Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati

Tentang Penulis Kesayanganku

12 Komentar

Hai… Selamat jumpa lagi, teman…

Alhamdulillah, setelah jeda beberapa lama karena sedang sok sibuk di dunia off line, akhirnya berhasil juga kumenulis lagi di sini, menyapa teman dan sahabat melalui rumah maya nan sederhana ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan diri mampir dan meninggalkan komentar di tulisan sebelumnya, insya Allah setelah kelar PR ini akan segera berkunjung balik.

Oya, tema arisan blog Gandjel Rel ke-10 adalah mengenai penulis favorit. Ini adalah tema yang diajukan oleh dua blogger keren anggota Gandjel Rel yang sedang narik arisan, yaitu mbak Dani dan mbak Irfa.

Hm, mau tahu siapa penulis kesayanganku?

Penulis favoritku adalah……buanyaaaak… Hehehe…

Iya, pada dasarnya aku adalah seorang ‘pembaca segala’, artinya aku suka membaca apa saja, hampir semua jenis bacaan, entah itu novel, komik, majalah, koran, buku non fiksi…sampai ke status-status teman di media sosial! Hihihi…

Jadi, wajar saja ya bila aku punya banyak penulis favorit, dari berbagai genre buku yang kulahap habis isinya itu. Dan wajar saja bila kini kubingung harus memilih salah satunya untuk kutuliskan! 😀

Pada awalnya aku ingin menulis tentang Enid Mary Blyton -atau yang lebih terkenal sebagai Enid Blyton– seorang penulis buku cerita anak yang berkebangsaan Inggris yang juga mempunyai nama pena lain yaitu Mary Pollock. Dialah penulis dari buku serial petualangan Lima Sekawan. 

Itulah buku pertama yang membuatku jatuh cinta pada kegiatan membaca dan menjadikanku penasaran untuk selalu mencari dan membaca buku-buku tulisannya lainnya, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, maupun buku-buku sejenis yang sangat mewarnai dunia kanak-kanakku kala itu.

Kepiawaiannya merangkai kata-kata dalam setiap buku-bukunya selalu mampu mengajak imajiku bertualang langsung ke dalam setiap alur cerita yang ditulisnya. Merasakan keseruan piknik asyik yang berujung kejadian-kejadian mendebarkan, ikut memutar otak memecahkan setiap permasalahan yang menimpa Harry, Joe, dan saudara-saudarannya, bahkan penasaran dengan kesejukan limun jahe dingin di tengah piknik musim panas! Aaah…

Tapi kemudian aku tergoda pula untuk menulis tentang seorang penulis wanita lainnya yaitu Dame Agatha Mary Clarissa Christie -yang lebih populer dengan nama Agatha Christie– yang merupakan penulis cerita-cerita fiksi kriminal maupun kisah-kisah roman ( dengan nama pena Mary Westmacott ).

Kisah kepandaian sang detektif Hercule Poirot ataupun tokoh detektif wanita Miss Marple dalam memecahkan misteri-misteri pembunuhan selalu mampu menawan hatiku untuk membaca setiap buku-buku tulisannya, bahkan membacanya berulang-ulang pun selalu terasa menyenangkan bagiku. Kadang-kadang saking gak tahan penasaran, aku berbuat curang dengan mencuri baca akhir cerita sebelum waktunya, tapi tetap saja terkagum-kagum dengan ‘tikungan-tikungan’ alur cerita yang membuat terkuaknya misteri di akhir cerita tetap saja menjadi surprise.

Selain dua nama itu, berkelebatan pula nama-nama penulis lain di benakku : La Rose, Maria A Sardjono, NH Dini, Hilman Hariwijaya, Tere Liye, dll… Duuh, jadi pusiiing… Lalu, tiba-tiba ada nama lain yang muncul di benakku, seseorang yang telah menulis sebuah ‘buku’ yang sangat berarti bagiku. Seorang penulis yang tak akan dapat kubaca ulasan tentangnya di media manapun, padahal aku sangat ingin mengenal langsung beliau ini, Sang Penulis Spesial bagiku.

Kasijo Prijosoedarmo, itu lah nama penulis kesayanganku itu. Aku yakin, itu nama yang sangat asing bagi teman-teman semua, demikian pula pasti teman-teman belum pernah membaca satu-satunya buku tulisan beliau yang pernah kubaca, yaitu Lajang Babad Lelakone Kasijo.

Sampul Bukunipun Mbah Kakung

Sampul buku ‘Lajang Babad Lelakone Kasijo’

Sebuah buku yang baru kutemukan dan kubaca 3 tahun lalu, sebuah buku yang membuatku menangis membayangkan beratnya perjalan hidup yang telah beliau jalani, kisah hidup yang kemudian beliau tuliskan untuk menjadi warisan / kenang-kenangan / pelajaran bagi kami, anak-cucu beliau.

Ya, penulis kesayanganku yang belum sempat kumengenalnya itu adalah alm Kakekku, ayah dari ibuku. Seorang guru desa yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang telah menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah buku tulis, menggunakan bahasa Jawa  dan tertulis dengan huruf-huruf Jawa ( hanacaraka ). Sebuah kisah hidup yang penuh perjuangan, berjuang demi bisa meneruskan hidupnya dan bisa mengenyam pendidikan, berjuang  karena tak mau kalah dengan kemiskinan yang akrab dengan kesehariannya.

Kasijo yang lahir pada Bulan Mei 1909 merupakan anak ke-2 dari 5 bersaudara putera Bp Djaja Setika & Ibu Mukinem,  adalah anak Kampung Krajan, Salatiga, Karesidenan Semarang. Berasal dari keluarga miskin namun tetap bersemangat menuntut ilmu, Kasijo kecil harus berjuang keras agar dapat hidup dan terus sekolah, bahkan telah menjadi buruh kecil sampai dengan usianya yang ke-14 th. Keinginannya untuk mewariskan semangat dan eplajaran hidup kepada anak-cucunya, membuatnya menuliskan perjalanan hidup yang telah dilaluinya itu, meskipun dalam wujud yang buku yang sangat sederhana.

Alm Kakek telah menuliskan sebuah buku yang membuka mataku betapa aku harus bersyukur sebesar-besar rasa syukur atas segala kemudahan dan kelancaran yang kuterima saat ini, terutama dalam mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi yang kumampu.  Sesuatu yang awalnya kurasakan sepele atau suatu yang sudah selayaknya kudapatkan, namun baru kemudian kusadari bahwa keberuntunganku adalah jauuuuh lebih besar dari sekedar itu. Kemerdekaan adalah salah satu pembuka jalan bagi kemudahan-kemudahan yang kujalani saat ini, hal yang terasa begitu sulit untuk diperoleh alm Kakek, di masa mudanya.

Petikan tulisan tangan mbah Kasijo

petikan tulisan asli dalam huruf dan bahasa Jawa

Alm Kakek telah merangkai kata demi kata dalam sebuah buku yang makin menyadarkanku betapa besar arti pentingnya keluarga bagi kami. Keluarga yang saling mendukung, keluarga yang saling membantu. Beliau menuliskan silsilah keluarga agar anak-cucu beliau mengetahui akar kuat yang membentu pohon besar keluarga kami saat ini. Keluarga yang sangat kusyukuri keberadaannya.

Bukueyang2

Tulisan tangan Kakekku, (alm) Kasijo Prijosoedarmo

Alm Kakek telah mewariskan pada kami sebuah buku yang membuatku yakin, bahwa hobby warisan dari beliau yang kugeluti saat ini -membaca dan menulis-bisa memberikan manfaat, tidak hanya di saat ini, namun juga kelak di masa depan. Alm Kakek adalah penulis pertama di keluarga kami, dan insya Allah aku ingin menjadi penerusnya. Aku ingin suatu saat, dapat mewariskan pemikiran-pemikiran melalui buku-buku juga yang akan dibaca -dan semoga menginspirasi- generasi berikut di keluarga kami. Aamiin…

Nah, itu ceritaku tentang alm Kakekku, penulis kesayanganku, yang telah memberikan banyak inspirasi sekaligus pelajaran hidup yang penting bagiku, melalui satu-satunya buku warisannya buat kami yang telah kubaca. Sebuah buku yang -sayangnya- belum tuntas ditulisnya sebelum beliau sakit keras dan kemudian wafat. Penulis yang sangat ingin kukenal secara langsung untuk dapat kupetik lebih banyak hal penting darinya, namun rupanya kuharus menerima jika hanya bisa ‘mengenalnya’ lebih jauh lewat penuturan ibuku, putri sulung beliau. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi alm Kakek di sisi-NYA, damai di Surga-NYA hingga kami berjumpa langsung kelak. Aamiin…

Iklan

Penulis: Mechta Deera

ASN yang bekerja dan berdomisili di Kota Pekalongan, blogger ( https://mechtadeera.wordpress.com dan http://mechta.blogdetik.com ) dan penulis buku : Notes from Mecca (memoar); Janji Pagi (kumpulan puisi); Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah (kumpulan cerpen).

12 thoughts on “Tentang Penulis Kesayanganku

  1. Sangat indah ya, jika dalam keluarga kita terdapat tradisi menulis yg di wariskan ke anak cucu.. Apalagi karya mereka dapat kita baca saat ini..

  2. Wow, masih pake aksara honocoroko! Luar biasa! Al fatihah utk almarhum…

  3. Masa kecil saya banyak ditemani dengan karya Enid Blyton. Suka banget dnegan karyanya 🙂

  4. kereen banget,,,ayo dibukukan

  5. Punya history yg tinggi tulisanny. Jadi kisah tersendiri buat sang penulis

    Kunbal y

  6. Wah hebat kakeknya mba Mechta ga heran deh kalo cucunya juga sekarang terjun ke dunia penulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s