Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


27 Komentar

Cerita di balik Blog a la Mechta

“Waah…dapat hadiah lagi ya, mbak?”

“Iya nih, alhamdulillah… Rezeki ngeblog, hehe… ”

“Seneng ya mbak…, bisa dapat  hadiah macam-macam modalnya cuma nulis saja..”

“Hm…iya… Alhamdulillaaaah banget…”

***

Itu sekelumit percakapan yang beberapa waktu lalu kualami, dan sudah beberapa kali pula terjadi.

Ada beragam perasaan muncul di hati saat percakapan semacam itu terjadi.

Yang pertama, tentu ada rasa senang…bangga…lalu ada juga rasa jengkel.

Jengkel??

Iya benar… rasa yang satu itu muncul ketika mendengar kalimat yang kugaris bawahi itu.  CUMA NULIS SAJA”.

Nulis itu…tak sekedar CUMA, Oy…!!

Pengen rasanya aku teriak begitu bila ada yang menggambarkan ketrampilan menulis dengan kata CUMA atau HANYA ataupun SEKEDAR.

Ya -buatku- menulis itu tidak mudah. Sebuah proses yang tak sekedar merangkai huruf menjadi kata dilanjutkan merangkai kata menjadi kalimat bermakna. Jauh lebih dari itu. Buatku, menulis itu menceritakan apa yang kurasa, mengemukakan pendapatku, mengisahkan kembali apa yang kulihat, kudengar ataupun kualami.  Memberitakan suatu hal, menuturkan langkah-langkah yang ingin kujabarkan…dll, dsb, dst…. Intinya, menurutku menulis itu bukan suatu pekerjaan yang pantas diargai hanya dengan CUMA / HANYA / SEKEDAR saja. Baca lebih lanjut

Iklan


13 Komentar

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 😦

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 


9 Komentar

Tulisan : warisan yang tak lekang oleh waktu

Seperti teman-teman ketahui, beberapa waktu lalu aku menuliskan petikan-petikan tulisan dari alm. Mbah Kakung Kasijo -bapaknya ibu- yang beliau tulis di tahun 1935 yang menceritakan tentang masa kecil hingga masa tugas beliau sebagai guru.

Sengaja tulisan-tulisan itu kutayangkan di sini agar mudah link nya kubagi lewat status FB ku  dengan tujuan mudah dibaca anggota keluarga kami yang saat ini tersebar di 4 Kota : Jogja, Semarang, Pekalongan dan Brebes (karena para ponakan itu masih asyik masyuk dg FB dan belum ada yg mau melirik Blog… hiks… ).

Tak disangka, ada banyak tanggapan positif dari teman-teman yang membaca kutipan-kutipan itu -baik di FB maupun di Blog ini- dan rata-rata menyatakan apresiasinya serta tak sedikit pula yang menyarankan agar tulisan itu dibukukan. Baca lebih lanjut


7 Komentar

Wira-wiri

Mbengi iki aku wis ana nang Jogja maneh, sakwise limang ndina wingi  bali nang kuthaku.  Pancen ‘diklat’ sing tak lakoni mulai tanggal 27 Pebruari  nganti suk tanggal 25 Juni iku, jadwale ora pada karo diklat-diklat sakjenis sing wis dianakne sakdurunge.  Jenenge diklat iki ditambahi tembung ‘Pola Anyar’ ateges ora pada karo sing uwis-uwis.

Sing jelas beda karo ‘pola lawas’, yaiku ing pembagian wektune. Yen diklat ngene iki wingi-wingi wektune 3 wulan dur dilakoni ana ing Balai Diklat, saiki ora ngono.  Wektu 4 sasi iku kegiatane dibagi ana ing Balai Diklat lan ana ing kantore dewe-dewe : 9 dina pisanan nang Diklat (piwulangan), 5 dina sakteruse nang kantor (golek data lan nemtoake owah-owahan sing arep dilakoni), 17 dina teruse nang Diklat maneh (sinau maneh), banjur 2 sasi nang kantor (praktek, nglakoni owah-owahan sing wis dirancang) lan terakhir nang diklat maneh (evaluasi / ujian pungkasan ) nganti penutupan.  Lha.. rak kuwi jenenge wira-wiri yo? (eh.. sing bener ki wira-wiri  utawa riwa-riwi yo?..hehe..). Baca lebih lanjut


21 Komentar

Miksi kuwi numani…

Alhamdulillah….  

Aku bungah, soale pirang-pirang dina kepungkur iki, tambah akeh kanca-kanca kang nggawe tulisan  fiksi, mbuh kuwi crita cekak, apa crita super cekak – sing jare basa mancane flash fiction iku lho…  

Ana Mbak Monda sing crita tentang kacamata silihan, Mbak Irma sing crita bab donya kang beda, lan nembe wingi Mbak Ely uga nulis crita super cekak tentang si pleboi cap krupuk ( sst… ana candhake lho…)  lan isih akeh kanca liyane 🙂

Yo mesti wae aku bungah, soale aku ki pancen karem banget maca crita-crita, dadi yen tambah akeh kanca sing gawe tulisan crita fiksi ngono kui, rak berarti wacananku tambah akeh to? asyiiik…

Oya, nek miturut pengalamanku dewe, nulis crita fiksi alias miksi ki numani lho… dadi, gedhe pangarep-arepku, kanca-kanca kuwi yo banjur numan nulis crita ben tambah akeh sing bisa diwaca bareng-bareng.. rak gayeng to?

Mangga lho..kanca-kanca… sinten malih sing badhe miksi ? Kula tengga nggih….

Terjemahan :

Alhamdulillah…

Aku bahagia, karena beberapa hari terakhir ini semakin banyak teman-teman yang membuat tulisan fiksi, entah itu berupa Cerita Pendek ataupun Cerita super pendek – yang sering disebut dengan bahasa seberang flash fiction itu lho..

Ada Mbak Monda yang bercerita tentang kacamata pinjamanada Mbak Irma yang bercerita tentang dunia yang berbeda, dan kemarin ini Mbak Ely menulis cerita tentang Si Pleboi Cap Kerupuk  (sst…. akan ada lanjutannya lhoo), juga tentunya masih ada beberapa teman lainnya… 🙂

Ya, tentu saja aku bahagia, karena aku kan paling suka membaca aneka cerita, jadi dengan semakin banyaknya teman yang menulis fiksi , berarti persediaan bacaanku semakin banyak.. Asyiik…

Oya, berdasarkan pengalaman pribadi, menulis cerita fiksi alias miksi itu bisa bikin ketagihan lho… jadi aku sangat berharap teman-teman itupun akan merasakan menulis fiksi sebagai candu agar semakin banyak cerita yang ditulis dan semakin banyak yang dapat kita nikmati bersama-sama.  Menyenangkan, bukan ?

Silahkan teman-teman… siapa lagi yang mau miksi ? Tak tunggu yaa….


20 Komentar

Jarak antara menanam dan memanen..

” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen,inallah maa shabirin..”

***

Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ :  semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.

Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yg seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan …  Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yg dikeluarkan dan besarnya hasil yg didapatkan…tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.

Ada jarak antara menanam dan memanen.  Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar, dan harus dilakukan dengan benar.  Bila cara menanam salah..belum tentu kau akan panen sesuai harapan…  Nikmati prosesnya.. cermati tahapan-tahapannya, mungkin dengan demikian kau bahkan akan melihat satu dua hal yang dapat diperbaiki sehingga akan meningkatkan kualitas hasil akhirnya…

Ah, itu hanya sebuah status pendek memang, namun bagiku bisa membawa ke pemikiran yang panjang… Bagaimana pendapatmu, teman?


14 Komentar

Bahasa menunjukkan bangsa

Di masa sekolah dulu, kita diajarkan beragam peribahasa, dan satu diantaranya adalah peribahasa “ Bahasa menunjukkan bangsa” yang menurut wikipedia mempunyai arti : “Baik buruk adat kelakuan orang menunjukkan tinggi rendah keturunannya (asal usulnya).”

Ulasan lain menyebutkan bahwa peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” itu merujuk kepada cara bicara dan isi pembicaraan orang “berbangsa” yang berlainan dengan cara bicara dan isi pembicaraan orang kebanyakan. Artinya, dengan mendengar dan cara seseorang bicara, kita bisa mengetahui apakah dia orang berbangsa atau hanya orang kebanyakan.

Lebih lanjut Ajip Rosidi -budayawan- dalam tulisannya di Pikiran Rakyat 10 April 2010 mengulas bahwa pemakaian bahasa tidak sekadar mempergunakan kata-kata yang jelas artinya, yaitu dapat dimengerti oleh orang diajak bicara, melainkan juga belajar mempergunakan kata-kata sesuai dengan situasi dan dengan kesopanan masyarakat tempatnya bicara. Dalam situasi tertentu ada kata-kata yang tak patut diucapkan, walaupun arti kata tersebut sesuai dengan maksud si pembicara. Di kalangan tertentu ada kata-kata yang tabu diucapkan walaupun kita anggap kata itulah yang paling tepat untuk menyampaikan maksud kita.

Aku pribadi memilih mengartikan peribahasa itu sebagai tuturkata ataupun cara berbahasa kita -baik itu lisan maupun tulisan- mencerminkan kepribadian / apa & bagaimana diri kita.

Eh, kenapa pula tiba2 bicara tentang peribahasa itu? Tak lain dan tak bukan karena pagi tadi aku terusik membaca status salah seorang keponakan -masih SMP- yang berapi-api mengomentari psywar suporter bola malaysia.  Bukan emosi yang terungkap nyata disana yg membuatku terusik, karena maklum saja…para ABG itu hampir selalu ‘meledak-ledak’ dalam mengungkapkan pendapatnya, hehe…

Yang mengusik hatiku adalah cara pengungkapan pendapatnya.  Dalam tulisan di status itu, terselip beberapa kata makian yang sangat tak pantas.  Dan status lebay itu mendapat beberapa jempol dari teman-temannya! 😦

 ” Not like this! kata2mu menggambarkan siapa dirimu, jadi berhati-hatilah berkata-kata..! “

Akhirnya sederet kata itu pun kutuliskan untuk menegurnya.  Mengingat anak remaja biasanya akan sakit hati bila ditegur keras di depan teman-temannya, maka kurasa kata-kata itu cukuplah untuk mengingatkan dia bagaimana seharusnya menuangkan pendapat / opininya dengan tidak mengabaikan norma-norma yang ada.

Alhamdulillah dia dapat menerima teguran itu dengan cukup baik dan menyatakan akan menghapus status yang ditulis teman di wallnya itu.  Sudah waktunya mereka (dan juga kita semua) menyadari bahwa tak hanya lidah yang perlu dijaga agar tak berkata sembarangan, namun juga hasil ketikan jari-jemari perlu juga dicermati agar tak melukai hati orang lain atau bahkan mempermalukan diri sendiri…