Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


22 Komentar

3 Tips menabung untuk ONH

Mampu memenuhi panggilan-NYA untuk menjadi tamu Allah atau menyempurnakan rukun islam dengan melaksanakan ibadah haji mungkin merupakan impian setiap muslim / muslimat.

Namun sayangnya, biaya untuk pelaksanaannya atau yang seringkali kita sebut ONH -Ongkos Naik Haji- masih relatif mahal bagi sebagian (besar) dari kita.

Bersyukurlah bagi muslim / muslimat yang berkecukupan rizqinya sehingga tak kesulitan untuk memenuhi ONH yang ditetapkan pemerintah setuap tahunnya. Namun tidak semua orang seberuntung itu, masih banyak umat Islam yang sangat terkendala oleh tingginya biaya ONH itu.

Tapi apakah lalu berhaji menjadi hal yang mustahil bagi yang kurang mampu?

Menurut saya, tidak. Ya, rezeki memang sudah diatur oleh Yang Kuasa, namun kita juga wajib berusaha. Dan menabung, adalah salah satu usaha yang dapat kita lakukan. Berikut ini adalah pengalaman saya menabung untuk ONH.

Sebagai seorang pegawai negeri tingkat menengah yang tidak mempunyai penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup saya, memang saya sempat merasa pesimis bisa menyisihkan sebagian penghasilan tersebut untuk ditabung.  Belum lagi, pengalaman beberapa rekan yang lebih senior, yang menyatakan bahwa sudah cukup lama menabung untuk ONH namun jumlah tabungannya tak banyak bertambah bahkan lebih sering berkurang. Lhah..kok bisaa?? Baca lebih lanjut

Iklan


14 Komentar

Menguak Dahsyatnya Ibadah Haji bersama Pakdhe Cholik

DIH

Judul Buku :

Dahsyatnya Ibadah Haji

(Catatan perjalanan ibadah di Makkah dan Madinah)

Penulis : Abdul Cholik

Jenis Buku : Motivasi Islami

Jumlah Halaman : ix + 233 halaman

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-02-4810-3

Cetakan Pertama : 2014

Harga : Rp. 47.800,-

*** Baca lebih lanjut


26 Komentar

Notes from Mecca

Alhamdulillah… akhirnya terwujud juga sebuah buku bertuliskan namaku, sebagaimana yang kutuliskan sebagai Proyek Monumental 2014 yang digagas Pakde kala itu…

Sebuah buku memoar pengalamanku sejak mempersiapkan, menjalani hingga usai terwujudnya sebuah mimpi yaitu menjadi tamu Allah di tahun 2011 yang lalu.

Untuk apa aku menuliskannya?

Hm, latar-belakangnya bisa jadi cukup panjang, intinya -sejujurnya- aku sempat merasa gamang ketika harus menjalani perjalanan haji ini sendiri. Aku yang tak terbiasa jauh dari dukungan keluarga besar, sempat merasa ragu akan kesanggupanku menjalani semuanya sendiri.  Belum lagi kekuranganku yang tak bisa berada ditengah keramaian atau berdesakan yang seringkali menyebabkan sesak nafas, pusing & mual hingga hampir pingsan.  Padahal keramaian seperti itu suatu hal yang selalu kulihat di TV / kudengar dari cerita teman/kerabat yang sudah menunaikan rukun islam ke-5 ini.  Bagaimana bila kondisiku itu membuatku tak mampu menjalani wajib & sunnah yang harus kujalani?

Kegamangan dan keraguan itu mendorongku untuk lebih fokus pada persiapan mentalku, melalui banyak membaca & mencari informasi tentang perjalanan suci ini.  Alhamdulillah, aku mendapat banyak kemudahan untuk hal itu, bahkan – entah kebetulan atau memang sudah digariskan-NYA- seorang teman kakak sempat meminjamiku sebuah catatan perjalanan haji dari kakaknya, yang diketik manual dan dijilid rapi. Sebuah catatan sederhana yang sangat membantuku karena ternyata penulis catatan itu juga mempunyai masalah yang sama denganku, dan dari catatan itu aku mendapat tips penting untuk mengatasi permasalahan itu dan secara umum untuk menjalankan ibadah haji dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah, kuharap dengan menuliskan pengalamanku sendiri, aku dapat memberikan manfaat bagi orang lain sebagaimana aku telah mengambil manfaat dari sebuah catatan orang lain.

Terima kasih yang tulus kusampaikan untuk para endorser :  Mbak Dee -seorang manajer sekaligus blogger & salah satu penulis buku Rumah Kayu– yang sejak awal telah menyemangatiku untuk menuliskan pengalaman ini, Pakde Cholik  -blogger penulis Buku Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti– yang selalu setia ‘ngompori’ dan menginspirasi kita dengan semangat beliau, Mas A. Muhaimin Azzet – blogger, editor dan juga penulis karya-karya inspiratif  serta Pak Eko Kusuma (penulis buku Haji Ngeteng), tak ketinggalan terima kasih kepada Mas Rudi dari Penerbit Sixmidad untuk ide judul & kerjasamanya. Selain itu, terima kasihku juga untuk keluarga dan teman-teman lainnya yang telah menyemangati selama ini…. Terima kasiiih 🙂

Semoga buku pertama ini akan menjadi ‘pembuka jalan’ bagi lahirnya buku-bukuku berikutnya. Aamiin.  Nah, ini dia penampilan buku NFM :

NFM2

Judul : Notes from Mecca

Penulis : Mechta Deera.

Penyunting : Rudi  G. Aswan

Desain isi & sampul : SixmidArt

Penerbit : Sixmidad – Bogor

ISBN : 978-602-14595-2-2

Halaman : xii + 100

Harganya? Rp. 40.000,- saja… Murmer, kan? Nah, bagi teman-teman yang berminat memesan, bisa inbox FB  atau via email : auntiemechta@gmail.com  Silakaaan… 🙂


7 Komentar

Oleh-oleh haji

Musim haji usai sudah, para jamaah sudah kembali ke rumah masing-masing, disambut haru dan bahagia keluarga dan kerabat, dan tentunya membawa 1001 kenangan selama menjadi tamu Allah…

Di daerah kami, sebelum calon haji berangkat biasanya akan kedatangan tamu baik itu keluarga, sahabat, kerabat, kenalan maupun tetangga.  Semua mendoakan keselamatan, kesehatan, kelancaran & kemudahan menjalankan ibadah haji dan tentunya doa semoga menjadi haji / hajjah mabrur.  Para tamu itupun tak hanya datang melenggang tangan saja, namun biasanya membawa sesuatu entah itu barang ataupun makanan, bisa digunakan sebagai bekal maupun sebagai upaya membantu tuan rumah dalam menyambut tetamu itu.  Tahukah teman, ada yang menyebut kebiasaan itu sebagai ‘ mancal kaji ‘ maksudnya mengantar haji lho… bukan mancal dalam arti menendang.. 😉

Nah, setelah pulang haji, para tamu juga tak kalah banyaknya… Kalau sebelumnya mereka yang mendoakan si calon haji, maka pada kesempatan ini gantian mereka yang nyadhong donga atau mengharap doa dari Sang Haji… Seusai pembacaan doa biasanya dilanjutkan dengan bersama-sama minum air zam-zam yang sudah disediakan dan tentu saja nanggap cerita pengalaman selama beribadah di tanah suci itu.  Kalau sebelum keberangkatan haji yang dihidangkan adalah aneka cemilan yang biasa kita temui di waktu-waktu lain juga, maka setelah kepulangan haji piring-piring / toples-toples yang ada didominasi oleh kurma, kacang arab, kismis, dll 🙂

Dan sebagai ungkapan terima kasih dari tuan rumah, biasanya untuk tamu-tamu dibagikan pula oleh-oleh haji untuk dibawa pulang ke rumah.  Jenis & jumlahnya tentu beragam sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan itupun bukan sebuah kewajiban bukan?

oleh2haji

Oya, yang bener tuh ‘oleh-oleh’ atau ‘kenang-kenangan’ haji ya… karena masih ada yg berpendapat bahwa yang namanya oleh-oleh itu kan harusnya dibawa dari tempat yg didatangi, sementara oleh-oleh haji itu biasanya memang sudah dipersiapkan sebelumnya di tanah air.  Tapi, apa salahnya kalau memang begitu? Tak mungkin membawa semua  langsung dari mekah / medinah, bukan? Lagi pula, membeli di sini berarti membantu perekonomian bangsa sendiri..hehe…

Apapun namanya, lihat saja dari keikhlasan pemberiannya : tanda terima kasih & kenang-kenangan untuk handai tolan, begitu bukan ?

Selamat datang kembali, para jamaah haji… Semoga menjadi haji mabrur… Aamiin…