Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


12 Komentar

Kisah Uang Nyasar

Lepas maghrib itu, Pak Harun melipat sajadah yang baru saja dipakainya, sambil mengamati Andi -putra bungsunya- yang kali itu terlihat khusu’ berdoa sedangkan biasanya paling cepat ngabur segera setelah mereka selesai berjamaah sholat maghrib.

“Hm, doa apa saja, Dek?” tanyanya kemudian kepada Andi, setelah anak itu menyelesaikan doanya.

“Aku minta pada Allah, agar rejeki Ayah banyaaaak…”

“Aamiin… Untuk apa, Nak?” tanya Bu Harun yang ikutan penasaran dengan doa panjang bungsunya itu.

“Yaa… agar aku segera dapat sepeda baru yang kuinginkan, Bunda..” jawab Andi polos.

Maka tawa Pak Harun, Bu Harun dan Tuti -kakak Andi- pun berderai,  “Aamiin….” sahut mereka kompak.

“Ohya Ayah, siang tadi ada tamu yang mencari Ayah. Kelihatannya penting sekali,” kata Bu Harun.

“Hm… siapa, Bu? Kenalan kita?”

“Tampaknya wajah baru, Yah… Katanya, malam ini dia akan datang kembali.”

“Oh baiklah, kita tunggu saja nanti.”

*** Baca lebih lanjut


19 Komentar

Jasmerah di Monjali

“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah “ 

Itu kalimat yang sangat terkenal, diucapkan oleh Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.  Kalimat yang sering disingkat sebagai Jasmerah itu kembali menggaung di telinga kami ketika kami mengunjungi Monjali ( Monumen Jogja Kembali ) pada Jum’at 28 Pebruari 2014 yang lalu.

Adalah Pak Gunadi, pemandu berusia 76 tahun yang kembali mengucapkan kata-kata bersejarah yang merupakan pesan dari salah satu founding father bangsa ini. Pemandu sepuh  itu dengan penuh semangat menguraikan arti di balik pesan Presiden RI pertama itu, dan menceritakan kembali sejarah perjuangan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan didirikannya MONJALI yaitu sejarah agresi militer Belanda di Jogjakarta pada tahun 1948-1949 itu, berhasil menggelorakan kembali rasa cinta tanah air di hati kami, yang (terus terang) seringkali lupa akan sebagian sejarah bangsa ini. Baca lebih lanjut


20 Komentar

Jarak antara menanam dan memanen..

” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen,inallah maa shabirin..”

***

Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ :  semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.

Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yg seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan …  Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yg dikeluarkan dan besarnya hasil yg didapatkan…tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.

Ada jarak antara menanam dan memanen.  Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar, dan harus dilakukan dengan benar.  Bila cara menanam salah..belum tentu kau akan panen sesuai harapan…  Nikmati prosesnya.. cermati tahapan-tahapannya, mungkin dengan demikian kau bahkan akan melihat satu dua hal yang dapat diperbaiki sehingga akan meningkatkan kualitas hasil akhirnya…

Ah, itu hanya sebuah status pendek memang, namun bagiku bisa membawa ke pemikiran yang panjang… Bagaimana pendapatmu, teman?


8 Komentar

Antara harapan & risiko

Kutipan hari ini :
  1. Harapan tidak punya batas kadaluwarsa ;
  2. Dalam hidup, ada kalanya seseorang harus berani mengambil risiko yang mungkin akan berujung pada kegagalan.  Karena jika tidak, dia akan selalu dihantui oleh apa yang tidak dilakukannya,  jalan yang tidak diambilnya, ataupun hal-hal yang tidak pernah  dialaminya .
Keduanya ku kutip dari novel Rainshadow Road karya Lisa Kleypas, yang menemaniku  di weekend  kali ini…
Harapan menjaga kita tetap optimis, sedangkan risiko menjadikan kita tetap waspada, itu menurutku… bagaimana menurutmu, teman?
Apapun pendapatmu, selamat menikmati weekend, teman… 🙂


13 Komentar

Paling tidak….

Kutipan hari ini :
….
Seorang muslim, paling tidak, bila tidak dapat memberi manfaat kepada orang lain maka jangan sampai dia mencelakakannya;
Kalau dia tidak dapat memasukkan rasa gembira ke dalam hatinya maka paling tidak jangan meresahkannya;
Kalau dia tidak dapat memujinya maka paling tidak jangan mencelanya.
….
“Membumikan Al-Qur’an Jilid 2”  ( M. Quraish Shihab )
quraish


7 Komentar

Hal-hal yang dianjurkan pada hari Jum’at

1.  Memperbanyak membaca shalawat dan salam kepada Nabi

Diriwayatkan dari Aus bin Aus r.a, Rasulullah SAW bersabda  : “ Sesungguhnya di antara hari yang paling baik adalah hari Jum’at, pada hari itu Nabi Adam diciptakan dan pada hari itu juga diwafatkan, pada hari itu pula sangkakala ditiup dan manusia dimatikan.  Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat atasku pada hari itu karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku. “ Para sahabat bertanya, ”Bagaimana shalawat kami sampai kepadamu sedangkan Anda telah hancur,” lalu Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi.”

2. Membaca Surah al-Kahfi

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, bahwasanya Nabi SAW bersabda : Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya Allah akan meneranginya dengan cahaya di antara dua Jum’at.”

3. Memperbanyak doa dan mencari saat-saat dikabulkannya doa

Diriwayatkan dari Jabir r.a, ia berkata, “Nabi SAW bersabda : “Hari Jum’at itu dua belas jam, tidak ada seorang hamba pun yang saat itu memohon kepada Allah kecuali Dia akan mengabulkannya, maka carilah ia (waktu mustajab) di akhir waktu tersebut, yaitu setelah sholat Ashar.”

Diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman r.a bahwasanya sekelompok orang dari kalangan sahabat berkumpul.  Mereka lalu saling membicarakan satu waktu pada hari Jum’at.  Kemudian mereka berpisah dan pendapat mereka tidak berbeda bahwa waktu tersebut adalah waktu akhir pada hari Jum’at.

Maka seyogyanya bagi setiap orang yang menghargai waktu tersebut untuk memberikan hari itu dengan hak yang sesuai baginya, berupa dzikir dan doa.

***

Dikutip dari buku  ” Ensiklopedi Fiqih Wanita – Jilid 1 ” – Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim – Pustaka Ibnu Katsir – 2011