Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


21 Komentar

Biar lambat asal selamat

Teeeeeet….. Suara bel berbunyi nyaring, menandakan akhir waktu belajar hari ini.

“OK anak-anak…. Ibu tunggu sampai hari Senin ya,” kata Bu Yuni segera sesudah suara bel itu berhenti. Beliau baru saja menjelaskan garis besar dari tugas yang diberikan pada kami.

Kelas pun gaduh, anak-anak bersicepat memasukkan buku-buku pelajaran hari itu dan bergegas meninggalkan kelas.

“Sudah ada bayangan tema laporanmu, Hen?” Ardi bertanya sambil menjajari langkahku.

Aku menggeleng, “Belum sama sekali. Mudah-mudahan nanti malam bisa surfing cari bahan.”

“Kalau aku sih sudah ada sedikit gambaran, tinggal melengkapi sana-sini..”

“Syukurlah… “

*** Baca lebih lanjut

Iklan


12 Komentar

KEBAT KLIWAT

kebat-kliwat

Teeeet… Swara bel keprungu banter, nandhaake akhir jam sekolah dina iki.

“Cah-cah, aja lali tugase ya… Tak enteni nganti dina Kemis,” ngendikane Bu Yuni sakwise swara bel kuwi mandeg.  Sakdurunge bel muni mau, Bu Yuni nembe wae nerangake tugas kanggo kelasku ing minggu iki.

Kelas malih rame. Bocah-bocah mburu-cepet nglebokake buku lan perabotan sekolah liyane, banjur enggal-enggak regudugan metu kelas.

“Wis ana gambaran laporan sing arep mbok garap, Hen?” pitakone Ardi sing mlaku alon-alon bareng aku.

Aku gedheg, “Blas, durung ana gambaran ki… Muga-muga mengko bengi bisa mulai surfing golek bahan.”

“Nek aku sih wis nduwe gambaran sithik, kari nambahi kana-kene..”

“Syukurlah… “

*** Baca lebih lanjut


20 Komentar

Maafkan aku, Mama…

Brak!!

Suara daun pintu terbanting yang terdengar hingga ke teras rumah, membuat Bu Winda mengerutkan kening, lalu menghela nafas panjang.

Ngambeg lagi ya, Bu ?” Tanya Bi Inah ketika membukakan pintu.

Bu Winda mengangguk sambil masuk rumah. Diletakkannya tas tangan di kursi tamu, lalu diliriknya sekilas kamar Dani –anak bungsunya- yang tertutup rapat.

Baca lebih lanjut


4 Komentar

Antara Dea, Dodi dan sebuah nama

Beberapa waktu lalu, membuka-buka arsip lama & menemukan cerita berseri ini :

#1. Suatu sore di sebuah cafe

#2. Sore itu menjadi tak terduga

#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu…

#4. Back to the cafe, breaking the code

#5. Akhir sebuah kasus

Satu kasus memang sudah selesai, namun masih ada ‘kasus’ lain yang belum tuntas, bukan? Inginnya, kisah berikut ini menjadi pembuka kisah-kisah selanjutnya… 🙂

****

Dea masih asyik dengan bacaannya di cafe langganannya sore itu, ketika tiba-tiba nada detik terakhir-nya Lyla terdengar.  Sekilas diliriknya layar HP dan ketika melihat identitas penelpon yang sama yang telah berkali-kali menelponnya seharian itu, ia pun kembali asyik dengan bacaannya.

Dia masih saja asyik begitu ketika beberapa waktu kemudian suara detak sepatu di lantai keramik terdengar teratur menuju ke arahnya, dan sejurus kemudian sebuah tepukan lembut singgah di bahunya.

“Hai, Re… Kamu terlambat seperti biasanya,” sapanya pada karibnya yang memasang senyum tak bersalah di sebelahnya itu.

“Maaf, De… Pak Bos rewel betul hari ini, jadi tak bisa langsung kutinggalkan kantor begitu saja..” sahut Rere sambil menarik dan menduduki salah satu kursi di meja itu.

“Oya, Dodi berkali-kali menelponku… Masih belum mau menerima telpon darinya ya?” tanya Rere langsung dengan nada menyelidik.

Dea menghela nafas panjang, menutup novel yang dibacanya, lalu menyipitkan mata ke arah sahabatnya itu. Baca lebih lanjut


10 Komentar

Mitos

Aku termangu…sebal!

“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…

Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu… Baca lebih lanjut


24 Komentar

[Prompt #62] Sesaat bersama lagi

sumber

“Senangnya, bisa ke sini lagi…”

“Iya, Nda… Syukurlah, akhirnya Mama mengizinkan kita merayakan ultah di sini lagi..”

Memang, menyenangkan sekali bisa kembali bersama menikmati indahnya sore di villa, apalagi di hari istimewa kami ini. Rasanya sudah lamaaa sekali kami tak duduk bertiga begini.

“Eh, Kak Win… Lihat itu mawar kesukaan Kak Ndy sedang bermekaran…” seru Winda tiba-tiba.

Rumpun mawar itu berseri seolah menyambut kebersamaan kami kembali…

“Ya, cantik dan lembut seperti Windy kita..” sahut Kak Wina lalu tersenyum sendu.

Ah, Kak Wina menyanjungku. Sebenarnya dialah yang paling lembut diantara kita bertiga. Winda manja sedangkan aku sedikit tomboy.

“Winaaa… Windaaa… Ayo pulang, hampir maghriiib..” teriakan Mama dari teras mengusik kebersamaan kami.

“Yaah…, Mama benar-benar belum mau menginap di sini lagi..” keluh Winda.

“Masih butuh waktu bagi beliau untuk kembali ke sini tanpa Windy..” jawab Kak Wina perlahan.

Mereka pun segera beranjak menuju teras…

Meninggalkanku kembali sendiri, di kesunyian villa ini.

***

150 kata untuk MFF Prompt #62 : Hey Girls!