perangan. Padahal yo menyimpan banyak hikmah ya..

  11. film favoritku harpot heheh

  12. Film yg keren da menghibur . .

  13. Belum pernah nonton. Rasanya klo nonton di tahun 2000-an masih ok klo sekarang zamannya CGI jadi agak susah nontonnya ntar terasa aneh.

  14. Ah, baru baca tulisan mbak Tanti aja udah tetarik pengen nonton nih, apalagi bintangnya Kevin Costner

  15. belum nonton 🙂 beda selera kayaknya hehe

  16. belum nonton sih… bisa buat rekomend ini

  17. Memang film ini bagus. Tp buat yg ga suka alur lambat pasti lsg minggat. Aku malah penasaran makanya sampe selesai jg. Aktingnya keren, sutradaranya jg ciamik bgt. Tapi dl nonton ditivi tengah malem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s