Lalang Ungu

ruang ekspresi sepotong hati


16 Komentar

Guru-guru istimewaku

Guru adalah orang-orang yang mempunyai andil besar dalam kesuksesan kita. Kita pasti sepakat dengan hal ini. Ya, guru kita merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup kita.

Hari ini, 25 Nopember adalah Hari Guru Nasional. Selamat kepada semua Bapak-Ibu Guru, dan terima kasih tak terhingga khususnya bagi semua guru-guruku. Di hari istimewa ini, izinkan aku untuk mengenang kembali guru-guru istimewaku. Baca lebih lanjut


23 Komentar

Bertemu kembali dengan Sawo Ijo, si manis lembut penuh kenangan…

Akhir pekan yang lalu, kami berkesempatan mendampingi adik-adik fasilitator pemberdayaan yang mengikuti pelatihan di Baturraden. Ya, sebuah tempat wisata alam yang berhawa sejuk di Kab. Banyumas itu…

Saat beristirahat diantara 2 sessi materi pelatihan, kami duduk-duduk di teras Aula Hotel Moroseneng itu, dan tiba-tiba perhatianku tertambat pada sebuah pohon rimbun di sebelah Aula Bakula itu.

Pohon Sawo Ijo Baca lebih lanjut


12 Komentar

Balon Raksasa & Lopis Ageng ciri Syawalan di Kota Pekalongan

Lebaran telah berlalu, bulan Syawal telah memasuki pekan ke-2.  Namun kemeriahan belum lagi usai, di beberapa daerah, bahkan acara Syawalan ataupun bada kupat  tak kalah meriah sebagai rangkaian perayaan Lebaran itu sendiri.

Salah satu daerah yang merayakan momen Syawalan dengan meriah adalah di Pekalongan, baik di Kota maupun Kabupaten Pekalongan.

Jumat pagi tanggal 8 Syawal 1436 H atau 24 Juli 2015 yang lalu, terasa benar kemeriahan perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.  Sejak sekitar jam 6 pagi, suara-suara petasan besar terdengar bersahut-sahutan, namun arahnya dari atas. Ya, pagi itu banyak warga yang keluar rumah dan mendongakkan kepalanya menikmati balon-balon raksasa yang bertebangan di langit Pekalongan, dan sesekali mengeluarkan suara menggelegar ketika petasan yang dibawa balon-balon itu meletus di atas.

Balon raksasa menari-nari di langit Kota Pekalongan

Balon raksasa menari-nari di langit Kota Pekalongan

Baca lebih lanjut


9 Komentar

Sandangan kuwalik arep entuk rejeki (?)

” Nganggo sandangan kuwalik iku arep entuk rejeki”

Kanca-kanca, mestine akeh sing wis nate krungu ujaran lawas iku… Nanging, sapa sing wis nate mbukteake?

Ana sing tau nganggo sandangan (klambi / rok / kathok) kuwalik nanging ora krasa, lan nembe nglegewa sakwise sauntara wektu?

Sempat-sempate dipotret..hehe...

Kuwalik njaba njerone…

Hehe.., aku yo tau lho…  Nembe wingi-wingi wae, durung pati suwe, dadi yo isih jelas kelingan piye rasane nang ati : Mak tratab… gugup…isin…lsp. Baca lebih lanjut


11 Komentar

Ketika ‘sungai-sungai dadakan’ muncul lagi…

Hujan yang turun cukup deras di kota kami sejak sebelum subuh tadi, membuatku sempat was-was ketika bangun tidur. Langsung melongok ke halaman depan…. dan benar saja : kembali jalan di depan rumah telah berubah menjadi ‘sungai dadakan’ seperti kemarin dulu 😦

Sungai dadakan di depan & samping rumah kami

Sungai dadakan di depan & samping rumah kami

Jadilah perjalanan ke kantor pagi tadi kembali kutempuh dengan bantuan Pak Becak yang mangkal di prapatan sebelah rumah, dan sepanjang perjalanan ke kantor itu, iseng-iseng aku sempat memotret kondisi sepanjang jalan dari depan rumah hingga ke kantor yang sudah berubah lagi menjadi sungai kecil…

Pantauan dari atas becak...hehe...

Pantauan dari atas becak…hehe…

Kondisi depan kantor kami (Jl Sriwijaya)

Kondisi depan kantor kami (Jl Sriwijaya)

Rupanya pagi tadi tak hanya wilayah Pekalongan bagian utara (daerah pantai) yang kembali terendam, namun juga daerah-daerah lainnya secara cukup merata.  Walhasil banyak warga yang kembali mengungsi di beberapa pos pengungsian dan dapur-dapur umum kembali di buka, antara lain dapur umum Sekretariat Pemkot Pekalongan bekerjasama dengan Kodim 0710 Pekalongan.

Kebetulan lokasi dapur umum di kantor Kodim 0710 itu di seberang kantor kami, sehingga cukup dekat untuk mengangkut peralatan masak dan kamipun tinggal menyeberang jalan untuk bergabung di sana.  Sekitar pukul 9 pagi aku mulai bergabung di sana bersama teman-teman lainnya.

Aku masak? tentu tidaaak… hehe…  Maklum, aku kan gak pinter masak, apalagi masak untuk orang buanyaaak begitu, maka akupun membantu sesuai kemampuanku saja, yaitu membungkus hasil masakan bapak-bapak dari Kodim itu..hehe…

Eh, ternyata membungkus nasi + lauk-pauknya itu tidak mudah lhoo… Apalagi buat kami yang tak biasa.  Tapi tak apa, bisa langsung dipelajari di situ trik-trik membungkus dengan (cukup) rapi dan cepat.  Ya, harus cepat karena nasi bungkus itu sudah ditunggu di pos-pos pengungsian.

Hiruk pikuk di dapur umum

Hiruk pikuk di dapur umum

Masak nasi pakai dandang besar...dan ngambilnya dengan...sekop! hehe... (sekop khusus nasi lho..)

Masak nasi pakai dandang besar…dan ngambilnya dengan…sekop! hehe… (sekop khusus nasi lho..)

Syukurlah, acara bungkus-membungkus itu berjalan dengan lancar dan sampai sore menjelang maghrib tadi sekitar 1000-an nasi bungkus sudah dapat terdistribusi kepada pos pengungsian yang dituju.  Mudah-mudahan bermanfaat bagi saudara-saudara kami yang sedang mendapat musibah itu…

Nasi bungkus siap didistribusikan...

Nasi bungkus siap didistribusikan…

Nah, itu ceritaku hari ini.  Pulang dari dapur umum sore tadi, alhamdulillah sungai dadakan di sekitar perumahan kami sudah berangsur menghilang, menampakkan kembali ruas jalan yang berlobang-lobang akibat seringkali tergenang & tergerus air.  Semoga saudara-saudara kami di bagian lain Kota Pekalongan juga sudah dapat bernafas lega karena banjir sudah surut…

 Bagaimana di kotamu, teman? mudah-mudahan tidak banjir juga yaa…


17 Komentar

Januari

Hujan turun hampir tiap hari: pagi, sore hingga malam, begitu pula pada hari Kamis, 16 Januari 2014 lalu. Walhasil keesokan paginya -Jum’at 17 Januari 2014 – ketika aku melongok ke luar rumah terlihat jalan di depan rumah sudah ‘disulap’ menjadi ‘sungai’ kecil nan panjaaaang… 😦

Waduuh! bagaimana caraku pergi ke kantor? Maklum, motor yang dipinjamkan padaku sudah lumayan berumur (hehe) dan sangat mengkhawatirkan bila harus melalui ‘sungai’ yang baru terbentuk itu.  Kalau memaksa mengendarainya, bisa-bisa aku harus melakukan olah raga ‘dorong montor’ di pagi itu! hehe…

Sambil menyiapkan sarapan, kudengar adik-adikku wira-wiri ke halaman, sibuk nge-cek ketinggian air yang semakin merambat naik  seiring dengan hujan yang masih saja deras di pagi itu.  Alhamdulillah, air hanya sampai di batas halaman, kecuali bila ada kendaraan lewat maka barulah air itu bagai ombak menepi di tepi pantai….datang memesrai halaman rumah kami… *halah, bahasane rek..hehe…

Beberapa ruas jalan yang berubah menjadi sungai... (Foto minjam dr Diajeng Cii Yuniaty)

Beberapa ruas jalan yang berubah menjadi sungai… (Foto minjam dr Diajeng Cii Yuniaty)

Kemudian akupun bergabung dengan adikku di teras rumah kami, sambil berbagi informasi dengan para bapak tetangga kami yang juga krubyukan sambil berpayung-ria, asyik  memantau perkembangan limpahan air di lingkungan rumah kami.  Eh, kapan lagi lihat pemandangan para bapak ngerumpi di bawah payung warna-warni? 😀

'Sungai dadakan' di depan & samping rumah

‘Sungai dadakan’ di depan & samping rumah

Lalu ketika melihat diantara mereka ada pak becak yang biasa mangkal di perempatan itu, kamipun bertanya apa ia bisa mengantarku ke kantor.  Ternyata beberapa SD diliburkan pagi itu, hingga si bapak tak harus mengantar anak-anak ke sekolah dan free untuk  mengantarku ke kantor. Alhamdulillah…, masalah akomodasi ke kantor beres. Horee… 🙂

Maka akupun bergegas bersiap ke kantor,lalu dengan diantar oleh Pak Becak yang baik hati itu, menyusuri ‘sungai’ baru sepanjang depan rumah sampai ke kantor.. eh, serasa yuyu kangkang saja..haha…  Sampai dikantor baru aku sadar sudah salah kostum, ketika melihat teman2 berseragam Kopri sementra aku berbatik biasa… alamaaak, fokus ke masalah akomodasi jadi lalai dengan tanggal 17.. hehehe…

Seharian itu hujan setia menemani, hingga saat ku pulang kantor (masih menyusuri jalan yang berganti wajah jadi sungai), bahkan sampai sore hari ketika aku dijemput travel untuk ke Semarang.

Begitupun pagi ini, aku menikmati pagi di rumah masa kecil kami, masih ditemani rinai hujan yang enggan berhenti.  Untung ada teh hangat, teman terbaik ketika menikmati tarian air hujan yang memandikan tanaman dan halaman…. Eh, jadi ingat, aku belum berhasil memotret hujan dengan indah…  adakah teman yang tahu tips memotret air hujan? bagi-bagi di sini yaa…. *ngarep 🙂

Ya sudahlaah…, namanya juga JANUARIsaat hujan bersenang-senang turun (hampir) setiap hari… dinikmati saja, bukan? Semoga barokah… Oya, bagi teman yang sedang terkena musibah banjir semoga sabar yaa… insya Allah ada hikmah dibalik musibah…

Selamat akhir pekan, teman….  Eh, adakah  cara khususmu menikmati hujan, teman?

#Makasih Diajeng Cii’ Yuniaty untuk pinjaman fotonya 🙂


8 Komentar

Topengnya Ragil

Masih cerita tentang aksi ragilnya mbakku.

Suatu sore, Yangti sedang menyiram tanaman di pekarangan, ketika ada seorang tamu yang menanyakan Si Ragil. Yangti pun kemudian menemani ragil menerima tamu itu, yang ternyata seorang kurir pengantar barang pesanan ragil yang dibelinya secara onlen.  Si mas kurir itu sempat kaget ketika yang tahu yang memesan barangnya seorang anak SD bertubuh mungil.  Oya, barang apakah itu?

Ternyata sebuah topeng.

Yangti sempat agak marah ketika tahu harga topeng itu, merasa eman uang sejumlah itu untuk membeli barang yang -menurut Yangti- kurang berharga.  Sedangkan ragil dengan percaya dirinya bertahan bahwa  itu karya seni yang bagus. Lagi pula ia merasa tak bersalah karena membeli barang itu dengan uang tabungannya sendiri.  Akhirnya Yangti pun mengalah, meskipun masih merasa tak mengerti indahnya topeng itu..hehe…

Beberapa hari kemudian, si Ragil tiba-tiba keluar rumah setelah mendapat telepon.  Ketika pulang, ia menenteng sebuah bungkusan yang ternyata berisi topeng yang hampir sama dengan yang pertama.  Lho… apa dia beli lagi? kenapa nggak diantar ke rumah seperti kemarin?

Ternyata betul, ia memang memesan topeng lagi, dan kurir itu minta ketemu di luar rumah karena ‘takut’ dimarahi Eyang lagi… haha…. ada-ada saja si mas itu..padahal kan Yangti juga gak marah-marah sama dia waktu itu…

Sebelum si Eyang marah lagi karena dia membeli barang yang sama, si Ragil menjelaskan kepada Eyang bahwa itu bukan untuk disimpannya.  Itu pesanan seorang temannya yang tertarik melihat topengnya kemarin, sehingga minta dibelikan. Dan jiwa bisnis si Ragil mulai tumbuh rupanya, karena ia sudah menaikkan sedikit harga topeng itu…

“Berapa keuntungannya, De’?” tanya Yangti.

Diapun senyum-senyum saja… “Lumayan, Yang… Bisa buat beli pulsa…” begitu jawabnya enteng kepada Eyang.

Yangti pun urung marah, berganti menjadi geli karena ternyata cucu ragilnya  menuruni bakat dagangnya, hehe…

Suatu pagi, mobil keluarga mogok lagi.  Ini sudah yang kesekian kali.  Lalu si Sulung tiba-tiba nyeletuk, “Yah, ati-ati lho… Jangan-jangan, besuk-besuk ada yang datang karena mobil tua itu diiklankan Ragil di Toko Begus…”

Semua tertawa… tapi…. siapa tahu juga ya? 😀

Ini dia pose Si Ragil dengan topeng barunya…